Nasib Perekonomian Bangsa ku Kini

Nasib Perekonomian Bangsa ku Kini

Arus perputaran waktu yang telah terlewati meninggalkan berbagai catatan yang menghiasi sejarah Bangsa Indonesia. Runtutan kejadian itu kemudian menjadi tolak ukur bagi masyarakat pada umumnya untuk menilai seberapa jauh keberhasilan yang telah diraih oleh Bangsa ini. Khusus berbicara mengenai perkembangan ekonomi Bangsa ini, mungkin tak ada habis-habisnya jika kita bahas secara gamblang. Sampai saat ini yaitu dipenghujung tahun 2010, perekonomian Indonesia cukup menjadi sorotan. Ada sebagian pihak yang berpendapat bahwa terdapat peningkatan dari perkembangan ekonomi Indonesia, namun tak sedikit pula ada pihak-pihak yang beranggapan bahwa perekonomian Indonesia tidak mengalami peningkatan. Kedua pendapat tersebut setidaknya mesti kita hargai walaupun tidak sepenuhnya pendapat mereka kita terima.

Secara kasat mata, memang (bisa) dikatakan perekonomian Indonesia meningkat, jika kita pandang dari sudut Makro. Namun, jika dipandang dari sudut Mikro, rasa-rasanya kita tak melihat perkembangan yang optimal dari jalannya perekonomian Indonesia. Jurang-jurang antara si Kaya dan Si Miskin masih saja menganga. Bajay-bajay di jakarta terlihat tak jarang  sesekali berpapasan dengan mobil-mobil mewah yang digunakan oknum Pemerintah atau masyarakat  kelas atas. Pertumbuhan penduduk yang semakin tahun semakin meningkat saja, belum mampu diimbangi dengan lapangan kerja yang memadai. Ketika kehidupan ekonomi mengkotak-kotakkan masyarakat menjadi beberapa kelas,mulai dari kelas bawah , menengah, sampai kepada kelas atas. Sungguh semua ini menjadi momok yang mengkhawatirkan jika kita mau sedikit berempati. Lalu pertanyaan klasik yang biasa dilontarkan ialah “mengapa ini semua bisa terjadi?”.

Jelas jawabnya adalah pasti ada  yang salah dari sistem pengelolaan perekonomian Bangsa ini, sehingga uang yang sebenarnya begitu banyak , harus bertumpu pada sebagian orang saja, tidak menyebar merata mengalir ke orang-orang yang memang berhak untuk mendapatkannya. Dan entah sampai kapan fenomena seperti ini terus berlanjut, ketika kita mengidamkan perekonomian yang berkeadilan lagi menjunjung kesejahteraan rakyat layaknya pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, dimana pada masa ia memegang tonggak pemerintahan, konon tak satupun masyarakat yang mau diberikan zakat, dikarenakan kebanyakan masyarakatnya  merasa terpenuhi segala apa yang menjadi kebutuhannya. Subhanallah,  Akankah mungkin nasib perekonomian Bangsa ini akan seperti pada masa-masa pemerintahan Khalifab Umar bin Abdul Aziz?

Kendatipun hal itu hanya menjadi sebuah impian, tetapi tak ada salahnya jika kita  mau sedikit berfikir kedepan. Kita akui masih banyak yang perlu dibenahi dari bangsa ini, sebelum menginginkan kesejahteraan ekonomi, seperti misalnya Moralitas dari para penduduknya, menjunjung tinggi nilai-nilai budi pekerti yang baik, etos hidup optimis, maupun sifat saling menumbuhkan simpati antar sesama. Ketika hal-hal tersebut telah terpenuhi bukan tidak mungkin perekonomian Indonesia akan bangkit memberikan keadilan yang merata ke seluruh masyarakatnya.

kontribusi oleh :

Septian Prima Rusbariandi

Citayam – Depok

 

Categories: catatan tentang opini pribadi | Tags: | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

silakan tuliskan komentar pada kolom dibawah ini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: