Ini Kisah Pemimpin yang Peduli Nasib Rakyatnya

Bermula ketika saya membaca buku berjudul “kecerdasan ruhaniah”, sempat saya membaca mengenai empati seorang pemimpin yang begitu besar kepada rakyatnya, beliau adalah Umar Ibnul Khaththab r.a. Diceritakan dalam buku tersebut bahwa sang kahalifah Umar tampak menggigil karena tidak memakan gandum dan minyak samin hampir satu bulan lamanya. Ada seseorang yang bertanya kepadanya, “Wahai Amirul Mukminin, betapa seorang Amir seperti engkau terliat sangat lesu, wajahmu pucat dan hanya makan roti kering. Engkau kelihatannya sedang menyiksa diri. Padahal, dengan kekuasaanmu, engkau hanya tinggal meminta kepada kas negara (baitul mal).” Umar menjawab, “Bagaimana mungkin aku menjadi pemimpin rakyat bila tidak merasakan derita yang mereka rasakan?” *

Sungguh ini merupakan cerita yang dapat menginspirasikan kita semua sebagai jiwa manusia. Sangat berbanding terbalik bagi kebanyakan pemimpin-pemimpin negara di dunia sekarang ini, ada seorang pemimpin yang dengan penuh keikhlasan turut merasakan apa yang diderita oleh rakyatnya. Sosok pemimpin seperti inilah yang semestinya di contoh oleh pemimpin-pemimpin zaman sekarang. Khalifah Umar yang notabene juga belajar banyak dari baginda Nabi Muhammad SAW, memberikan contoh yang sebenarnya patut ditiru oleh generasi-generasi penerusnya. Kita pun sesungguhnya merasa sangat heran, justu mayoritas pemimpin sekarang ini lebih cenderung tampil dengan segala kekuasaannya, padahal kita sadari bersama kekuasaannya itu hanyalah bersifat sementara, bahwa sejatinya ada amanah besar yang melekat di punggung para pemimpin-pemimpin tersebut untuk sekiranya dapat melayani rakyatnya sebaik mungkin, bukan malah menghiraukan rakyatnya yang sedang dilanda berbagai polemik. Semoga dikemudian hari di kolong langit ini, muncul Umar-umar baru yang mampu meneladani sifat empati yang begitu tinggi kepada rakyatnya, berakhak mulia yang mampu melayani umat muslim khususnya. Amin.

* (K.H Toto Tasmara, Kecerdasan Ruhaniah, hal 35)

Iklan
Categories: catatan sikap yang seharusnya, tokoh | Tag: | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

silakan tuliskan komentar pada kolom dibawah ini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: