Mahasiswa dan Kritik Kepribadian

Mahasiswa dan Kritik Kepribadian

Begitulah mahasiswa di zaman sekarang ini. Kadang diri ini senantiasa bertanya-tanya, apa seperti ini jugakah mahasiswa di zaman terdahulu?, pertanyaan ini jelas melekat di otak saya mengingat cukup banyak kepribadian aneh yang saya temukan dalam lingkup dunia mahasiswa. Saya berani katakan demikian karena ada beberapa diantara mereka yang seolah melupakan tanggung jawab dari predikat sebagai mahasiswa yang disandangnya. Walau memang tidak semua mahasiswa demikian adanya. Tanggung jawab/amanah yang semestinya mereka jalani, justru dianggap hal kecil yang kemudian mereka hiraukan. Mereka-mereka itu seakan lupa, bahwa biaya yang dikeluarkan orangtuanya adalah sangat mahal, tetapi betapa sedikitnya perhatian mereka terhadap hal tersebut.

Sebagian mahasiswa yang saya sebutkan disini justru merasa bangga telah mencetuskan kebohongan publik, walau hal itu kunjung disadarinya. Mereka dengan statusnya sebagai generasi terpelajar (mahasiswa) terlihat memiliki kepribadian kuat layaknya insan akademis. Namun dibalik itu semua, sungguh betapa sedikitnya suatu manfaat yang ia peroleh dari statusnya sebagai mahasiswa itu. Dipandang secara cermat, dari ujung kaki sampai ujung rambut. Penampilan mereka terlihat rapi, saking terlalu rapinya, mereka pergi menuju kampus seperti orang-orang yang ingin berpergian ke tempat-tempat pertunjukan/mall atau sejenisnya.

Saya pikir masyarakat selama ini telah terbohongi jika melihat mahasiswa hanya sebatas dari penampilannya, tanpa masyarakat itu mengetahui apa yang sebenarnya melekat dalam otak mahasiswa itu sendiri. Saya perhatikan mahasiswa saat ini sudah sangat rapuh, bagai batang balok kecil yang setiap hari harus diguyuri hujan untuk kemudian keropos dengan mudahnya. Mahasiswa seperti itu seolah tak punya kepribadiaan lagi. Tak punya karakter, tak punya prinsip, tak punya keyakinan diri, lebih-lebih jika disuruh untuk mengambil suatu keputusan, mereka betapa sangat dengan sifat pengecutnya tak mampu mengambil keputusan karena takut menanggung resiko dari keputusan yang dipilihnya.

Inilah realita yang ada sekarang ini, walau kita harus akui bahwa banyak faktor yang mungkin saja mempengaruhi mereka. Namun, justru disinilah letak tantangan itu, bagaimana seharusnya mahasiswa yang sudah mampu berfikir secara dewasa dapat menangkal faktor-faktor buruk yang semakin deras dalam membujuknya. Ketika seorang mahasiswa itu mampu mengatasi faktor buruk tersebut, disitulah nantinya dia akan menemukan karakternya sebagai insan akademis. Karena sungguh bangsa ini sangat membutuhkan mahasiswa yang berkarakter, tentunya karakter yang mampu hijrah dari suatu kebodohan menuju suatu kemuliaan.

salam mahasiswa

Iklan
Categories: catatan tentang opini pribadi | Tag: | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

silakan tuliskan komentar pada kolom dibawah ini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: