Budaya mencontek

Oleh : Wahyu Jatmiko
Ketua Umum Kesatuan Pelajar Muslim Depok –KPMD-

“Sesungguhnya islam terlihat karena umatnya, umatnya terlihat karena pemudanya, pemudanya terlihat karena kebaikan akhlak dan aqidahnya”

Mungkin air mata mengalir mewarnai kekecewaan para pendahulu kita bila melihat keadaan para pemuda pada hari ini. Begitu besar harapan mereka terhadap kita, namun begitu mudahnya kita berbelok dari jalan lurus yang telah Allah SWT gariskan. Sungguh islam terlihat karena pemudanya, dan pemudanya akan terlihat karena akhlaknya. Ketika Aqidah, sikap, perilaku yang ditampilkan oleh para pemuda islam baik, maka akan baiklah islam. Namun sebaliknya, bila pemudanya tidak baik maka kehancuran dekat dengan agama yang diridhoi Allah ini. Betapa sedihnya kita menyaksikan kini, pemuda yang seharusnya menjadi sosok sentral dalam perjuangan islam justru terjerat oleh perhiasan – perhiasan dunia yang menipu. Sering mengorbankan akhiratnya yang begitu indah, untuk mendapatkan keindahan dunia yang fana dan menipu. Tidak sadarkah kita izzah (kemuliaan) islam berada dipundak kita.

Dalam tatanan kehidupan pendidikan, begitu miris hati ini melihat betapa telah umumnya kegiatan contek – mencontek antar pelajar di sekolah atau. Seakan itu adalah hal yang sangat membanggakan. Perasaan bangga seakan ditampilkan ketika dapat mengelabuhi guru atau pengawas ujian sehingga ia dapat mencontek pekerjaan teman. Dan yang menyedihkan lagi pihak yang dicontek dengan begitu ‘Ikhlasnya’ memberikan jawaban kepada temannya. Entah karena memang ia juga mendapatkn jawabannya dari mencontek jua sehingga timbul rasa untuk berbagi, atau karena memang ia adalah orang yang sangat dermawan, sehingga ia dengan begitu mudah mendermakan jawaban yang susah – susah ia dapatkan dari hasil belajar sebelumnya. Sangat membingungkan. Ada apa ini?

Belum cukup, terkadang bahkan ada ‘pendidikan khusus’ dari guru di lingkungan pendidikan kita tentang bagaimana cara mencontek yang baik dan benar. Heran? Sosok yang seharusnya menjadi teladan bagi anak didiknya, dengan entengnya mengajarkan pada anak didiknya untuk mendustai Allah dan orang tuanya dengan mencontek. “tidak masalah mencontek, asal tidak ketahuan”. Tidak sadarkah bahwa Allah Maha melihat? Dengan alasan apapun temasuk meluluskan sang murid dari jeratan Ujian Nasional sekalipun, mencontek tetaplah haram dan tidak akan pernah menjadi halal. Kini lengkaplah sudah komponen pendukung pendustaan besar-besaran terhadap Allah dan juga orang tua yang telah mempercayai anaknya untuk dapat meperoleh ‘pendidikan’ (tarbiyah) yang baik dan benar.

Mencontek telah menjadi budaya dalam pendidikan di Negara Indonesia yang kita cintai ini. Asing bagi sebagian pelajar melihat pelajar lainnya yang dengan ideologi mantapnya mempertahankan izzah dirinya dihadapan Allah dan orang lain. Seakan – akan yang benar itu adalah orang yang mencontek dan yang salah adalah orang yang tidak mencontek. Walaupun terlihat sepele, mencontek adalah masalah serius bagi generasi muda terpelajar bangsa ini. Mungkin banyaknya ketidakjujuran dikomponen negeri ini yakni pemerintahan dalam bentuk korupsi, kolusi maupun nepotisme adalah produk yang yang dihasilkan dari pendidikan yang tidak jujur tersebut.

Benahi dari yang kecil, benahi dari diri sendiri dan dari saat ini. Adalah selogan indah yang harus terus kita hujamkan dalam dada kita. Bawa semangat perubahan ke sesuatu yang lebih baik. Kita adalah pemuda yang begitu besar harapan islam dipundak kita. Kemana iman kita saat indra kita tergerak untuk mencontek? Dimana kita posisikan Allah SWT? Bukankah Allah Maha Melihat? Bukankah Allah Maha Mengetahui setiap gerak-gerik setiap hambanya?

Saudara – saudaraku yang dicintai Allah, sungguh celaka bila kita menggadaikan keislaman dan keimanan kita hanya untuk nilai yang tak seberapa. Carilah ilmu, bukan nilai. Allah memuliakan beberapa derajat orang yang beriman dan berilmu, bukan bernilai. Jadilah pemuda Rabbani, yang senantiasa hatinya terkait dengan Allah SWT. Pemuda yang dapat dibanggakan oleh islam. Jadilah seorang Usamah bin Zaid yang diberikan amanah untuk menjadi panglima perang termuda. 18 tahun umurnya saat memipin pasukan kaum muslimin menghadapi Romawi. Begitu banyak dari golongan tua yang ia pimpin. Termasuk Umar Ibn Khatab yang berada dibarisan prajurit perang dibawah pimpinan Usamah bin Zaid. Usamah sukses memenangkan pertempuran, membawa harta rampasan perang yang cukup banyak, dan tanpa ada korban dari pasukan kaum muslimin.

Jadilah generasi yang ‘asing’. ‘Berani tampil beda’. Disaat teman – teman kita yang lain mencontek jangan ikuti, berilah contoh yang baik. Implementasikanlah islam dalam setiap amalan kita. Mulailah membangun pribadi yang dicintai Allah, Rasul-Nya, dan Orang tua kita. Dimulai dari hal yang kecil namun memiliki arti yang besar. Tidak mencontek. Dari saat ini. Dan dari diri kita sendiri. Saat kita tidak mencontek dan tidak pula memberikan contekan yang pada hakikatnya adalah bentuk pemfasilitasan terhadap percontekan, maka katakanalah, “Saksikanlah aku adalah pemuda islam, dan sambutlah kejayaan islam atasku” maka banggalah kita didunia dan diakhirat kelak. Wallahu’alam.

About these ads
Categories: catatan sikap yang seharusnya | Tags: | 2 Komentar

Post navigation

2 thoughts on “Budaya mencontek

  1. salam bloger :)

silakan tuliskan komentar pada kolom dibawah ini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 35 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: