Gerimis Sore di Sebuah Stasiun

“Baik.. mungkin hari ini cukup sekian, selebihnya kita lanjutkan pada pertemuan berikutnya..” begitulah lisan yang terdengar sore itu. Lisan seorang dosen yang menyudahkan proses perkuliahan yang begitu padatnya di hari itu. Waktu telah menunjukan pukul 5 sore, sudah waktunya untuk bergegas pulang. Dalam perjalanan di sebuah angkot, tiba-tiba serentak tanpa permisi turunlah sebuah hujan yang menyirami daerah kelapa dua dan sekitarnya. Saya bersama beberapa teman dalam satu angkot tampak menikmati perjalanan, menelusuri jalan Margonda, walau harus memasang muka pucat karena mungkin terlalu letih dalam proses perkuliahan.

Tepat di depan gerbang pintu kampus Gunadarma Pondok Cina kami turun dari angkot untuk kemudian berjalan sedikit menuju Stasiun Pondok Cina. Setibanya distasiun, karcis kereta ekonomi menuju Citayam pun telah ada dalam genggaman, dan kini tinggal menunggu saja kereta tujuan Bogor yang akan berhenti. Masih bergerombol dengan teman, kami mencoba sedikit melatih kesabaran dengan menunggu kereta yang hendak berhenti, lama dinanti sudah setengah jam kami menunggu tapi kereta tak kunjung tiba, jarum pendek di tangan kiri ku sudah menunjukkan jam 6 kurang seperempat.

Akhirnya buah kesabaran pun seperti terbayar lunas ketika petugas stasium mengumumkan kereta ekonomi tujuan Bogor akan segera tiba, kami pun bersiap. Tapi…, apa boleh dikata rangkaian kereta ekonomi tujuan bogor itu hanya memiliki empat gerbong, padahal standarnya ialah 4 gerbong atau 2 set rangkaian, sangat di sayangkan. Adalah kenekatan jika saya dan teman-teman memaksa masuk ke dalam gerbong kereta itu mengingat keadaan di dalam pun sudah sangat sesak dan pengap. Bak lautan manusia yang sedang bersauna. Belum lagi pemandangan para anak muda yang baru pulang kerja atau mungkin pulang sekolah dari arah Kota, yang naik diatas gerbong kereta dan turut ikut berdesak-desakkan, padahal situasinya di atas gerbong…, tanpa atap, tanpa tepi, ya… tapi itulah namanya anak muda. Kami pun memutuskan untuk tidak menaiki kereta ekonomi tersebut dan memilih untuk menunggu rangkaian kereta ekonomi selanjutnya yang akan berhenti di Stasiun Poncin (singkatan Pondok Cina) ini.

Masih diiringi untaian gerimis yang teratur, berselang setengah jam kemudian barulah kereta ekonomi yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga , walaupun agak sedikit harus berdesakan, tapi setidaknya masih dapat menampung kami bergegas menuju stasiun yang ingin kami tuju. Kurang lebih pukul 7 kurang seperempat menit, gerimis pun sudah mereda, “Alhamdulillah” saya telah tepat berada di depan rumah. Perjalanan pulang dari kampus menuju rumah yang menjadi kegiatan rutin tak terbantahkan, yang mengisi sekaligus memberikan warna tersendiri bagi catatan perjalanan-perjalanan hidup saya selanjutnya, yang mungkin belum sempat untuk saya ceritakan.

Iklan
Categories: catatan perjalanan hidup | Tag: | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

silakan tuliskan komentar pada kolom dibawah ini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: