Citayam sore itu begitu dingin, ditemani rintik-rintik gerimis kecil sepulangnya dari kampus saya memaksakan untuk memutar arah laju sepeda motor saya menuju sebuah pabrik tahu yang memang tak sing lagi bagi kebanyakan masyarakat sekitar sana sebagai satu-satunya pabrik tahu yang tetap bertahan dengan cukup kokoh sampai saat ini. Niat saya mengunjungi pabrik tahu tersebut ialah sebatas membeli barang satu kantong plastik tahu sekaligus sedikit berbincang dengan beberapa pekerja disana untuk mengetahui bagaimana sekiranya kinerja SDM pada pabrik tahu tersebut.
Setibanya disana, dibalik mobil pick up jumbo, di ruangan kurang dari 5 x 6 meter yang berdindingkan papan dan atapnya pun langsung tembus pandang menuju genting-genting penuh sarang laba-laba, saya melihat terdapat beberapa pekerja pabrik sedang sibuk bekerja dengan tugasnya masing-masing. Kedatangan saya langsung disambut baik oleh salah satu pekerja disana, nampaknya ia adalah seorang pemuda dewasa yang kebetulan juga diakuinya posisi dia disana sebagai anak dari pada pemilik pabrik tahu tersebut.
Bang Taro.. begitu mungkin dia memperkenalkan namanya, orangnya terlihat berjanggut dan gemuk namun tinggi badannya tidak terlalu tinggi sekitar 150 cm yang ketika saya tanya jika dijual secara eceran, tahunya dijual seharga Rp 1000,-/ 6 potong kecil tahu, bila dirinci lagi menjadi 170 perak per potong tahu, yang dalam pabriknya biasa diproduksi 2 jenis tahu, yaitu tahu putih (atau sering disebut orang dengan tahu cina) untuk sayuran dan tahu goreng untuk para penjual dagangan gorengan, usut punya usus, setelah saya memulai perkenalan dengan sangat ramah, obrolan pun berlanjut. Dikatakan bang Taro bahwa usaha yang dirintis ayahnya ini sebenarnya sudah berjalan cukup lama karena telah mulai sejak tahun 1991, berbagai problema sampai jatuh bangun praktek kerja pun telah dirasakan oleh sang ayah beserta para tenaga kerjanya demi mencari sesuap nasi ketika itu.
Sampai saat ini tenaga kerja yang dipekerjakan di pabrik tahu ini pun hanya sebanyak 5 orang, “Untuk tenaga kerja pabrik rata-rata kita bawa sendiri dari kampung, berhubung karena masih ada ikatan saudara yang belom ada gawe, kalaupun bukan saudara, paling dari tetangga-tetangga terdekat,”.ujar bang Taro santai. Ia mengakui bahwa untuk proses perekrutan karyawan pabrik tahu milik ayahnya tidaklah ditetapkan standar atau syarat-syarat pendidikan tertentu, tetapi lebih kepada tingkat kepedulian terhadap perekonomian sanak keluarga dikampung, “Sebenarnya biarpun cuma sebatas bikin tahu, tapi kita juga gak bisa sembarang milih orang, harus orang yang emang bener-bener ada kemuaan buat dibimbing dan yang lebih penting lagi, orangnya bisa dipercaya atau bisa menjalankan amanah,” tuturnya dengan penuh keseriusan.
Kehidupan para tenaga kerjanya pun diawasi langsung oleh keluarga bang Taro, “Karena kebanyakan mereka masih muda semua, jadi untuk tinggal pun karena belum berumah tangga, mereka memilih untuk tinggal bersama dalam satu rumah, yang juga masih rumah bapak saya, tidur bersama, makan juga bersama…,” tambahnya singkat. Dalam sehari kinerja tenaga kerja usaha pabrik tahu ini bisa mencapai produksi rata-rata 130 hingga 150 kg per hari, yang siap dijual kepada masyarakat ataupun penjual sekitar maupun ada yang kemudian nantinya akan didistribusikan kembali kepada para pedagang-pedangang ecer langganannya di pasar-pasar tradisional, itu pun belum termasuk tahu pesanan dadakan dari masyarakat , jika memang ada pesanan dipastikan seluruh karyawannya akan dilemburkan. Lanjut membaca →