ekonomi – (ekonomi syariah)

tulisan tentang apapun yang berhubungan dengan ekonomi syariah

Sejenak Menelusuri Definisi Asuransi Syariah

Pernah kita membayangkan betapa tentramnya diri ini ketika berbagai resiko yang mungkin muncul dikemudian hari dapat terjamin hanya dengan suatu perjanjian yang telah disepakati sebelumnya. Kata sepakat yang diputuskan antar dua pihak atau lebih, dimana pihak  yang yang akan mendapatkan jaminan harus membayarkan sejumlah uang kepada pihak yang bertanggung jawab menjamin, walaupun resiko yang akan timbul lebih besar dari uang yang dibayarkan pihak peminta jaminan yang kemudian perjanjian itu lebih kita kenal dengan istilah Asuransi.

Perkembangan asuransi yang ditandai dengan munculnya badan usaha atau perusahaan-perusahaan asuransi di Indonesia sebenarnya sudah terlihat meranjak tumbuh ketika orde baru, banyak dari masyarakat kita waktu itu (masyarakat ekonomi menengah atau menengah keatas) untuk ikut berkecimpung dalam dunia perasuransian, namun peralihan masa orde baru ke era reformasi setelah krisis nampaknya harus membuat industri perasuransian mengendur seolah ditelan waktu. Kini seiring secara bertahap mulai stabilnya kondisi perekonomian Indonesia, asuransi kembali hadir, meramaikan peradaban perekonomian Indonesia.

Salah satu terobosan yang memberikan warna baru sekaligus energi baru bagi industri perasuransian di Indonesia ialah mulai bermunculannya kepermukaan asuransi syariah. Mungkin untuk asuransi (konvensional) rasanya sudah tak asing lagi, dan khusus dalam artikel ini kita akan memfokuskan untuk menelusuri dan mencari sedikit pengetahuan mengenai asuransi syariah.

Asuransi dalam bahasa Arab disebut At’ta’min yang berasal dari kata amanah yang berarti memberikan perlindungan, ketenangan, rasa aman serta bebas dari rasa takut. Istilah menta’minkan sesuatu berarti seseorang memberikan uang cicilan agar ia atau orang yang ditunjuk menjadi ahli warisnya mendapatkan ganti rugi atas hartanya yang hilang. Sedangkan pihak yang menjadi penanggung asuransi disebut mu’amin dan pihak yang menjadi tertanggung disebut mu’amman lahu atau musta’min.

Konsep asuransi Islam berasaskan konsep Takaful yang merupakan perpaduan rasa tanggung jawab dan persaudaraan antara peserta. Takaful berasal dari bahasa Arab yang berakar dari kata ”kafala yakfulu” yang artinya tolong menolong, memberi nafkah dan mengambil alih perkara seseorang. Takaful yang berarti saling menanggung/memikul resiko antar umat manusia merupakan dasar pijakan kegiatan manusia sebagai makhluk sosial. Saling pikul resiko inidilakukan atas dasar saling tolong menolong dalam kebaikan dengan cara, setiap orang mengeluarkan dana kebajikan (tabarru) yang ditujukan untuk menanggung resiko tersebut.

Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) pasal 246 dijelaskan bahwa yang dimaksud asuransi atau pertanggungan adalah “suatu perjanjian (timbal balik), dengan mana seorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung, dengan menerima suatu premi, untuk memberikan penggantian kepadanya, karena suatu kerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya, karena suatu peristiwa tak tentu (onzeker vooral).

Asuransi syari’ah berbeda dengan asuransi konvensional. Pada asuransi syari’ah setiap peserta sejak awal bermaksud saling menolong dan melindungi satu dengan yang lain dengan menyisihkan dananya sebagai iuran kebajikan yang disebut tabarru. Jadi sistem ini tidak menggunakan pengalihan resiko (risk tranfer) di mana tertanggung harus membayar premi, tetapi lebih merupakan pembagian resiko (risk sharing) di mana para peserta saling menanggung. Kedua, akad yang digunakan dalam asuransi syari’ah harus selaras dengan hukum Islam (syari’ah), artinya akad yang dilakukan harus terhindar dari riba, gharar (ketidak jelasan dana), dan maisir (gambling), di samping itu investasi dana harus pada obyek yang halal-thoyyibah.

Di Indonesia asuransi syariah seolah memberikan titik terang bagi masyarakat muslim khususnya untuk terjun dalam kegiatan-kegiatan perekonomian yang halal nan barokah. Solusi yang ditawarkan sistem asuransi syariah sangat menggiurkan masyarakat untuk terlibat didalamnya dikarenakan prinsip saling tolong-menolong didalamnya. Selebihnya , sekecil apapun upaya pengembangan industri syariah di negeri ini patut kita berikan dukungan penuh kedepannya demi terwujudnya karakter pribadi  masyarakat yang menjalankan perekonomian berlandaskan prinsip syariah.

Referensi :

http://diah_aryati.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/9026/ASURANSI+SYARIAH.doc

http://agustianto.niriah.com/2008/04/27/asuransi-syariah-1/

Gambar: http://mahriza.files.wordpress.com/

 

Disusun oleh :

Septian Prima Rusbariandi

Citayam, 26 februari 2010

*Tugas BLK 2

Categories: ekonomi - (ekonomi syariah) | Tags: | 1 Komentar

Obligasi Syariah

Dalam perdagangan obligasi syariah tidak boleh diterapkan harga diskon atau harga premium yang lazim dilakukan oleh obligasi konvensional. Prinsip transaksi obligasi syariah adalah transfer service atau pengalihan piutang dengan tanggungan bagi hasil, sehingga jual beli obligasi syariah hanya boleh pada harga nominal pelunasan jatuh tempo obligasi.

Merujuk pada fatwa Dewan Syariah Nasional – Majlis Ulama Indonesia, Obligasi Syariah adalah suatu surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan Emiten kepada pemegang Obligasi Syariah yang mewajibkan Emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang obligasi syariah berupa bagi hasil/margin/fee, serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo.

Penerapan obligasi syariah menggunakan akad antara lain; akad musyarakah, mudharabah, murabahah, salam, istisna, dan ijarah. Emiten adalah mudharib sedang pemegang obligasi adalah shahibul mal (investor). Bagi emiten tidak diperbolehkan melakukan usaha yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah. Untuk menerbitkan obligasi syariah, harus memenuhi beberapa persyaratan:

Pertama, aktivitas utama (core business) yang halal, sesuai yang telah digariskan oleh DSN-MUI, yaitu (i) usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang; (ii) usaha lembaga keuangan konvensional (ribawi), termasuk perbankan dan asuransi konvensional; (iii) usaha yang memproduksi, mendistribusi, serta memperdagangkan makanan dan minuman haram; (iv) usaha yang memproduksi, mendistribusi, dan atau menyediakan barang-barang ataupun jasa yang merusak moral dan bersifat mudharat.
Baca lebih lanjut

Categories: ekonomi - (ekonomi syariah) | Tags: | Tinggalkan komentar

Penguatan Sistem Bagi Hasil Bank Syariah

Pesatnya pertumbuhan bank syariah di Indonesia, belum dibarengi oleh pemahaman dan pengetahuan masyarakat tentang sistem operasional perbankan syariah. Meski bank syariah terus berkembang setiap tahunnya, namun dikalangan masyarakat Indonesia masih belum mengenal apa dan bagaimana bank syariah menjalankan kegiatan bisnisnya. Umumnya masyarakat masih beranggapan bahwa bank syariah tak ubahnya seperti bank konvensional yang hanya diberi label syariah saja.

Produk-produk yang ditawarkan oleh bank syariah, menurut mereka, hanyalah produk-produk bank konvensional yang dipoles dengan penerapan akad-akad yang berkaitan dengan syariah. Sehingga hal ini justru memunculkan anggapan masyarakat bahwa kata syariah hanya sekedar lipstik dalam perbankan syariah.

Hal inipun dipertanyakan oleh mereka, karakteristik dasar yang melandasi sistem operasional perbankan syariah, yaitu sistem bagi hasil. Karena sistem bagi hasil dalam prakteknya masih menyerupai sistem bunga bagi bank konvensional. Begitu pula penyaluran dana bank syariah yang lebih besar bertumpu pada pembiayaan murabahah, yang mengambil keuntungan berdasarkan margin, dianggap oleh masyarakat hanyalah sekedar polesan dari cara pengambilan bunga pada bank konvensional.

Secara praktek pengambilan margin yang dilakukan oleh perbankan syariah seperti pengambilan bunga yang dilakukan perbankan konvensional. Hal inipun disebabkan pula oleh sistem pembayarannya yang dilakukan secara kredit. Cara seperti ini yang menyebabkan melekatnya anggapan masyarakat bahwa bank syariah seperti bank konvensional pada umumnya.

Baca lebih lanjut

Categories: ekonomi - (ekonomi syariah) | Tags: | Tinggalkan komentar

Bank Syariah: Jawaban Islam Wujudkan Kesejahteraan

Sore itu terasa sangat melelahkan, berada di depan komputer dengan mata setengah tertidur, tapi saat itu ku paksakan mata ini untuk menelaah lebih dalam kompetisi penulisan artikel yang diadakan Kompasiana tentang Bank Syariah di Indonesia. Dari sekian banyak artikel, entah kenapa mata ini terpaku pada sebuah artikel yang menurut saya memancing rasa ingin tahu para pembacanya, yang ternyata artikel ini dibuat oleh mas subhan, beliau membeberkan cukup gamblang makna dari Bank Syariah itu sendiri, dan berikut ini kutipan artikel yang terangkum di Kompasiana. Oleh Subhan – 6 Juli 2009 -kompasiana-
Menarik memperhatikan animo masyarakat atas kehadiran bank syariah. setidaknya melalui artikel “Perkembangan iB Perbankan Syariah” bisa diketahui bahwa antusias masyarakat terhadap layanan bank syariah cukup tinggi. buktinya dalam waktu 17 tahun total aset industri perbankan syariah meningkat sebesar 27 kali lipat dari Rp 1,79 triliun di tahun 2000 menjadi Rp 49,6 triliun di akhir tahn 2008. Baca lebih lanjut

Categories: ekonomi - (ekonomi syariah) | Tags: | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 35 pengikut lainnya.