M. Chozin Amirullah : Kemewahan Menjadikan Kita Tumpul Sosial

Menjelang akhir Juli 2010 M. Chozin Amirullah mendapat undangan mengisi acara LK II di HMI Cabang Bogor. Dengan menjajak seorang staf PB HMI untuk mendampingi, M. Chozin Amirullah berangkat menggunakan KRL (Kereta Api Listrik) menuju Bogor. Perjalanan Jakarta-Bogor kami tempuh dalma waktu lebih kurang satu jam. Dan berikut ini ialah catatan perjalanan bang M. Chozin Amirullah menuju bogor dan hikmah yang bisa dipetiknya:

Sebagaimana kita sudah maklum, KRL Jakarta-Bogor adalah kereta yang paling padat penumpangnya. Ribuan manusia dijejalkan dalam gerbong-gerbong rangkaian kereta yang setiap hari bertugas membawa lebih kurang 500 ribu commuter Jakarta tersebut.
Naik dari stasiun Manggarai, kami sudah tidak punya peluang mendapatkan tempat duduk. Kami terpaksa berdiri, berhimpit-himpitan dengan penumpang lain, berjubel dalam satu gerbong menuju Bogor. Masih untuk kereta yang kami naiki ber-AC sehingga meskipun berjubel suhu udaranya masih tetap dingin.

Kereta berjalan meninggalkan stasiun, aku yang baru saja masuk mencoba menyesuaikan letak pijakan kakiku agar tidak terlalu berhimpitan dengan penumpang lain. Ini adalah cara paling lumrah dilakukan, berdiri dengan posisi yang efisien, tangan pegang handel yang pas, dan usahakan untuk sesedikit mungking berdesakan. Sebab semakin banyak desakan langsung, semakin banyak tenaga yang terkuras untuk mempertahankan posisi tegak badan.

Beberapa menit kereta berjalan, aku masih belum juga mendapatkan posisi stable-ku. Di bagian belakangku masih terasa orang-orang mendesak-desakku ke depan. Desakan itu akan semakin keras ketik kereta direm atau berbelok. Aku tengok ke belakang, ternyata sosok laki-laki muda tepat berdiri di belakangku. Ia mengenakan tas punggung, dan tas itulah yang dari tadi mendesak-desakku.

Kutatap orang itu, tak ada reaksi…! Tak tersirat diwajahnya perasaan bersalah terhadapku, karena telah mendesak-desakku. Aku mulai berpikir,…  jangan-jangan dia tidak sadar bahwa dia telah berkali-kali mendesakku.

Aku coba tatap sekali lagi,…tetap tidak ada reaksi. Dan benar,….orang itu benar-benar tidak sadar kalau dia telah melakukan sesuatu yang merugikanku. Seandainya ia tahu, aku yakin dia akan minta maaf dan tidak akan melakukan lagi.

Pertanyaannya, kenapa orang itu tidak sadar? Jawabannya, karena tas punggunya telah menghalangi kepekaannya. Tas punggung itu telah menciptakan jarak antara dirinya dengan saya. Tas punggung itu pula yang menjadikan dia tidak peka, tas itu telah menjadi penghalang untuk merasakan jika ia telah mendesakku.

Pelajaran yang dapat kita petik dari kejadian di atas adalah, seringkali kita menjadi tidak peka dengan penderitaan rakyat kita karena kita sudah terlalu nyaman. Hidup yang terlalu nyaman akan menyebabkan kita tumpul akan penderitaan orang lain. Hidup dalam keserbamemewahan akan menjadikan kita berjarak dengan orang-orang. Kita tidak pernah sadar  jika ada kemungkinan orang lain yang justru akan menjadi obyek penderita atas kemewahan yang kita raih.

Sebagai contoh sederhana, jika kita naik mobil mewah, sebenarnya secara tidak disadari mobil itu telah menciptakan jarak antara diri kita dengan kenyataan masyarakat pada umumnya. Kita tidak lagi berpikiran apakah mobil yang kita naiki tersebut telah menyebabkan penderitaan bagi orang lain atau tidak. Kita tidak pernah berpikir bahwa gas buangan yang dihasilkan oleh mobil mewah kita telah menyebabkan orang-orang yang berada diluar mobil harus menanggung akibat oleh emisi karbon yang keluar dari mobil kita. Atau minimal, sementara kita nyaman dalam mobil yang ber-AC tersebut, kita tidak pernah tahu bahwa mobil itu telah menyebabkan panas bagi orang-orang yang tidak menaikinya.

Hal-hal sebagaimana di atas pulalah yang sebenarnya diidap oleh para kapitalis pemilik modal itu. Dengan kekuatan modal yang kuat, mereka bisa melakukan investasi di mana saja. Mereka menikmati keuntungan dan kenyamanan hidup dengan “berternak” uang, dan hidup mereka hanya berkutat dari satu hotel ke hotel lain, dari satu kafe ke kafe yang lain. Mereka tidak pernah tahu jika atas uang yang mereka investasikan, pabrik-pabrik yang dioperasikannya telah membunuh warga lokal, menyerobot tanah warga, menyedot sumber daya alam secara eksersif, dan bahkan menyebabkan perusakan ekosistem yang memusnahkan habitat alam.

Dari :  M. Chozin Amirullah – Ketua Umum PB HMI 2009-2011

Sumber : http://www.pbhmi.net/index.php?option=com_content&view=article&id=937:kemewahan-menjadikan-kita-tumpul-sosial&catid=85:kolom-ketua&Itemid=187 , diakses 4 januari 2011

Categories: tokoh | Tags: | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

silakan tuliskan komentar pada kolom dibawah ini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: