Tugas Manajemen Pemasaran (Kasus 2)

Nama : Septian Prima Rusbariandi

 

Menuju Kualitas Manajemen Sony Berbasis Kompetitif

(Review kasus dari judul asli “Sony Corporation”)

1. Lingkupan Materi dalam Manajemen Pemasaran

 

Salah satu bentuk materi yang mengena dalam pembahasan kasus ini ialah bab Siklus Kehidupan Produk dan Strategi Memasarkan Produk.  Kita ketahui siklus kehidupan produk terbagi menjadi 4 tahapan utama, yaitu 1) pengenalan , 2) pertumbuhan , 3) kedewasaan , dan 4) tahap penurunan penjualan.   Ide yang dirancang oleh tim manajemen Sony untuk lebih berusaha seinovatif mungkin dalam mencetak produk-produk baru dapat juga dikatakan sebagai upaya dalam melihat situasi dan kondisi dari masa depan suatu produk. Tingkat penurunan penjualan suatu produk jelas harus diantisipasi dengan pemikiran-pemikiran baru dalam mensiasati nilai dari produk tersebut dimasa mendatang. Dan perusahaan Sony dalam menafsirkan keadaan saat ini, mencoba membuat terobosan baru dengan memanfaatkan jaringan broadband serta menghubungkan segala jenis perangkat media elektronik yang nantinya dapat terhubung ke world wide web.  Inilah cara Sony dalam menjaga stabilitas siklus kehidupan produk perusahaan dengan tetap melahirkan inovasi-inovasi terbarunya.

2. Latar Belakang

 

Keunggulan produk-produk teknologi yang diimbangi dengan beraneka ragam kebutuhan hidup menjadi kemudahan sekaligus keuntungan  tersendiri bagi penggunanya. Jepang sebagai parameter kecanggihan teknologi dunia, sampai saat ini terus memacu para pelaku industri-industrinya untuk tak hentinya mencetak inovasi-inovasi terbaik  guna memberi warna baru akan peradaban dunia. Salah satu perusahaan ternama di Jepang, Sony, hadir ditengah maraknya perkembangan inovasi teknologi dunia. Ditangan masura ibuka dan akio morita Sony yang mulanya didirikan pada tahun 1946 dirubah namanya menjadi Sony Corporation di tahun 1958. Kedua insinyur tersebut nampaknya ingin mencoba memahami kehendak konsumen saat itu. Mereka diberikan otoritas penuh dalam hal pengambilan keputusan dan merekapun berkeyakinan bahwa satu-satunya jalan adalah dengan terus menerus mengembangkan produk inovatif dan cutting edge, mencoba melahirkan inovasi berbeda yang belum pernah ada sebelumnya.

Langkah yang diambil Sony untuk memperkuat basis inovasi teknologi dan memasarkan produk secara agresif ke pasar-pasar luar negeri terbukti ampuh dan berhasil.  Bermula ketika Sony mengukuhkan sebuah lisensi paten untuk transistor pada tahun 1953 dan kemudian memfokuskan diri terjun di dunia pasar Amerika untuk produk-produk elektronik konsumen. Strategi ini melahirkan lesatan prestasi gemilang ditubuh Sony, tercatat di tahun 1960 bahwa Sony merupakan perusahaan jepang pertama di Amerika Serikat ditambah lagi sebagai yang pertama pula me-listkan sahamnya di New York Stock Excahange tahun 1961. Namun beriring berputarnya waktu, Sony pun mulai mengalami pasang surut kesuksesan dan kegagalannya. Salah satu contoh produk yang mewakilinya antara lain walkman dan video cassette recorder betamax.

3. Topik Permasalahan

 

Berdasar dari kasus yang ada, dapat kita rangkum bahwa topik/rumusan masalahnya mencakup beberapa hal, antara lain yaitu :

3.1    Melihat dari situasi dan kondisi yang ada sekarang, akankah strategi sony dalam mengembangkan jaringan broadband telah sesuai dengan apa yang telah direncanakan ?

3.2   Apakah penerapan perubahan manajemen ditubuh Sony dengan memodifikasi sistem kompensasi yang menghargai senioritas dengan skema yang lebih berbasis pada kinerja dapat diterima di semua jenjang karyawan dan jika diterima, akankah hal ini memberikan trend positif ?

Tujuan penelitian kasus:

 

  1. Mengetahui secara praktis apakah perubahan sistem kompensasi yang menghargai senioritas dengan skema yang lebih berbasis pada kinerja dapat disetujui para unit karyawannya dan dapat memberikan perubahan berarti.
  2. Untuk mengetahui kemungkinan keberhasilan strategi Sony dalam mengembangkan jaringan broadband dalam mengikuti arus permintaan konsumen dimasa mendatang.

4. Dukungan Teori

4.1 Siklus Kehidupan Produk

Siklus kehidupan produk (product life cycle) adalah suatu konsepsi yang menjelaskan tentang berbagai tahapan pengembangan produk baru mulai dari awal hingga akhir. Siklus kehidupan produk dapat dibagi ke dalam empat tahap utama: (1) pengenalan pasar, (2) pertumbuhan pasar, (3) kedewasaan pasar, dan (4) tahap penurunan penjualan.

4.1.1          Tahap perkenalan pasar (market introduction),

biasanya diawali dengan penjualan yang rendah karena konsumen belum mengetahui tentang adanya produk. Kebijakan promosi sangat diperlukan untuk memberi informasi kepada konsumen terutama tentang kelebihan penggunaan produk perusahaan. Kadangkala memang proses untuk memberitahu konsumen membutuhkan waktu yang cukup lama. Itu sebabnya tahap introduksi merupakan tahap investasi kapital dengan harapan memperoleh keuntungan di masa datang.

4.1.2          Tahap pertumbuhan pasar (market growth),

penjualan industri menunjukanpertumbuhan yang pesat. Pada tahap ini keuntungan rata-rata industri menunjukkan titik puncak untuk kemudian mulai menurun. Inovator memperoleh manfaat keuntungan dari banyaknya konsumen yang membeli produk. Namun, fenomena ini mengundang pesaing untuk memasuki pasar yang sama. Beberapa pesaing mencoba meniru produk yang sukses di pasar atau dapat juga membuat produk dengan cara lebih baik yang pada gilirannya memunculkan berbagai varietas produk. Bentuk persaingan monopolistrik banyak dijumpai  dalam tahap pertumbuhan.

4.1.3          Tahap kedewasaan pasar (market maturity) ,

Terjadi ketika penjualan industri mulai mengalami stagnasi dan persaingan antara perusahaan semakin tajam. Pesaing secara agresif memasuki pasar sehingga mewujudkan bentuk persaingan oligopoli. Keuntungan industri mulai menurun karena biaya promosi yang meningkat dan beberapa pesaing mencoba menurunkan harga untuk menarik lebih banyak konsumen. Perusahaan yang tidak efisien akan sulit untuk beroperasi dalam tahap kedewasaan pasar. Walaupun begitu, dalam tahap kedewasaan pasar masih dimungkinkan juga perusahaan baru untuk memasuki pasar; yang berarti akan menambah tingkat persaingan yang ada.

4.1.4          Tahap penurunan penjualan (sales decline)

Adalah merupakan saat di mana produk lama digantikan dengan produk baru. Pada tahap penurunan, persaingan harga bukan lagi cara yang ampuh untuk mempertahankan diri di pasar. Oleh karena itu, perusahaan yang mempunyai kekuatan pada merek dan loyalitas pelanggan umumnya yang mampu bertahan dalam tahap penurunan.

4.2 KAITAN SIKLUS KEHIDUPAN PRODUK DAN STRATEGI PEMASARAN

Beberapa alternatif strategi pemasaran yang diuraikan pada bagian berikut disesuaikan dengan pola yang dihadapi pada masing-masing tahap siklus kehidupan produk. Walaupun begitu, dalam hal-hal tertentu, masih dimungkinkan juga terjadi penyesuaian. Sebagai contoh, pada tahap kedewasaan dapat  terjadi perusahaan tetap mempergunakan strategi memperkuat merek produk, walaupun beberapa perusahaan sudah mulai bentuk strategi penempatan kembali merek produk.

4.2.1 Strategi Pemasaran Pada Tahap Perkenalan Pasar

Pada tahap introduksi atau perkenalan pasar tujuan utama yang ingin dicapai dalam penerapan strategi pemasaran adalah untuk memperoleh kesadaran konsumen terhadap  produk. Strategi produk akan diarahkan untuk meyakinkan bahwa standar kualitas produk yang dibuat dapat diterima oleh konsumen. Strategi harga yang dipergunakan pada tahap introduksi  adalah strategi penetrasi (penetration strategy) yaitu strategi harga murah yang berati di bawah harga pesaing atau strategi melambung atau strategi harga di atas harga yang titetapkan pesaing (skimming strategy) untuk membangun image dan menarik konsumen pada segmen tertentu. Strategi penetrasi pasar ditempuh apabila perusahaan menghadapi situasi permintaan yang elastisitas dan persaingan yang tajam.

4.2.2 Strategi Pemasaran Pada Tahap Pertumbuhan

Dalam tahap pertumbuhan tujuan utama dari strategi merek adalah untuk memperoleh loyalitas diantara pelanggan yang telah mencoba menggunakan merek produk perusahaan. Kebijakan produk kemudian diarahkan untuk mengidentifikasi beberapa kekurangan pada produk menurut pandangan konsumen dan berupaya semaksimal mungkin memmenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Beberapa perubahan dalam strategi pemasaran dapat dimungkinkan dalam tahap pertumbuhan ini. Dalam pengiklanan misalnya, tujuan utama yang ingin dicapai adalah untuk “mendidik” konsumen atau inenjelaskan konsumen tentang manfaat produk. Jadi, pengiklanan kini tidak terbatas lagi hanya pada upaya membentuk pemahaman konsumen terhadap merek produk saja.

4.2.3 Strategi Pemasaran Pada Tahap Kedewasaan

Penjualan pada tahap kedewasaan mulai menurun karena adanya bentuk persaing,  yang tajam, keusangan teknologi yang dipergunakan, atau mungkin juga perubahan dalam kebutuhan dan selera konsumen. Strategi pemasaran yang umum dipergunakan dalam tahap kedewasaan ini adalah revitalisasi produk yang ada untuk kemudian menempatkan produk  kembali dalam petapersaingan (brand repositioning). Dalam strategi revitalisasi dapat terjadi perusahaan harus melakukan reorientasi terhadap segmen dan target pasar yang akan dilayani di masa datang.

4.2.4 Strategi Pemasaran Pada Tahap Penurunan

Ketika penjualan perusahaan dan penjualan industri mulai mengalami penurunan yang terus menenerus, maka perusahaan harus mengambil tindakan dengan cara merancang  kembali produk dalam waktu singkat atau mungkin juga justru menarik produk dari pasar. Strategi penarikan produk dari pasar (harvesting strategy) dapat dilakukan apabila penerimaan penjualan lebih kecil dibanding dengan biaya-biaya pemasaran yang telah dikeluarkan perusahaan. Apabila strategi yang ditempuh adalah dengan modifikasi produk, maka tujuan utama yang ingin dicapai dalam tahap penurunan penjualan adalah melakukan reintroduksi merek produk. Ini berarti bahwa perusahaan harus berupaya semaksimal mungkin untukmemperkenalkan produk dengan menggunakan formulasi pemasaran yang baru. Dengan demikian, produk diperlakukan seperti halnya produk baru kembali.

5. Sumber-sumber Data

Dalam pembahasan kasus ini metode data yang digunakan ialah metode pengumpulan  Data Sekunder, dapat dilihat dari cara penyampaian data yang disebutkan dalam kasus yang lebih berorientasi pada hasil/data statistik yang sudah ada dan tercatat sebelumnya.

6. Alat Analisis

Teknik analisis data  :

Hubungan Antar Variabel Nominal (Untuk mengetahui keterikatan Tim manajemen Sony dengan sikap divisi-divisi kerja perusahaan terhadap kebijakan memodifikasi skema sistem kompensasi senioritas)

Metode yang digunakan :

Phi(Ø) & Crammer’s Phi

Variabel-variabel terkait  :

  • Variabel Bebas  :

–          Karyawan divisi-divisi kerja perusahaan Sony, seperti :

  • Divisi Niaga
  • Divisi Keuangan
  • Divisi Teknik
  • Divisi Operasional
  • Divisi Personalia
  • Divisi IT
  • Variabel independent :

–          Sikap terhadap kebijakan modifikasi skema sistem kompensasi senioritas

  • Setuju
  • Tidak setuju

Software yang digunakan : Software SPSS Statistics v.15   for Windows

7. Hasil pembahasan kasus diantaranya :

 

Jika penelitian akan hubungan-hubungan yang terlibat dalam kasus telah selesai dianalisis dan data hasil penelitian tersebut telah kita dapatkan, maka otomatis kita akan dapat mengetahui apakah ada atau tidak keterikatan Tim manajemen Sony dengan sikap divisi-divisi kerja perusahaan terhadap kebijakan memodifikasi skema sistem kompensasi senioritas berbasis pada kinerja, jika hasilnya memiliki hubungan, kita juga dapat mengetahui seberapa kuat hubungan antar sikap divisi-divisi kerja perusahaan tersebut terhadap kebijakan memodifikasi skema sistem kompensasi senioritas yang condong kepada basis kinerja. Dari hal tersebut, barulah nantinya kita dapat memberikan kesimpulan dari hasil penelitian dari kasus yang telah dibahas adakah hubungan antar variabel atau tidak.

 

8. Pengembangan Analisis

Kritik yang muncul dari pembahasan kasus ini ialah bahwa tujuan inti daripada kasus ini nampaknya terbilang bercabang-cabang, tidak terfokus pada satu pokok pembahasan. Artikel kasus yang ada disatu sisi membicarakan tentang upaya rencana Sony untuk mengembangkan bisnis jaringan broadband, namun disisi lain Sony juga membicarakan upayanya untuk memodifikasi skema manajemen sistem kompensasi bagi senioritas. Jadi, sebenarnya dalam kasus ini terdapat beberapa hal yang harus di-analisis, mengingat tema yang disediakan pun bersifat meluas tidak terfokus pada satu titik.

9.  Judul-judul penelitian yang terkait dengan kasus

 

  • HUBUNGAN ANTARA KOMITMEN KARYAWAN DENGAN SIKAP TERHADAP PENERAPAN PROGRAM KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA KARYAWAN PERUSAHAAN. Chasanah, Nur (2008) .Universitas Muhammadiyah Surakarta.
  • ANALISIS PENGARUH ETIKA KERJA ISLAM TERHADAP SIKAP KARYAWAN BAGIAN AKUNTANSI DALAM PERUBAHAN ORGANISASI (Studi Kasus pada Bank Umum Non Syariah di Wilayah Eks Karesidenan Banyumas Jawa Tengah). Sari Suasana Dewi, Icuk Rangga Bawono (2008). Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.

Referensi review kasus :

Utomo Hargo, Seri Diktat Kuliah Manajemen Pemasaran, Penerbit Gunadarma, 1993, Jakarta.

Modul Riset Bisnis, Lembaga Pengembangan Manajemen Universitas Gunadarma

Categories: ekonomi - (manajemen pemasaran) | Tags: , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

silakan tuliskan komentar pada kolom dibawah ini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: