Menapaki kehidupan memang selalu ditemani dengan berbagai perasaan, kadang senang dan kadang pula merasa sedih. Karena memang sudah tabiat kehidupan manusia untuk merasakan semuanya itu didunia, susah atau senang, atau diibaratkan tak bedanya warna kotak papan catur, hitam atau putih, tinggal kita yang ingin memilihnya, mau berada dijalur yang putih atau sebaliknya merelakan kehidupan dijalur yang hitam kelam.
Dalam diri manusia terdapat bagian yang mempunyai peranan yang sangat penting yang akan memberi arah kepada manusia tersebut untuk sekiranya bagaimana bersikap, ia adalah “Hati”. Bicara hati memang tak akan ada habis-habisnya, dan baginda Nabi Muhammad Saw pun pernah bersabda mengenai hati, “ ….Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati “.(Riwayat Bukhori dan Muslim) , bahkan dalam karya Al-imam Ibnu Qoyyim, dikatakan bahwa hati itu diumpamakan seperti bumi, jika dia tak pernah disirami atau dihujani dengan rahmat Allah SWT, ia akan cenderung mengering yang lama kelamaan akan menjadi gersang, ketika bumi itu sudah menjadi gersang yang tidak pernah mendapatkan air maka lambat laun jelas akan mengering daun-daunnya, layu dahannya, dan menjadi kering ranting-rantingnya. Akhirnya nilai dari pepohonan tersebut hanya untuk ditebangi dan cukuplah untuk djadikan kayu bakar yang kemudian menghasilkan nyala api yang begitu membara, jika kita kaitkan dalam realita kehidupan manusia, nyatanya memang benar nantinya hati yang gersang itu berdampak pada semakin membaranya nyala Nafsu dan Syahwat dan ujung-ujungnya manusia tersebut semakin diperbudak oleh nafsu dunia.
Dikatakan pula bahwa “shalat” menjadi salah satu sebab turunnya hujanan rahmat Allah SWT, dalam shalat jiwa manusia akan menghadapkan muka hatinya hanya kepada Rabbnya, dengan melupakan sejenak urusan duniawi dan sebagai sarana istirahat atas segenap aktivitas dunia. Shalat merupakan komunikasi langsung antara seoang hamba dengan Tuhannya sekaligus perjumpaan seseorang hamba dengan kekasihnya (Allah Swt.) paling tidak lima kali dalam sehari, yaitu shalat lima waktu. Dengan shalat jiwa manusia dapat mengadukan segala permasalahan, mengeluh, memohon ampun, memohon perlindungan, dan memohon semua hajat yang kita miliki. Dan Allah pasti akan mendengarkan dan menjawab segala keluh kesah hamba-Nya. Karenanya dengan shalat pula mata menjadi sejuk, hati menjadi lega, dan jiwa mendapatkan rasa aman, dan tentam. Shalat menjadi bukan lagi sebagai kewajiban yang dibebankan bagi kita namun menjadi kebutuhan diri kita yang senantiasa harus dipenuhi.
Untuk itu adalah sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk terus berusaha untuk mendapatkan hujanan rahmat Allah SWT salah satunya dengan shalat , agar hati ini senantiasa sejuk, damai, menemukan ketentraman batin dan mampu memberikan arah ke jalan yang lurus, dan tercegah untuk memperturutkan Nafsu dan Syahwat yang mungkin membawa pada kehinaan dan kebinasaan.*
Wallahu a’lam
*pustaka Fahima, Rahasia Shalat-menyingkap makna dibalik gerakan.