Benarkah, Orang Kaya Pasti Pintar?

Perjalanan panjang seseorang dalam menempuh pendidikan pastinya akan menjadi guru tersendiri atas segala pengalaman yang telah dilewatinya. Menuntut ilmu sebagai penghias diri adalah menjadi salah satu proritas hidup demi menjalankan kehidupan di masa depan kelak, masa depan yang mungkin belum pernah terbayangkan sebelumnya.

Namun yang menjadi pertanyaan dalam tulisan ini ialah benarkah setiap orang yang kaya sudah pasati dapat dikatakan pintar atau sebaliknya ? mungkin kita akan menemukan jawabannya setelah membaca tuntas kutipan artikel berikut. Menarik untuk disimak artikel yang di sadur dari surat kabar harian Sinar Harapan ini , agar setidaknya kita dapat menemukan sekaligus mengambil hikmah yang mungkin tersembunyi dalam tulisan ini.

“G

imana sih kamu Doel, sudah disekolahin tinggi-tinggi sampai keluar negeri, tapi koq ngak pintar cari duit, ngak kaya-kaya seperti Bento yang tidak sekolah setinggi loe Doel?”

Begitu gerutu orang tua saat melihat anaknya yang pintar belum mencetak uang hinga bias disebut orang kaya. Hm… apa yang “tak beres” dengan kecerdasan otak si Doel, sehingga ia mendapat bayaran ataua omzet yang besar? Apakah ia menginvestasikan sesuatu yang tidak efekif dalam kecedasan otaknya?

Ada yang bilang orang yang pintar itu belum tentu kaya, namun kalau orang kaya pasti “pintar”.  Apakah anda setuju dengan pendapat diatas? Apanya yang pintar? Orang kita sebut kaya apabila ia sudah mendapat sebuah bayaran atas jasanya dalam memenuhi kebutuhan orang lain, apapun kebutuhan itu.

Artinya, ia telah menggunakan secara efektif kekuatan dan kompetensinya untuk membidik, memikirkan kebutuhan dan kepentingan orang lain lalu memenuhinya, dan atasa dasar itu ia dibayar. Ini berarti ia pitar bukan? Karena memang dibutuhkan kekuatan mental empati untuk memikirkan kebutuhan orang lain. Setelah itu baru ada orang lain yang mau membayar sebagai imbalan untuk itu. Kalau tidak bisa pintar dan efektif menggunakannya, mana ada orang yang membayar kita?

Sebaliknya, orang yang pintar namun tidak memiliki sensivitas tinggi untuk memikirkan kebutuhan orang lain atau organisasi lain, tentu akan berimplikasi finansial negatif. Jelas tidak ada orang atau institusi lain yang merasa telah memnuhi kebutuhannya, dan mereka tidak menuliskan cek pembayaran untuk itu. Orang bijak mengajarkan kepada kita semua: “orang toh tidak peduli berapa banyak yang kita tahu di dalam otak kita, sampai mereka tahu seberapa jauh kita peduli”. Peduli adalah sebuah terminologi seberapa besar empati kita memikirkan kebutuhan orang lain dengan sumber daya yang kita miliki itu.

 

Tanpa mentalitas untuk berempati atas kebutuhan orang lain, seorang eksekutif yang cerdas belum tentu bisa mencetak keuntungan dalam neraca pembukuan korporasi


Dalam pengertian awam, kepintaran sering dihubungkan dengan intelegensi otak kiri. Dan, ada banyak orang pintar yang payah empatinya (otak kanannya) untuk menggunakan suber daya yang ia miliki guna memikirkan kebutuhan orang lain, dan karenanya ia tidak mendapat bayaran dan mengalami kesulitan keuangan. Tanpa mentalitas untuk berempati atas kebutuhan orang lain, seorang eksekutif yang cerdas belum tentu bisa mencetak keuntungan dalam neraca pembukuan korporasi.

Spencer, seorang psikolog besar mengatakan, orang berlatar belakang amat cerdas dalam bidang teknik, bukan termasuk kategori unggulan. Karena memang sudah wakar jika ia harus mengerti kompetensi tersebut. Begitu juga kalu seorang psikolog atau sosiologi mengerti tentang bidang psikolog dan hubungan sosiologi. Itu tak ada yang istimewa.

Kalau seseorang berlatar belakang teknik, tapi melengkapi dirinya dengan kemampuan dan kecakapan sosial, maka ia baru menjadi produk unggulan dan umumnya orang yang melakukan investasi tambahan di luar kuadran intrinsik seperti itulah yang akan menjadi sukses.Kalau latar belakang kita teknik dan hanya menginvestasikan waktu dan perhatian kita pada kemampuan teknik, benar kita akan menjadi kaya seperti cerita si Doel di atas, tapi tidak akan kunjung menjadi kaya.

Lain si Doel, lain pula dengan Ziglar, salah satu tokoh kepemimpinan terbesar di Amerika Serikat. Ziglat dilahirkan dalam kondisi yang amat pelik dan miskin, bahkan hinga menikah dan memiliki putra ia masih miskin. Dalam biografinya, ia tidak punya uang saat putranya lahir dan ia kebingungan tanpa uang dikantong. Namun, kini keadaannya sudah benar-benar berbeda.

Kini ia talah menjadi guru leadership yang amat sukses, tokoh bisnis dan pemuka masyarakat di Amerika Serikat. Di dalam kemewahannya kini ia berkata di depan khalayak peserta training yang ia selenggarakan: “saya pernah mengalami kemiskinan, dan pernah pula kaya. Izinkan saya memberitahu kepada anda, daripada miskin, lebih baik menjadi kaya”.Hadirin pun bergemuruh tertawa setuju dan pilihan tersebut dimulai dengan sebuah keputusan investasi portofolio. Apakah kita hanya akan berinvestasi di kompetensi otak kiri, sebuah portofolio hard skill semata, atau juga akan berinvestasi di otak kanan, portofolio softskill.

*Penulis adalah praktisi bisnis internasional trade (Hendrik Lim, MBA)

Ditulis kembali untuk disiarkan ke dalam blog di Citayam, 31 November 2009

– Septian Prima R.

Referensi : SINAR HARAPAN – halaman ekonomi & bisnis, Jumat 8 mei 2009

Categories: ekonomi - (manajemen SDM ) | Tags: | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

silakan tuliskan komentar pada kolom dibawah ini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: