MEWASPADAI GENERASI SETAN

Di malam akhir tahun dan sekaligus malam untuk menyambut tahun baru, biasanya hingar bingar musik dan hiruk pikuk hiburan berpadu dengan gegap gempitanya maksiat. Apakah statement ini terlalu berlebihan atau bahkan salah?

Dalam Islam, sesungguhnya tidak dikenal adanya perayaan akhir tahun dan malam tahun baru, walaupun berdasarkan kalender hijiriyah, apalagi patokan standarnya adalah tahun Masehi yang berarti tahun kelahiran Tuhan. Ini adalah budaya non Islam yang bahkan berasal dari budaya paganisme atau penyembah berhala untuk merayakan hari Tuhan mereka. Namun sayang seribu sayang, hal ini ternyata banyak yang tidak disadari sepenuhnya oleh ma-yoritas kaum muslimin.

Saat perayaan tersebut, akhir-akhir ini dengan sangat jelas dan kentara bahkan sudah diekspos luas dengan tanpa malu, adalah munculnya beragam simbol setan dan iblis. Selain berbagai bentuk kemaksiatan dan perilaku kesetanan yang marak, simbol setan yang terlihat adalah laku kerasnya aksesoris setan, seperti pakai-an ala setan atau vampire, topi tanduk setan dan lain sebagainya.

Pertanda apakah ini?

Itu adalah gambaran sebuah shira’ (pertarungan), atau clash (benturan) dalam istilah orang-orang Barat, antara yang haqq (benar) dengan yang batil, antara Islam dengan budaya jahiliyah dan kufur, antara tentara Allah swt dan tentara setan, antara dua generasi yang berbeda kutub dan ideologi!

Dalam paparan dan penjelasan al-Qur’an dan as-Sunnah, ada dua profil generasi yang saling berlawanan satu sama lain, yaitu generasi Rabbani (Qur’ani) dengan generasi setan.

Generasi Qur’ani merupakan generasi shalih yang secara ikhlas menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai landasan hidup dan ‘pewarna’ bagi kehidupannya. Gerak dan bersitan hati, tingkah laku, dan bahkan seluruh sikap hidup mereka senantiasa mengikuti ajaran agama Allah swt yang haqq.

Sebaliknya, generasi setan merupakan profil generasi sesat lagi menyesatkan yang kehidupannya selalu diwarnai dengan pelanggaran, penyimpangan, dan kemaksiatan terhadap Allah swt, Rabb yang telah menciptakan mereka. Setan menjadi ‘panglima kehidupan’ yang selalu membenamkan diri mereka ke dalam samudera dosa dan kemaksiatan. Akhirnya, hidup mereka dipersembahkan untuk selalu mengabdi kepada setan dan untuk senantiasa bermaksiat kepada Allah swt. Na’uudzu billah.

Di antara generasi setan tersebut banyak yang sadar bahwa mereka adalah budak-budak setan, namun banyak pula yang tidak sadar –mudah-mudahan ini yang terbanyak– ter-utama kaum muslimin yang berpe-rilaku sebagai potret generasi setan.

Tidak ada satu orang tua pun di mana saja mereka berada yang menghendaki anaknya menjadi generasi setan. Semua orang tua bahkan mencita-citakan agar anaknya menjadi generasi shalih yang memiliki budi pekerti yang mulia dan menyejukkan mata. Namun, membentuk generasi Rabbani bukanlah hal yang mudah. Kesungguhan tekad para orang tua dan pendidik, serta keikhlasan dan kesabaran mendidik anak dengan agama, menjadi tiang penyangga yang kokoh bagi terwujudnya generasi Rabbani tersebut. Ditambah doa kepasrahan kepada Allah swt agar Dia senantiasa memayungi kehidupan anak-anak kita dengan hidayah-Nya. Bila demikian keadaannya, niscaya generasi Rabbani akan betul-betul nyata di depan mata, yang akan menghembuskan bau surga yang semerbak di dalam keluarga dan menjadikan dunia merekah indah laksana indahnya surga.

Namun, ingatlah wahai para orang tua dan para pendidik generasi!

Setan tidak akan pernah rela dunia ini dikuasai oleh generasi Rabbani!

Setan tidak pernah menginginkan generasi Rabbani berkembang dan terus bertambah!

Ia akan terus menggoda dengan berbagai upaya agar anak-anak kita menjadi barisan generasi sesat yang dipimpinnya. Menjauhkan anak-anak kita dari agama merupakan trik-trik setan untuk memadamkan cahaya keimanan dari dalam diri anak-anak kita. Dan, langkah setan ini sungguh memperlihatkan hasil yang luar biasa. Bukti nyata terkini adalah bila kita mencermati keadaan dunia akhir-akhir ini, atau dengan merenungi kejadian di akhir tahun dan awal tahun. Hanya kepada Allahlah kita memohon pertolongan dan perlindungan!

Karakteristik Generasi Setan

Berkaitan dengan generasi setan, Allah swt berfirman:

“Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kerugian.” [QS. Maryam: 59]

Di dalam ayat ini, Allah swt memberikan gambaran karakteristik generasi setan yang kini semakin merajalela.

Pertama, adhaa’u ash-shalaah (menyia-nyiakan shalat).

Para ulama ahli tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan adhaa’u ash-shalaah adalah tarkuhu bi al-kulliyyah (meninggalkan shalat secara keseluruhan, tidak shalat sama sekali), atau juga adhaa’u al-mawaaqiit (lalai dalam hal waktu, menjalankan shalat namun tidak tepat waktu).

Generasi setan sangat melalaikan shalat. Padahal, shalat adalah ibadah sangat penting yang jika telah hilang dari dalam diri seseorang, maka hilang pula keislamannya.

Rasulullah saw bersabda:

(( لَتُنْقَضَنَّ عُرَى الإِِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً، فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا، وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ ))

“Sungguh tali-temali Islam akan terle-pas satu utas demi satu utas. Setiap kali satu utas tali terlepas, orang-orang akan berpegang kepada tali sesudahnya. Yang pertama kali akan terlepas adalah hukum dan yang terakhir terlepas adalah shalat.” (HR. Ahmad)

‘Umar bin al-Khaththab menegaskan: “Jika kamu melihat seseorang yang menyia-nyiakan shalat, demi Allah kepada selain itu ia akan lebih menyia-nyiakan lagi.”

Kedua, ittiba’u asy-syahawaat (mengikuti hawa nafsu).

Setelah seseorang menyia-nyiakan shalat, maka sudah dapat dipastikan bahwa hawa nafsu akan menguasai dirinya. Ia tidak lagi mengindahkan hukum halal-haram, pahala-dosa, karena ‘tali hukum’ telah terlepas dari dalam dirinya. Ketika ‘tali shalat’ telah lepas, maka ‘tali’ setan dan hawa nafsulah yang akan menjerat jiwanya. Setan adalah musuh yang amat nyata, dan hawa nafsu akan selalu membawa kepada kesesatan.

Allah swt telah menegaskan:

“…Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku….” [QS. Yusuf (12): 53]

Ketika setan dan hawa nafsu telah menjadi raja; maka dosa, kemaksiatan dan pelanggaran adalah para prajurit pembawa panji-panji kesesatan. Para prajurit setan dan hawa nafsu itu bisa menjelma dalam wajah narkoba, free sex (seks bebas), judi, meninggalkan shalat, membuka aurat, pacaran, nonton VCD porno, durhaka kepada orang tua, dan lain sebagainya.

Di akhir ayat 59 dalam surat Maryam tersebut ditegaskan bahwa generasi setan yang jelek yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya kelak akan menemui al-ghayy.

Yang dimaksud al-ghayy adalah khusraan (kerugian) dan syarr (keburukan). Al-Ghayy juga merupakan sebuah lembah di neraka Jahannam yang menjijikkan dan sangat dalam.

Itulah balasan menyeramkan yang akan ‘dihadiahkan’ kepada generasi setan. Na’uudzu billahi min dzaalik.

Tiga Pilar Pendidikan Generasi

Setelah kita memahami agama dengan baik, kemudian bila kita mendalami kehidupan dengan cermat, niscaya kita menyadari akan bahaya dan kerusakan yang ditimbulkan oleh generasi setan. Solusinya, selain dengan mewaspadai generasi setan adalah dengan mendidik generasi Rabbani dan memperbanyaknya!

Seorang ahli pendidikan berkata:

“Bergegaslah untuk mendidik anak-anakmu, sebelum kesibukanmu bertumpuk-tumpuk. Jika ia telah menjadi dewasa dan tidak berakhlak, maka ia justru akan lebih memusingkan pikiranmu!”

Kesungguhan dan perjuangan sejati dalam memberikan pendidikan secara baik menjadi kekuatan amat dahsyat yang akan membebaskan anak dari cengkeraman jahat generasi setan. Setidaknya ada tiga pilar pendidikan yang amat vital untuk meneguhkan benteng keagamaan anak-anak kita, sehingga mereka tangguh menghadapi godaan setan dan hawa nafsu.

Pilar pertama, shalat.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda:

(( حَافِظُوْا عَلَى أَبْنَائِكُمْ فِي الصَّلاَةِ، وَعَوِّدُوْهُمُ الْخَيْرَ، فَإِنَّ الْخَيْرَ عَادَةٌ ))

“Jagalah anak-anak kalian untuk selalu melaksanakan shalat, dan biasakanlah mereka untuk berbuat baik, karena berbuat baik itu harus menjadi kebiasaan.” (HR. al-Thabrani)

Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa Hisyam bin Sa’id berkata, “Kami pernah datang kepada Mu’adz bin ‘Abdillah bin Khubaib al-Juhni. Mu’adz berkata kepada istrinya, ‘Kapankah anak harus shalat?’ Istrinya menjawab, ‘Seseorang dari keluargaku pernah menyebutkan hadits dari Rasulullah saw bahwa beliau pernah ditanya tentang itu. Lalu, beliau menjawab:

(( إِذَا عَرَفَ يَمِيْنَهُ مِنْ شِمَالِهِ، فَمُرُوْهُ بِالصَّلاَةِ ))

“Jika anak sudah bisa membedakan mana kanan dan kiri, maka perintahlah anak untuk shalat.” (HR. Abu Dawud)

Bahkan akan sangat positif bila anak dibiasakan mengerjakan shalat tahajjud sejak dini.

Pilar kedua, masjid.

Melekatkan anak dengan masjid merupakan usaha yang cerdas, tepat, dan bahkan tidak ada tandingannya untuk menyelamatkan generasi ini dari kerusakan.

Pilar ketiga, puasa.

Puasa Ramadhan dan puasa-puasa sunnah merupakan pilar yang kokoh untuk membentengi hati anak dari gempuran nafsu yang merusak.

Shalat dan masjid merupakan pilar pembebas dari sikap ‘menyia-nyiakan shalat’ (adhaa’ush shalaah), dan puasa menjadi pilar pembebas dari sikap ‘memperturutkan hawa nafsu’ (ittiba’u asy-syahawaat).

Jadi, shalat, masjid dan puasa merupakan senjata yang ampuh untuk menghancurkan jiwa setaniyyah dalam diri generasi kita.

Semoga Allah swt menjauhkan kita dan keturunan kita dari cengkeraman generasi setan.

Dan semoga Allah swt menjadikan kita dan keturunan kita, baik laki-laki maupun perempuan, menjadi generasi Rabbani (Qur’ani). Amin.

Ditulis pada 21 Februari 2009 oleh majalahummatie

http://majalahummatie.wordpress.com/

Categories: islam | Tags: | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

silakan tuliskan komentar pada kolom dibawah ini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: