Tolong ! Jangan Bodohi Kota Depok dengan Gaya konsumtivisme

Tolong ! Jangan Bodohi Kota Depok dengan Gaya konsumtivisme

gambar 1

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi secara perlahan namun pasti dengan sendirinya seolah telah membentuk karakter jati diri Kota Depok. Dahulunya yang kita lihat Depok masih sangat sederhana dengan produk buah unggulannya yaitu belimbing, tetapi kini telah tersulap menjadi Kota yang modern menyesuaikan arus perkembangan dunia global. Di usianya yang telah menginjak angka 11, Depok terus melesat maju dengan tetap penuh ketulusan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakatnya, terbukti dengan dilakukannya pemekaran Kecamatan di Kota Depok dari enam menjadi 11 Kecamatan merupakan wujud realisasi dari Perda Kota Depok Nomor 08 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kecamatan di Kota Depok, yang diharapkan akan dapat mempermudah akses hubungan antara pihak masyarakat dengan pihak pemerintah.

Bila kita mau sejenak berfikir, sudah sejauh manakah pelayanan yang diberikan Kota Depok? Mungkin kita akan dengan lantang menjawab bahwa masih sangat banyak pembenahan yang harus dilakukan Kota Depok untuk mewujudkan suatu wilayah yang sangat diidam-idamkan sekaligus dibanggakan oleh warganya. Kita pun harus mengakui bahwa memang masih kurangnya pemerataan antar berbagai daerah. Mereka-mereka yang mempunyai kemurnian hati nurani  sangat menginginkan tumbuhnya keadilan sebagai masyarakat berbangsa dan bernegara. Agar terciptanya harmonisasi bagi semua lapisan masyarakat Depok, dari masyarakat kelas bawah, menengah sampai dengan masyarakat kelas atas. Namun semua itu seolah seperti nyanyian lama yang selalu dilantunkan masyarakat tanpa ada yang mau menggubris, tanpa ada yang mau mendengarkan secara paham betul apa yang sebenarnya dirasakan masyarakat Depok. Ketimpangan tetap saja jelas terasakan bagi masyarakat kecil yang menyambung hidupnya di Kota Belimbing ini.

Inilah yang seharusnya menjadi perhatian kita semua, bahwa betapa pentingnya terbentuk suatu pemerataan diberbagai bidang kehidupan. Dan dalam halnya kehidupan sosial, hal yang cukup menjadi sorotan Kota Depok saat ini yaitu mengenai budaya atau gaya hidup konsumtivisme. Mengapa kita katakan demikian? Karena jika kita melihat dengan jeli fakta yang ada dalam masyarakat Depok, khususnya masyarakat Kota bahwa kebanyakan dari mereka kini seperti sudah terjangkit suatu penyakit konsumtivisme yang sedemikian kuatnya menelusuk ke jantung Kota Depok tanpa mengenal batasan usia, derajat sosial, dan  juga wilayah. Kita lihat saja di seputaran jalan Margonda, terdapat banyak pusat perbelanjaan sampai restoran atau cafe-cafe yang berjejeran. Terlebih kaum muda yang sejatinya merupakan kaum generasi penerus, harus rela membuang-buang waktunya berjam-jam hanya untuk melakukan shopping di pusat perbelanjaan, chating di gerai-gerai warnet, berkumpul menikmati secangkir teh hangat di cafe-cafe pinggir jalan atau hanya sekadar (nongkrong) di mall-mall.

Budaya menabung dicap sebagai hal aneh yang semestinya dilakukan kaum muda saat ini. Mereka telah terbuai dengan merk-merk internasional yang dipamerkan pusat-pusat perbelanjaan, bermental pengekor karena malu melihat temannya mampu membeli barang-barang atau bergaya layaknya trend anak muda masa kini. Sekilas kejadian tersebut merupakan sebagian contoh dari gaya hidup konsumtif yang belakangan tanpa kita sadari telah menjadi sebuah kebiasaan. Ditambah lagi dengan strategi pemasaran dan juga iklan yang sangat membujuk hati kalangan masyarakat Depok sehingga membawa masyarakat terjebak dalam arus konsumtif atau kecanduan berbelanja yang sifatnya ikut-ikutan atau terpengaruh dan emosional, tidak lagi mampu bersikap rasional.

Menurut ekonom Standard Chartered Bank, Fauzi Ikhsan, fenomena seperti ini yang kita kenal sebagai Konsumtivisme merupakan dampak dari globalisasi dan sistem kapitalisme modern yang mendasarkan pada tata nilai materialistis, mulai dari tingkah laku, pola pikir, hingga sikap. Jelas pasti ada rasa kekhawatiran dalam diri kita terhadap gejala konsumtivisme, karena kita pun meyakini gaya hidup konsumtivisme akan cenderung memusnahkan nilai-nilai budaya leluhur, mencabik identitas bangsa serta melenyapkan rasa kepedulian antar sesama manusia. Mereka lebih cenderung memikirkan dirinya sendiri, tanpa mau mengikhlaskan diri untuk bertenggang rasa terhadap mereka yang ada dalam lingkup ekonomi kelas bawah.

Pada akhirnya, kita sendirilah sebagai masyarakat Depok yang seharusnya berfikir bagaimana menanggulangi fenomena seperti ini? Mau tidak mau Depok harus mampu berfikir jauh kedepan bukan hanya berfikir pendek dan kemudian meraup keuntungan semu semata. Kewajiban kitalah menjadikan Depok sebagai Kota yang berkarakter unggul, mempunyai mental pelopor, bukan pengekor. Mungkin alternatif yang harus diperhitungkan untuk mengatasi kecendrungan bersikap konsumtivisme ini adalah sekiranya entah itu Pemerintah ataupun masyarakat Depok bisa memberikan wahana rekreasi sebagai tempat berkumpul, bermain, beristirahat bagi masyarakat dengan sanak keluarganya ataupun dengan para kerabatnya yang tidak hanya aman dan nyaman tapi juga dari segi ongkos sangat murah alias tidak dikenakan biaya. Sehingga dapat menyedot segenap perhatian masyarakat dan mampu menjadi tempat berkumpul, berbaur kalangan masyarakat Depok , apakah itu masyarakat kelas bawah ataupun sampai ke masyarakat kelas menengah.

gambar 2

Contohnya kita bandingkan dengan Kota-kota lain di Indonesia. Seperti di Denpasar Bali misalnya, disana terdapat alun-alun Kota yang bernama Niti Mandala Renon, sebuah lapangan bebas dan luas yang tepat ditengahnya terdapat museum dimana masyarakat dapat memanfaatkan secara bebas lapangan yang ada di sekitar museum untuk berbagai keperluan, seperti olahraga, lari-lari pagi & sore dipinggir lapangan, berkumpul dengan para keluarga dsb. Adapun di Jakarta Pusat kita kenal adanya Taman Menteng sebagai taman rekreasi keluarga. Di Bandung terdapat satu pusat keramaian Kota yaitu lapangan Gasibu Bandung. Di Yogyakarta terdapat alunalun Kidul (Selatan). Di Makassar, alunalun Kotanya bernama Karebosi. Terletak di jantung Kota Makassar dan menjadi titik nol kilometer untuk mengukur jarak dari pusat Kota. Atau mungkin Benteng Kuto Besak di Kota Palembang. Dan masih banyak lagi di Kota-kota lainnya di Indonesia.

Terlepas dari Kota-kota tersebut, bagaimana dengan Depok sebuah Kota tempat kita bernaung?? Aneh memang ketika Pemerintah kurang memberikan perhatian lebih terhadap kebutuhan rekreasi masyarakat, sehingga pada ujungnya rasa emosi, hasrat masyarakat untuk merasakan hiburan di tengah udara  yang jernih, harus terlampiaskan dengan gaya hidup konsumtivisme. Mungkin bagi masyarakat dengan ekonomi kelas atas, mereka pasti mampu menerapkan gaya hidup seperti itu, namun bagaimana dengan nasib masyarakat kelas bawah, haruskah dia hanya menjadi penonton di tengah lautan konsumtivisme. Justru yang timbul kemudian adalah kecemburuan sosial yang ujungnya akan berdampak pada tindakan-tindakan kriminal. Inilah yang sebenarnya mesti untuk kita cegah. Mari kita belajar dari Kota-kota yang telah maju, Kota yang dengan senang hati dapat melayani masyarakatnya sepenuh hati, mampu memberdayakan masyarakatnya, bukan membodohi masyarakat dengan sifat-sifat (maaf) ke”barat”an yang kecanduan berbelanja. Mari bersama kita suarakan mengenai dilematika ini, karena kalau bukan kita siapa lagi yang akan mampu peduli akan masa depan Kota Depok yang cerah, berkarakter unggul, dapat memberikan contoh positif bagi Kota-kota lain di seluruh penjuru Indonesia bahkan jika memungkinkan bagi Kota-kota di Dunia. Tidak ada alasan bagi kita untuk hanya berdiam diri melihat sesuatu yang salah, dan juga tak ada alasan bagi kita untuk tidak mencintai Kota Depok. Mari kita tumbuhkan kepedulian. Bangkitkan rasa ”care” terhadap sesama. Ayo Depok ku, mari bersama kita keluar bangkit dari penjara konsumtivisme.

Referensi :

  • Roro Rahmah Dalam Cengkeraman Konsumtivisme

Sumber Gambar

gambar 1 :

http://eslpod.com/eslpod_blog/wp-content/uploads/2007/12/shopping-mall.jpg

http://www.eslpod.com/eslpod_blog/2007/12/

gambar 2 :

http://lh3.ggpht.com/_9EcOlWolKao/SwYKDZ8_0uI/AAAAAAAAAOY/C57zbJqp2WQ/my-pic-0009.jpg

http://archive.kaskus.us/thread/2788538

Kontribusi oleh :

Septian Prima Rusbariandi

Mahasiswa Fakultas Ekonomi

 

*semoga artikel ini dapat memberikan manfaat dan kontribusi positif bagi para pembaca sekalian.

 

Iklan
Categories: catatan tentang opini pribadi | Tag: , | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “Tolong ! Jangan Bodohi Kota Depok dengan Gaya konsumtivisme

  1. Aslm. Mas ikutan Lomba Blog Depok kan, nah di laman ini http://lombablogdepok.com/peserta-lomba-blog-depok disebutkan bahwa Mas belum menautkan link tulisan yang diikutsertakan, silakan dicek dan daftar ulang. Waslm.

    • waalaikumsalam wr.wb

      Terima kasih banyak kepada mas abu faqih yang telah mengingatkan mengenai link tulisan yang belum terdaftar. Sebenarnya saya sudah mengirimkan Link URL tulisannya via email ke pihak panitia. dan mudah-mudahan email yang saya kirim segera mendapatkan konfirmasi dari pihak panitia. Amin

silakan tuliskan komentar pada kolom dibawah ini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: