Memimpikan Penegakkan Keadilan HAM di Indonesia

Kontribusi oleh :

Septian Prima Rusbariandi

 

Memimpikan Penegakkan Keadilan HAM di Indonesia

Indonesia sebagai Negara dengan jumlah penduduk cukup besar  memiliki kewajiban untuk senantiasa  memperhatikan hak asasi manusia yang semestinya diperoleh setiap warganya. Sejak awal mula lahirnya bangsa Indonesia, hak asasi manusia telah menjadi prioritas bagi para “founding father” dalam merumuskan undang-undang dasar yang akan dibentuk. Melalui UUD 1945, terangkum cukup apik bagaimana nilai-nilai HAM menjadi point penting yang kemudian menjadi acuan penerapan hak dasar manusia dalam menjalankan  kehidupan bermasyarakat di tanah air tercinta, Indonesia.

Keprihatinan dunia akan betapa pentingnya rancangan aturan HAM sudah mencapai pada kebutuhan yang sangat esensial. Khusus di Indonesia,  walaupun  Universal Declaration of Human Rights ( Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia) bentukan PBB yang sangat menggema dibelahan dunia dalam membahas secara mendetail tentang persoalan HAM  nyatanya baru diterbitkan tiga tahun setelah UUD 1945 selesai dibuat, yaitu pada tahun 1948 tanggal 10 desember, namun pada saat perancangan  Undang-Undang Dasar tahun  1945 para pemikir pendiri bangsa RI juga telah memiliki acuan cukup konkrit dalam meletakkan dasar hukum HAM diIndonesia yaitu melalui  Declaration of Independence Amerika Serikat dan Declaration des droit de l’homme et du citoyen Perancis sebagai bahan untuk penyusunan pasal-pasal tentang hak-hak asasi manusia untuk kemudian dimasukkan dalam Undang-Undang Dasar 1945.

Setelah sekian tahun aturan-aturan dasar mengenai HAM itu dibuat, kini masyarakat dan segenap komponen negara ini mulailah mengaplikasikannya dalam praktek kehidupan yang nyata. Di indonesia berbicara HAM mungkin hampir setiap tahun ada saja kasus-kasus mengenai hak asasi manusia yang muncul kepermukaan yang masih belum terselesaikan. Tak perlu jauh-jauh Mulai dari kasus HAM Munir sampai pada kasus lumpur lapindo, atau mungkin yang lebih terkini seperti masih maraknya kasus pembuangan bayi sebagai manusia tak berdosa yang ditelantarkan begitu saja. Ini jelas merupakan bentuk dari penyalahgunaan aturan HAM yang seharusnya ditaati.

Untuk kasus-kasus HAM yang sifatnya masih tergolong individu, mungkin pendidikan akan pentingnya peranan setiap warga masyarakat  dalam mendapatkan hak dasar hidup sangat perlu untuk diterapkan, karena selama ini, mereka-mereka yang bertindak sedemikian itu sepertinya kurang mengerti kewajiban sebagai warga  negara untuk juga bertanggung jawab atas hak dasar yang semestinya diperoleh setiap insan manusia. Atau boleh jadi aturan hukum yang berlaku mengenai pelanggaran HAM di negara ini kurang membuat jera para penjahat-penjahat HAM yang selalu mengintai setiap disetiap waktu sehingga mereka pun merasa suatu pelanggaran merupakan hal biasa yang memang tak perlu dipusingkan, aneh memang.

Lain lagi halnya dengan pelanggaran  HAM yang sifatnya berdampak kepada masyarakat banyak, seperti kasus lumpur lapindo misalnya, dalam hal ini jelas peranan pemerintah sebagai mediator dalam memberikan jalan keluar sangatlah dibutuhkan, karena sifatnya menyangkut kalangsungan hidup orang banyak, tetapi dalam kenyataannya di awal terjadinya kasus lumpur lapindo pemerintah seolah lempar tangan dalam mencari solusi terhadap permasalahan ini, demo-demo terjadi menuntut hak yang seharusnya diperoleh oleh para korban lumpur lapindo. Hal semacam ini seharusnya menjadi tantangan bagi pemerintah untuk sekiranya merealisasikan aturan hukum yang berlaku, membuktikan bahwa Indonesia memang negara yang menjamin HAM setiap warganya dan duduk bersama berkumpul membicarakan masalah ini nampaknya lebih harmonis ketimbang harus lari terbirit tanpa mau tahu perasaan masyarakat yang tersakiti.

Seperti yang diungkap oleh Kuntowijoyo (2001), bahwa penegakan HAM adalah gerakan yang bertujuan untuk menegakkan keadilan, yang punya tendensi humanis, liberasi, dan transendensi. Ketiga hal ini harus disuarakan dalam kehidupan manusia sebagai pondasi, yang pada gilirannya akan membawa manusia pada kehidupan yang layak dan harmonis.

Dari sekelumit kasus-kasus yang muncul jelas terlihat bahwa masih terdapat kurangnya kesadaran bagi setiap oknum-oknum masyarakat maupun oknum pemerintah yang belum secara penuh menerapkan aturan HAM di Indonesia. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang sejak lahir ke dunia, bahkan ketika masih berbentuk janin, sudah punya hak untuk hidup dan mendapat perlindungan dari negara, nampaknya belum sepenuhnya mampu diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, masih banyak kasus-kasus HAM yang berkeliaran tanpa ada rasa keadilan dan kesadaran penuh dalam menegakkan aturan hukum yang ada.

Harus disadari bahwa partisipasi, kerjasama, kesadaran antar setiap elemen bangsa ini dalam menjamin hak dasar untuk hidu bagi manusia sudah seharusnya dibina, ditumbuhkan dengan sepenuh hati serta direalisasikan dalam kehidupan bermasyarakat agar sekiranya pula setiap peraturan Hak Asasi Manusia yang telah susah payah dirancang oleh para founding father harus kita abaikan begitu saja, berpura-pura menutup mata tanpa ada keberanian dalam membela apa yang kita yakini itu sebagai sebuah kebenaran.  Jika kita memang telah berani dalam menegakkan keadilan HAM antar sesama, maka tidaklah keliru ketika kita memimpikan kehidupan yang harmonis karena telah turut serta berupaya menjamin HAM bagi semua kalangan.

Referensi : http://www.kesimpulan.com/2009/05/gagasan-ham-dalam-uud-pada-tahun-1945.html

Categories: catatan seorang mahasiswa | Tags: , | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “Memimpikan Penegakkan Keadilan HAM di Indonesia

  1. pokok nya tegak kan ke adilan se ju2r mgkn .
    okey trima kasih

silakan tuliskan komentar pada kolom dibawah ini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: