Menyoroti Ketimpangan Ekonomi di Indonesia

Alhamdulillah, syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa masih memberikan kepada kita nikmat kesehatan serta nikmat iman dan islam sehingga dengan nikmat-Nya itu sampai saat ini kita masih diberi kesempatan untuk melanjutkan perjalanan panjang dalam konteks kehidupan dunia. Dalam penulisan kali ini, saya akan mengambil tema tentang “menyoroti ketimpangan ekonomi di Indonesia”. Setelah sekian lama yaitu sekitar 65 tahun indonesia dinyatakan merdeka dari kebiadaban kolonialisme yang berjalan hampir 4 abad lamanya. Di perjalanannya kini, bangsa Indonesia berusaha bangkit dari segala keterpurukannya, terus berusaha demi menggapai cita-citanya sebagai bangsa yang bermartabat dan terhormat di deretan bangsa-bangsa di dunia. Dengan penduduk yang cukup padat yakni hampir 238 juta jiwa , Indonesia kini berada di peringkat ke 4 sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak setelah cina (1), india(2) dan AS(3).

Jelas hal ini merupakan rekor sekaligus tantangan tersendiri bagi bangsa ini untuk bagaimana memberikan keadilan sosial untuk seluruh warga negara yang hidup di bumi pertiwi tanah air tercinta ini. Karena harus diakui, jujur.., jika berbicara keadilan khususnya di negara ini, nampaknya kata keadilan itu masih sangat jauh dirasakan bagi sebagian masyarakat Indonesia yang harus hidup di bawah garis kemiskinan atau hidup di garis pas-pasan. Betapa banyak sudah buruh-buruh yang meminta kepada pemerintah agar sistem kontrak di hapuskan, tetapi untuk merealisasikan hal ini nampaknya masih sangatlah sulit. betapa banyak rakyat-rakyat kecil yang menginginkan taraf hidup yang paling tidak berada pada garis standar, tapi apa daya bangsa ini bagi sebagian masyarakat masih saja seperti sebuah penjara, masyarakat seolah terkekang dan tidak nyaman, merasa penat hidup di negaranya sendiri. Perumpamaannya bagi sebagian rakyat kecil itu ialah seperti terpenjara di tanahnya sendiri.  Ironi memang. Padahal jika kita mau membuka mata lebar-lebar, masih banyak terdapat masyarakat menengah ke atas yang menikamati sarana dan fasilitas kehidupan yang serba mewah belum lagi jika kita perhatikan beberapa oknum pejabat yang juga hidup demikian, namun di sisi lain rakyat kecil harus mempertaruhkan nyawanya hanya untuk mencari sesuap nasi demi menafkahi keluarganya. Jenjang yang menganga antara si miskin dan si kaya seolah setiap waktu semakin melebar saja, oh kawan ku entah sampai kapan hal ini akan terus dan tetap bergulir.

Sampai kapankah ? Pertanyaan seperti ini mungkin sulit terjawab bagi sebagian orang, namun merupakan hal yang mudah bagi sebagian orang lainnya jika mereka melihat dari sudut yang berbeda. Dimana mereka melihat kesenjangan taraf hidup ini berawal dari masih terdapatnya sistem (UU) yang salah plus ditambah lagi pelaksanaan sistem kehidupan yang tak kunjung optimal. Oleh karenanya harus ada peninjauan kembali sistem kehidupan ini, menuju sistem kehidupan yang mendukung berperilaku hidup berasaskan keadilan bagi seluruh rakyat. Atau setidaknya kita mulai saja dari diri sendiri , untuk berfikir sekaligus bersikap adil terhadap sesama manusia, alam dan lingkungan agar kelak terjalin kehidupan yang harmoni. Amin.

Categories: catatan tentang opini pribadi | Tags: | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

silakan tuliskan komentar pada kolom dibawah ini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: