Sedikit Melirik “Wajah Perkoperasian Bali”

Setiap wilayah tentu mengidamkan suatu bentuk Pemerintahan yang terorganisir dengan baik, transparan, dan juga demokrat. Tujuan dari semua itu tidak lain ialah demi mewujudkan masyarakat yang makmur dan sejahtera. Untuk itu dibutuhkan suatu hubungan yang selaras, serasi dan seimbang antara Pemerintah dengan masyarakat itu sendiri. Dan tampaknya, hal tersebut belum sepenuhnya tercermin untuk wilayah Bali, walaupun dilihat sekilas oleh mata, Bali merupakan salah satu penyumbang tebesar defisit negara tercinta, Indonesia. Namun, apabila kita cerna lebih mendalam, bagaimanakah kehidupan perekonomian penduduk Bali, khususnya penduduk asli yang hidup di daerah-daerah terpencil ? Boleh dibilang bentuk Pemerintahannya terkesan monoton dan cukup jarang terlihat munculnya kepermukaan upaya yang signifikan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Salah satu bentuk upaya Pemerintah yang sudah tidak asing lagi bagi kita ialah adanya Koperasi Krama Bali yang diperuntukan bagi masyarakat Bali, khususnya masyarakat yang ingin mengembangkan kualitas usahanya dan juga semua hal yang dapat membantu perekonomian hidupnya tanpa adanya persyaratan yang rumit, dalam artian masyarakat, khususnya menengah kebawah tidak perlu lagi memenuhi persyaratan berbelit-belit seperti layaknya bank pada umumnya.

Setelah gencar-gencarnya Pemerintah menghidupkan kembali perkoperasian Bali keseluruh plosok daerah yang ada di Bali, tampak terlihat adanya perubahan dimana dulunya warga yang mengaku merasa sangat sulit untuk mengembangkan usahanya, kini setelah adanya koperasi ini tidak sedikit dari mereka yang merasa sangat terbantu. Bahkan didaerah Kuta telah terbentuk suatu pertokoan yang dikhususkan bagi para anggota Kopersi Krama Bali untuk mengembangkan berbagai jenis usaha yang dimilikinya. Dan memang secara sekilas mata upaya Pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup rakyatnya terbilang ampuh.

Namun, yang menjadi permasalahan disini ialah bagaimana dengan nasib penduduk Bali, terutama orang-orang Bali asli yang tidak mempunyai keterampilan sekaligus usaha demi memenuhi kebutuhan hidupnya? Berbeda halnya dengan masyarakat yang telah memiliki usaha, dengan adanya koperasi ini mereka dapat tinggal menekuni dan meningkatkan kulitas keterampilan yang ia miliki. Tapi bagi mereka yang tidak mempunyai keterampilan apa-apa dan juga tidak dapat mengenyam pendidikan di bangku sekolah, koperasi ini seperti serasa mubazir, hanya formalitas semata tanpa ada misi dan tujuan yang jelas mengingat masih banyak penduduk Bali asli khususnya menengah kebawah yang pengangguran, apalagi didaerah terpencil serta ditambah dengan angka kelahiran yang semakin meningkat.

Untuk itu dirasa perlu bagi Pemerintah agar tidak hanya sebatas membentuk lembaga koperasi, tetapi juga untuk tetap dan terus gencar dengan penuh keseriusan tak henti-hentinya dalam memberikan pengarahan dan penyuluhan bagi masyarakat yang belum memiliki keterampilan khusus agar dapat mengimbangi kehidupan perekonomiannya dan juga apabila ini dapat terealisasi dengan benar dan terencana, maka bukan tidak mungkin nantinya hal ini dapat menunjang perekonomian Bali pada masa yang akan datang.

septian prima rusbariandi, Denpasar 2007

Masih lekat dalam ingatan saya bahwa tulisan ini saya buat ketika masih duduk di bangku SMA kelas 3 dulu, sma n 3 Denpasar, sengaja saya tampilkan kembali kepada para pembaca hanya untuk berbagi pemikiran masa lampau…

Iklan
Categories: ekonomi - (koperasi) | Tag: | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

silakan tuliskan komentar pada kolom dibawah ini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: