Mahasiswa Tradisional vs Mahasiswa Modern

Mahasiswa menduduki Gedung MPR/DPR pada Mei 1998. (KOMPAS/EDDY HASBY)

Bismillahirrahmanirrahim, (In the name of Allah, the most Gracious, the most Merciful).

Ketika kita berbicara tentang Mahasiswa, mungkin yang terbesit dalam pikiran kita adalah suatu agen perubahan bangsa atau aset penerus generasi bangsa atau mungkin yang dikenal dengan kaum intelektual, serta kaum pembaharu. Berbagai cap yang tertuju pada Mahasiswa seperti yang telah disebutkan tadi, boleh jadi ada benarnya juga. Mengapa demikian? karena kalau kita mau mengkaji lebih dalam itulah sesungguhnya yang menjadi fungsi sekaligus hakikat dari apa yang disebut sebagai Mahasiswa. Harapan yang sangat besar tak hanya tertanam bagi bangsa, dan segenap elemen masyarakat Indonesia tetapi juga bagi para pendahulu-pendahulu kita yang lebih dulu hidup di dunia ini, yang mana mereka telah mengorbankan segala energi pikirannya, fisiknya, spiritualnya hanya untuk kemajuan, kemerdekaan dan kesejahteraan para generasi penerusnya. Fakta yang nampak kepermukaan sekarang ini ialah justru mulai ada kemrosotan terhadap fungsi dan hakikat dari apa yang dikatakan Mahasiswa, terkhusus di Indonesia ini. Kini pergeseran-pergeseran nilai-nilai kemahasiswaan perlahan mulai terlihat jelas memudar seiring perputaran zaman.

Apabila kita lakukan kilas balik terhadap peranan mahasiswa di masa-masa terdahulu, anggaplah kita sebut mahasiswa demikian sebagai mahasiswa tradisional, dimana di zamannya mereka menuntut ilmu, kecanggihan teknologi masih dalam tahap pertumbuhan. Namun semangat dari para Mahasiswa Tradisional tersebut sangatlah menggebu-gebu dalam mengenyam ilmu pendidikan, sehingga dampaknya/hasilnya pun begitu kentara, seperti halnya yang kini telah menjadi tokoh bangsa ini, yakni ada Bapak Ir. BJ Habibie (tokoh teknologi Indonesia), Ir. Soekarno (tokoh politik/diplomatis Indonesia), Drs. Moh.Hatta (tokoh ekonomi sekaligus politik / Bapak Koperasi Indonesia), dan juga tokoh-tokoh lainnya yang masih banyak lagi. Mereka yang dulunya berpredikat sebagai Mahasiswa kini telah memberikan kontribusi yang positif bagi perkembangan dan kemajuan bangsa Indonesia.

Bagaimana halnya dengan predikat sebagai mahasiswa modern? kita katakan mahasiswa modern bukanlah karena cara berfikirnya yang modern tetapi lebih kepada situasi atau perkembangan zaman yang telah menjadi modern. Di masa globalisasi sekarang ini memang begitu banyak input yang dapat masuk kedalam jati diri mahasiswa, tinggal mahasiswa itu bisa memilih mana input yang baik dan mana input yang buruk. Godaan disertai dengan tekanan yang sangat kuat terkadang membuat kebanyakan mahasiswa justru terlena dengan kemewahan-kemewahan yang ditawarkan oleh zaman globalisasi ini. Mereka seolah telah terhipnotis untuk kemudian melupakan hakikat inti dari predikat mahasiswa yang disandangnya. Modernisasi tak sedikit telah menyelimuti tubuh mahasiswa bangsa ini, mahasiswa kekinian telah terjebak oleh gaya hedonisme, rasa ego yang tinggi, sampai kepada apatis.

Hal ini jelas sangat mengendurkan nilai-nilai kemahasiswaan, sebagai agen of change seharusnya mahasiswa mampu memfilter kebudayaan-kebudayaan asing yang senantiasa merayu, karena sungguh kebudayaan negatif seperti halnya hedonisme, egoisme, apatisme bukanlah karakter bangsa, bukanlah kebudayaan mahasiswa-mahasiswa terdahulu yang telah banyak berkontribusi, melainkan mereka-mereka yang lebih dulu berpredikat mahasiswa (mahasiswa tradisional) betapa sangat berasaskan kesederhanaan, tidak mementingkan diri sendiri, dan terpenting ialah memiliki rasa prihatin dan kepedulian yang teramat tinggi, tidak hanya untuk dirinya, keluarganya, kerabatnya, kampungnya tetapi juga bagi tanah air tercinta ini – Republik Indonesia, yang mampu meraih kemerdekaan dengan begitu banyakknya pengorbanan para pejuang-pejuang terdahulu yang terhitung jumlahnya.

Oleh karenaya, adalah mesti ! bagi mahasiswa yang hidup dalam arus modern ini mampu menyaring kebudayaan negatif yang menyelusup serta senantiasa kembali menumbuhkan karakter bangsa yang unggul, karakter anak bangsa yang begitu prihatin akan kelangsungan dan kemajuan hidup Bangsa Indonesia ini. Globalisasi sudah terlanjur terjadi, namun mari kita jadikan Globalisasi ini sebagai semangat sekaligus tantangan hidup untuk beradaptasi serta mampu mengendalikan globalisasi ini, bukan malah menjadi budak dari globalisasi. Merdeka Indonesia ku . Amin.

Citayam, 04 june 2011
Septian Prima Rusbariandi
Student Department of Management-Faculty of Economics

Categories: catatan tentang opini pribadi | Tags: , , , | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “Mahasiswa Tradisional vs Mahasiswa Modern

  1. Luqman Ar-Raahman Al-Shaleh

    assalamu’alaikum….
    cuma sekedar promosi aja…
    tolong nongol di http://abdurrahmanshaleh.wordpress.com/
    kasih komentar, kritik dan saran ya…..
    terimakasih,,,,
    Wassalamu’alaikum…

silakan tuliskan komentar pada kolom dibawah ini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: