kecerahan pagi yang mengundang tanya..

Minggu pagi, di hari ke tiga di tahun 2010, awan terlihat sedikit mendung namun masih terselip sinar-sinar matahari yang terasa sangat bersemangat untuk berbagi akan energi yang dimilikinya kepada segenap umat manusia. Pagi tadi sekitar jam lima diri ini baru pulang sehabis menginap di salah satu kontrakan milik teman, waktu itu kami laki-laki menginap disana berempat , dengan alasan turut meramaikan suasana kontrakan dikarenakan satu minggu lagi teman saya yang memiliki kontrakan tersebut akan berumah tangga, memulai kehidupan baru bersama seorang manusia dari kaum hawa yang diyakini dipilihnya. Ya benar… prosesi menikah atau kebanyakan orang menyebutnya dengan istilah  “kawin”… yang akan dilangsungkannya, ritual sakral yang menjadi hal terpenting dalam perjalanan hidup anak manusia.

Ialah Abdul Rahman, sahabat kecil terdekat yang pernah ada dalam kamus hidup ini, kini telah membuat keputusan penting dalam hidupnya untuk berumah tangga, padahal umurnya pun hingga kini dapat terbilang sama dengan saya, baru 19 tahun.. saya sadari dengan betul, bahwa kehadirannya diwaktu kecil sangat menghiasi warna-warni kehidupan saya, mulai dari karena saudara, tempat tinggalnya yang tepat percis di depan rumah kami, pergi sekolah (waktu itu SD) selalu berjalan berbareng bersama teman lainnya, bermain bola bersama diwaktu sore, dan masih banyak hal-hal lain yang mungkin tak saya sempat ceritakan panjang lebar disini namun tepat jumat depan akan melangsungkan ritual sakral sebagai gerbang dimulainya kehidupan baru.

Lantas ..? apa kaitannya dengan judul diatas…?  mungkin menjadi suatu dilema yang kini melekat dalam benak saya yang kemudian berimbas pada sebuah pertanyaan di pagi buta ini, sebuah pertanyaan yang dilontarkan hati kecil “bagaimana sekiranya perasaanmu nanti sebagai pemuda yang menghiasai masa mudanya tanpa sahabat muda yang dulunya pernah pernah menjadi sahabat kecil terbaik yang pernah ada??” – Sungguh…, bagi saya itu hanyalah ungkapan hati kecil semata, ungkapan dengan rasa keingintahuan yang begitu tinggi, ingin mengetahui apa sekiranya yang akan terjadi di waktu mendatang kemudian..

Walaupun nantinya ia sudah terikat sebagai seorang ayah, namun saya yakin sahabat tetaplah sahabat, perkawinan hanyalah alat untuk menggantikan status kehidupan berlandaskan hukum syariah  dan bukan alat untuk membentengi tali silaturahmi.. tetap berbagi, dan tetap mempererat kekeluargaan..

Mungkin saja kejadiaan ini sekiranya dapat menjadi hikmah bagi para pemuda khususnya, agar sekiranya dapat mengambil pelajaran sekaligus motivasi dikemudian hari untuk turut pula menemukan sang pendamping hidup terbaik yang bakal dipilihnya, pendamping yang benar-benar bisa mendampingi baik senang maupun susah.., menyusul si “rahman” dalam rangka menjalankan syariat agama (perkawinan) yang telah merupakan bagian penting tak terbantahkan yang harus dijalani anak Adam.

Citayam, 3 januari 2010

Categories: catatan perjalanan hidup | Tags: | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

silakan tuliskan komentar pada kolom dibawah ini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: