Perjalanan Sederhana Yang Mencerahkan Pikiran

source picture by www.krl.co.id


Siang itu Alhamdulillah kereta commuterline tujuan st. Manggarai cukup lengang, sedikit penumpang yang berada di dalamnya, saya pun berkesempatan untuk duduk bersama teman sambil menikmati perjalanan. Tujuan kami berpergian kala itu tak lain ialah sedikit mengurangi rasa penat sepulangnya dari kampus, saat itu setelah usai dari menunaikan shalat zuhur di mesjid kampus yang berlokasi di Depok maka bergegas berangkatlah kami. dari st. pondok cina.

Sebenarnya tujuan kami ialah ke st. Jakarta Kota, namun karena kereta commuterline yang kami tumpangi ingin mengarah ke wilayah Tanah Abang, maka kami pun harus transit alias pindah kereta di st. Manggarai beralih ke kereta tujuan Jakarta Kota.

Alhamdulillah banyak cerita menarik yang sebenarnya dapat saya ceritakan, mulai dari menikmati hidangan bakwan di pinggir peron st. Jakarta Kota. Sampai kemudian Lanjut membaca

Janji… Mengapa tak kau tepati?

sumber gambar : mylifemyproject.blogspot.com

Tidak sedikit dalam perjalanan hidup ini kita sering berinteraksi dengan sebuah kata sepakat yang sering kita sebut sebagai “Janji”. Dengan janji, hati kita akan merasa tenang karena dengan janji tersebut akan lahir sebuah kepastian dan jauh dari perasaan ketidakjelasan. Proses janji bukanlah sesuatu yang mudah, karena apabila seseorang telah berjanji, berarti dia telah mempunyai kewajiban untuk menepati janji tersebut.

Tapi kadang permasalah muncul ialah janji yang telah ditetapkan tak kunjung dapat di tepati, dan inilah yang kemudian menjadi sumber luapan emosi dalam diri kita. Seperti misalnya, janji untuk bertemu, janji untuk memberikan sesuatu, janji melaksanakan sesuatu, dsb.. Ketika dalam kenyataannya janji itu tidak sesuai dengan kesepakatan maka harus kita akui perasaan ini akan sedikit terluka, tetapi kita tidak boleh hanya terpaku pada pikiran-pikiran negatif. Janji-janji yang terlanggar tersebut mungkin akan lebih menenangkan diri kita jika kita melihatnya dari berbagai sudut pandang. Kita coba melihatnya dari sisi yang berbeda, sisi yang lebih positif tentunya. Dengan demikian, setidaknya rasa emosi yang meluap dalam diri kita dapat berkurang, sekaligus otak kita terhindar dari pikiran negatif yang macam-macam.

Pernah ada pengalaman pribadi, ketika saya dan satu teman saya ingin bertemu dosen pembimbing untuk menyerahkan final hasil penulisan illmiah (PI). Dalam kesepakatan antara saya dengan dosen pembimbing akan bertemu pukul 12 siang yang sebelumnya juga sudah ada janjian untuk bertemu dengan beliau diruangan kerja beliau, yang pasti masih dalam wilayah kampus. Seiring waktu berjalan, saya luangkan waktu untuk mengecek jam di handphone Lanjut membaca

Bersepeda di Sepanjang Kota Jakarta (1)

Minggu pagi saat itu terasa berbeda dari hari minggu biasanya. Dengan sebuah sepeda gunung ukuran dewasa saya berangkat dari rumah sebelum subuh guna mengikuti acara funbike gowes bareng yang diadakan kompas, 26 juni 2011. Sengaja saya berangkat sebelum subuh bahkan sebelum shalat subuh karena saya ingin mengejar kereta ekonomi tujuan jakarta yang pertama.

Saat itu sebelum saya menuju stasiun, saya menyempatkan menjemput saudara saya, fuji namanya, agar kita berangkat pergi ke Jakarta secara bersamaan, namun saat itu dia tidak ikut acara gowes bareng melainkan untuk pergi kerja. Dan alhadulillah suasa kereta ekonomi pagi saat itu tidaklah tertalu penuh, sehingga saya bisa memasukkan sepeda dengan cukup mudah.

Berangkat dari stasiun citayam skitar pukul 4.50 tujuan perhentian saya ialah di stasiun cawang, dan telah menjadi niat saya sedari awal jika sampai stasiun cawang masih terbilang gelap, maka saya akan mencari mushola untuk menunaikan shalat subuh, dan ternyata benar, saya tiba di cawang sekitar pukul 5.35 , saya pikir masih ada cukup waktu untuk sejenak menunaikan shalat shubuh.

Setelah usai shalat, saya bergegas melanjutkan perjalanan, mengingat tempat “start” acara gowes bareng ialah bertempat di depan halaman POLDA-jl.gatot subroto. Begitu saya keluar dari wilayah st. cawang. Dengan suasana pagi yang sangat segar, dengan cahaya fajar menyingsing, terlihat cukup banyak para pesepeda yang lalu lalang, yang nampaknya mereka menuju tempat start yakni polda untuk mengikuti acara gowes bareng.

Dan saya pun tanpa menuggu lama, turut beriringan mengikuti sepeda2 lainnya menyisiri jalan Jend. Gatot Subroto. Wow.., sungguh asyiknya bersepeda dipagi hari, terlebih ketika matahari belum menampakkan cahayanya, sambil melihat lampu gedung-gedng tinggi di kota jakarta. Subhanallah. bersambung…

Ketika Hati Telah Menjadi Gersang

Menapaki kehidupan memang selalu ditemani dengan berbagai perasaan, kadang senang dan kadang pula merasa sedih. Karena memang sudah tabiat kehidupan manusia untuk merasakan semuanya itu didunia, susah atau senang, atau diibaratkan tak bedanya warna kotak papan catur, hitam atau putih, tinggal kita yang ingin memilihnya, mau berada dijalur yang putih atau sebaliknya merelakan kehidupan dijalur yang hitam kelam.

Dalam diri manusia terdapat bagian yang mempunyai peranan yang sangat penting yang akan memberi arah kepada manusia tersebut untuk sekiranya bagaimana bersikap, ia adalah “Hati”. Bicara hati memang tak akan ada habis-habisnya, dan baginda Nabi Muhammad Saw pun pernah bersabda mengenai hati, “ ….Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati “.(Riwayat Bukhori dan Muslim) , bahkan dalam karya Al-imam Ibnu Qoyyim, dikatakan bahwa hati itu diumpamakan seperti bumi, jika dia tak pernah disirami atau dihujani dengan rahmat Allah SWT, ia akan cenderung mengering yang lama kelamaan akan menjadi gersang, ketika bumi itu sudah menjadi gersang yang tidak pernah mendapatkan air maka lambat laun jelas akan mengering daun-daunnya, layu dahannya, dan menjadi kering ranting-rantingnya. Akhirnya nilai dari pepohonan tersebut hanya untuk ditebangi dan cukuplah untuk djadikan kayu bakar yang kemudian menghasilkan nyala api yang begitu membara, jika kita kaitkan dalam realita kehidupan manusia, nyatanya memang benar nantinya hati yang gersang itu berdampak pada semakin membaranya nyala Nafsu dan Syahwat dan ujung-ujungnya manusia tersebut semakin diperbudak oleh nafsu dunia.

Dikatakan pula bahwa “shalat” menjadi salah satu sebab turunnya hujanan rahmat Allah SWT, dalam shalat jiwa  manusia akan menghadapkan muka hatinya hanya kepada Rabbnya, dengan melupakan sejenak urusan duniawi dan sebagai sarana istirahat atas segenap aktivitas dunia. Shalat  merupakan komunikasi langsung antara seoang hamba dengan Tuhannya sekaligus perjumpaan seseorang hamba dengan kekasihnya (Allah Swt.) paling tidak lima kali dalam sehari, yaitu shalat lima waktu. Dengan shalat jiwa manusia dapat mengadukan segala permasalahan, mengeluh, memohon ampun, memohon perlindungan, dan memohon semua hajat yang kita miliki. Dan Allah pasti akan mendengarkan dan menjawab segala keluh kesah hamba-Nya. Karenanya dengan shalat pula mata menjadi sejuk, hati menjadi lega, dan jiwa mendapatkan rasa aman, dan tentam. Shalat menjadi bukan lagi sebagai kewajiban yang dibebankan bagi kita namun menjadi kebutuhan diri kita yang senantiasa harus dipenuhi.

Untuk itu adalah sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk terus berusaha untuk mendapatkan hujanan rahmat Allah SWT salah satunya dengan shalat , agar hati ini senantiasa sejuk, damai, menemukan ketentraman batin dan mampu memberikan arah ke jalan yang lurus, dan tercegah untuk memperturutkan Nafsu dan Syahwat yang mungkin membawa pada kehinaan dan kebinasaan.*

Wallahu a’lam

*pustaka Fahima, Rahasia Shalat-menyingkap makna dibalik gerakan.

kecerahan pagi yang mengundang tanya..

Minggu pagi, di hari ke tiga di tahun 2010, awan terlihat sedikit mendung namun masih terselip sinar-sinar matahari yang terasa sangat bersemangat untuk berbagi akan energi yang dimilikinya kepada segenap umat manusia. Pagi tadi sekitar jam lima diri ini baru pulang sehabis menginap di salah satu kontrakan milik teman, waktu itu kami laki-laki menginap disana berempat , dengan alasan turut meramaikan suasana kontrakan dikarenakan satu minggu lagi teman saya yang memiliki kontrakan tersebut akan berumah tangga, memulai kehidupan baru bersama seorang manusia dari kaum hawa yang diyakini dipilihnya. Ya benar… prosesi menikah atau kebanyakan orang menyebutnya dengan istilah  “kawin”… yang akan dilangsungkannya, ritual sakral yang menjadi hal terpenting dalam perjalanan hidup anak manusia.

Ialah Abdul Rahman, sahabat kecil terdekat yang pernah ada dalam kamus hidup ini, kini telah membuat keputusan penting dalam hidupnya untuk berumah tangga, padahal umurnya pun hingga kini dapat terbilang sama dengan saya, baru 19 tahun.. saya sadari dengan betul, bahwa kehadirannya diwaktu kecil sangat menghiasi warna-warni kehidupan saya, mulai dari karena saudara, tempat tinggalnya yang tepat percis di depan rumah kami, pergi sekolah (waktu itu SD) selalu berjalan berbareng bersama teman lainnya, bermain bola bersama diwaktu sore, dan masih banyak hal-hal lain yang mungkin tak saya sempat ceritakan panjang lebar disini namun tepat jumat depan akan melangsungkan ritual sakral sebagai gerbang dimulainya kehidupan baru.

Lantas ..? apa kaitannya dengan judul diatas…?  mungkin menjadi suatu dilema yang kini melekat dalam benak saya yang kemudian berimbas pada sebuah pertanyaan di pagi buta ini, sebuah pertanyaan yang dilontarkan hati kecil “bagaimana sekiranya perasaanmu nanti sebagai pemuda yang menghiasai masa mudanya tanpa sahabat muda yang dulunya pernah pernah menjadi sahabat kecil terbaik yang pernah ada??” – Sungguh…, bagi saya itu hanyalah ungkapan hati kecil semata, ungkapan dengan rasa keingintahuan yang begitu tinggi, ingin mengetahui apa sekiranya yang akan terjadi di waktu mendatang kemudian..

Walaupun nantinya ia sudah terikat sebagai seorang ayah, namun saya yakin sahabat tetaplah sahabat, perkawinan hanyalah alat untuk menggantikan status kehidupan berlandaskan hukum syariah  dan bukan alat untuk membentengi tali silaturahmi.. tetap berbagi, dan tetap mempererat kekeluargaan..

Mungkin saja kejadiaan ini sekiranya dapat menjadi hikmah bagi para pemuda khususnya, agar sekiranya dapat mengambil pelajaran sekaligus motivasi dikemudian hari untuk turut pula menemukan sang pendamping hidup terbaik yang bakal dipilihnya, pendamping yang benar-benar bisa mendampingi baik senang maupun susah.., menyusul si “rahman” dalam rangka menjalankan syariat agama (perkawinan) yang telah merupakan bagian penting tak terbantahkan yang harus dijalani anak Adam.

Citayam, 3 januari 2010

Gerimis Sore di Sebuah Stasiun

“Baik.. mungkin hari ini cukup sekian, selebihnya kita lanjutkan pada pertemuan berikutnya..” begitulah lisan yang terdengar sore itu. Lisan seorang dosen yang menyudahkan proses perkuliahan yang begitu padatnya di hari itu. Waktu telah menunjukan pukul 5 sore, sudah waktunya untuk bergegas pulang. Dalam perjalanan di sebuah angkot, tiba-tiba serentak tanpa permisi turunlah sebuah hujan yang menyirami daerah kelapa dua dan sekitarnya. Saya bersama beberapa teman dalam satu angkot tampak menikmati perjalanan, menelusuri jalan Margonda, walau harus memasang muka pucat karena mungkin terlalu letih dalam proses perkuliahan.

Tepat di depan gerbang pintu kampus Gunadarma Pondok Cina kami turun dari angkot untuk kemudian berjalan sedikit menuju Stasiun Pondok Cina. Setibanya distasiun, karcis kereta ekonomi menuju Citayam pun telah ada dalam genggaman, dan kini tinggal menunggu saja kereta tujuan Bogor yang akan berhenti. Masih bergerombol dengan teman, kami mencoba sedikit melatih kesabaran dengan menunggu kereta yang hendak berhenti, lama dinanti sudah setengah jam kami menunggu tapi kereta tak kunjung tiba, jarum pendek di tangan kiri ku sudah menunjukkan jam 6 kurang seperempat.

Akhirnya buah kesabaran pun seperti terbayar lunas ketika petugas stasium mengumumkan kereta ekonomi tujuan Bogor akan segera tiba, kami pun bersiap. Tapi…, apa boleh dikata rangkaian kereta ekonomi tujuan bogor itu hanya memiliki empat gerbong, padahal standarnya ialah 4 gerbong atau 2 set rangkaian, sangat di sayangkan. Adalah kenekatan jika saya dan teman-teman memaksa masuk ke dalam gerbong kereta itu mengingat keadaan di dalam pun sudah sangat sesak dan pengap. Bak lautan manusia yang sedang bersauna. Belum lagi pemandangan para anak muda yang baru pulang kerja atau mungkin pulang sekolah dari arah Kota, yang naik diatas gerbong kereta dan turut ikut berdesak-desakkan, padahal situasinya di atas gerbong…, tanpa atap, tanpa tepi, ya… tapi itulah namanya anak muda. Kami pun memutuskan untuk tidak menaiki kereta ekonomi tersebut dan memilih untuk menunggu rangkaian kereta ekonomi selanjutnya yang akan berhenti di Stasiun Poncin (singkatan Pondok Cina) ini.

Masih diiringi untaian gerimis yang teratur, berselang setengah jam kemudian barulah kereta ekonomi yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga , walaupun agak sedikit harus berdesakan, tapi setidaknya masih dapat menampung kami bergegas menuju stasiun yang ingin kami tuju. Kurang lebih pukul 7 kurang seperempat menit, gerimis pun sudah mereda, “Alhamdulillah” saya telah tepat berada di depan rumah. Perjalanan pulang dari kampus menuju rumah yang menjadi kegiatan rutin tak terbantahkan, yang mengisi sekaligus memberikan warna tersendiri bagi catatan perjalanan-perjalanan hidup saya selanjutnya, yang mungkin belum sempat untuk saya ceritakan.

Tak Perlulah Aku (harus) Keliling Dunia

Suatu kutipan kalimat yang mengingatkan saya pada sesosok bocah kecil bernama Ikal, dengan perannya yang cukup sentral dalam film berjudulkan Laskar Pelangi, bocah berasal dari salah satu kepulauan diantara beribu pulau di Indonesia dengan sumber daya alam yang cukup melimpah dengan timahnya, ialah kepulauan Bangka Belitung. Menarik memahami judul kalimat diatas yang seolah menggambarkan rasa syukur yang mendalam, dalam artiaan cukuplah kita bersyukur atas tempat kita berteduh kini, tanah air kita dengan segala kebudayaannya, kekayaannya sebagai anugrah tak tergantikan yang diberikan Sang Khaliq.

Terlepas dari itu, dilain pihak adalah cita-cita tersendiri bagi sebagian orang untuk berusaha sedapat mungkin mengelilingi atau setidaknya menjumpai beberapa tempat di dunia ini untuk sebatas menentramkan pikiran atau mungkin mengagumi kebesaran ciptaan Illahi. Tapi toh pada kenyataannya, dalam cerita Laskar Pelangi digambarkan bahwa si Ikal besar kini telah berhasil untuk setidaknya menapakkan kakinya di benua orang, benua Eropa, tepatnya negara Prancis, hasil jeri payah Ikal dalam menuntut ilmu sehingga kenyataanlah yang harus membawanya sampai berkelana ke negeri orang oleh karena beasiswa yang didapatnya guna melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Sungguh pelajaran yang mungkin cukup berharga untuk kita telaah lebih mendalam, bahwa memang pada dasarnya tak ada yang mustahil di dunia ini. selama Allah Sang khaliq masih berkehendak. Seperti contoh bocah kecil ikal yang mungkin dulunya, ia sendiri yang mengatakan tak perlulah aku keliling dunia, tapi apa boleh dikata, hasil perjuangannya justru mengantarkan ia menuju apa yang ia tak pernah cita-citakan sebelummnya. Berbeda halnya dengan lintang, sahabat dekat Ikal yang diceritakan dalam film Laskar Pelangi dengan semangat pantang menyerah, jiwa petarung, kecerdasaan menghitungnya yang sebenarnya di atas lebih tinggi dari pada Ikal, ketika beranjak dewasa ditakdirkan masih menetap di Kepulauan Belitung, bersama dengan adiknya, berlayar menjadi nelayan demi mneghidupi semua adik-adiknya semenjak keluarga mereka ditinggal ayah dan ibunya. Sangat tragis memang, tapi sekiranya dalam cerita yang uraikan dalam laskar pelangi ini, kita yakin semua ini pasti ada hikmahnya, semua ini tidak terlepas dari kebesaran Illahi yang Maha Mengatur makhluknya dengan sendirinya. “ketetapan taqdir yang memang tak satu manusia pun mengetahuinya”.


Citayam, 8 november 2009
Septian Prima Rusbariandi