Gairah Mengukir Sesuatu di Saat yang Sangat Spesial

Bicara waktu, bisa jadi yang muncul dalam pemikiran kita adalah segala kenangan masa lampau atau mungkin angan-angan, harapan, cita-cita masa depan yang betapa sangat ingin kita raih atau mungkin bahkan aktivitas yang baru saja atau sebentar lagi akan kita lakukan.

Setiap waktu yang telah berlalu tak perlu dan tak ada gunanya kita sesali terlalu mendalam, cukuplah kita ambil hikmahnya, lantas kemudian kita songsong start baru atau hari baru dengan penuh keyakinan dan optimis tinggi demi mencapai sebuah ketentraman hakiki: dunia-akhirat. Biarlah syukur menjadi jawaban terbaik bagi kita atas pertanyaan masa kini dan masa lalu, mensyukuri…, ya benar, mensyukuri apa yang ada. Dunia hanyalah perjalanan sementara anak manusia yang sangat tidak sepadan jika kita bandingkan dengan makna dari sebuah kata “kekal” yang pastinya akan kita jumpai diakhirat kelak.

Rasanya dalam dalam minggu-minggu ini disadari atau tidak kita akan menjumpai waktu yang terbilang spesial, yang mungkin menjadi salah satu rangkaian moment unik di tahun 2009 ini, hari Rabu, 9 September 2009 (09-09-09). Jujur saja merupakan hari yang begitu spesial karena juga memang pas bertepatan termasuk dalam kesatuan daripada bulan suci Ramadhan.

Akan selalu terekam dalam dalam memori kita, jika kita mengukir sesuatu pada hari itu tepat pada pukul 9, 9 menit, 9 detik (pk. 09:09:09), yang kemudian momentum itu akan terangkai indah menjadi 09:09:09 09-09-09 atau 090909090909.

Subhanallah, suatu kebesaran Sang Pencipta akan pengaturan waktu beserta alam semesta ini dengan sangat teratur.

Walaupun jika kita amati lebih mendalam yang menonjol pada moment ini adalah angka 9, tapi tak sepantasnya kita percaya akan hal-hal yang dalam tanda kutip “tak layak” untuk kita percayai. Cukuplah Sang Khaliq yang berhak mengetahui. Wallahu’alam Bishawab.

Tak bisa diragukan lagi, kita adalah saksi atas kebesaran yang sangat indah, perpaduan nan elok antara waktu dan tanggal yang juga bertepatan dengan bulan pernuh Berkah, bulan suci Ramadhan. Sungguh ini sebenarnya ini hanyalah setitik dari sekian banyak kebesaran Sang Khaliq yang mungkin kebetulan saja untuk kita temui.

Tak ada salahnya jika kita mengambil secarik kertas untuk paling tidak mengenang apa yang sedang kita lakukan pada waktu itu, tak perlu ditutupi, tapi biarlah kenyataan berbicara sejujur-jujurnya, karena pada dasarnya kejujuran itu terlalu mesra untuk kita akui.

Atau mungkin terbesit dalam pikiran kita untuk sekiranya momentum yang spesial ini dapat kita jadikan sebagai bahan renungan, bahan tafakur kita untuk instrospeksi diri atas apa-apa yang telah kita perbuat selama ini.

Kalau boleh Sedikit saya mengutip petikan artikel ustadz Abdullah Hadrami yang pernah saya jumpai yang berbunyi :

Jikalah luka dan kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa,
Sedang ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama.

Jikalah kebencian dan kemarahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diumbar sepuas jiwa,
Sedang menahan diri adalah lebih berpahala.

Jikalah kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti tenggelam di dalamnya,
Sedang taubat itu lebih utama.

Semoga setiap waktu yang kita lalui, selalu dapat memberikan makna, hikmah atau manfaat di kemudian hari. Tetapi kalau memang bukan sekarang, mungkin suatu saat nanti. Amin.

citayam, 9 september 2009

Iklan
Categories: catatan lepas septian | Tag: | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

silakan tuliskan komentar pada kolom dibawah ini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: