Pancasila, Masihkah kau kini (berada)?

Garuda Pancasila/Admin (commons.wikimedia.org)

Sempat ada suatu masa dimana pancasila menjadi alat politik di negeri ini. Begitu mengental di pikiran masyarakat, namun kini justru pancasila Pancasila seperti ditelan bumi, menjadi sesuatu yang terkesan kaku, dan hanya dijadikan sebagai simbol akan dasar negara tanpa adanya implementasi yang real dari kebanyakan masyarakat Indonesia.

Rasa prihatin kita akan pancasila sudah semestinya untuk kita tumbuhkan, mengapa demikian? karena memang negara Indonesia ini sejak awal telah menetapkan bahwa pancasila merupakan dasar negara, yang telah tertulis abadi dalam undang-undang 1945. Hemat saya, sebagai negara yang menjunjung bhineka tungga ika, pancasila merupakan kesatuan yang mencakup keseluruhan kepentingan bangsa ini, mulai dari kepentingan akan bangsa yang berketuhanan, manusia yang menjunjung keadilan, persatuaan, serta permusyawaratan. Namun apa yang terjadi kawan? sila-sila yang telah tersusun rapih itu kini hanya terpampang di dinding-dinding lembaga-lembaga pendidikan, lembaga pemerintahan, sampai perkantoran tanpa ada kesungguhan untuk mengaktualisasikannya.

Sila yang paling menjadi sorotan sampai detik ini ialah sila ke-5 yang berbunyi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sila ini jelas menjadi sorotan karena fenomena yang terjadi dilapangan sungguh berbeda jauh dari apa yang disebutkan dalam sila ke-5 tersebut. Contohnya kita lihat masih banyak anak-anak terlantar, rakyat-rakyat miskin yang belum mendapatkan perhatian yang betul-betul serius dari pemerintah. Jelas hal ini menyalahi bunyi dari sila ke-5 tersebut. Belum lagi berbagai permasalah yang melanda negeri ini, seperti konflik antar kelompok/oknum, korupsi di tubuh para pejabat negara, sampai pada kejahatan teroris yang masih menjadi berita-berita teratas di negeri ini.

Bagi saya, sederhananya Pancasila dibuat sengaja dengan urutan yang sangat sempurna, dalam artian bahwa urutan antar sila yang ada dalam pancasila tak bedanya urutan hierarki. Jadi, sebelum beranjak ke sila selanjutnya, mau tak mau sila sebelumnya harus telah teralisasi dengan baik. Contoh adanya sila ke 2 akan menjadi tidak efektif jika sila ke-1 belum sepenuhnya diaktualisasikan. Kita perhatikan bahwa sila ke-1 berbunyi “Ketuhanan yang Maha Esa”, dan sila kedua ialah ” Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Jika kita mau analisis sila ke-2 tak akan mampu terlaksana sepenuhnya jika sila-1 belum optimal dijalankan. Karena maksud dari sila ke-1 itu sungguh sangatlah luas, yaitu bagaimana membentuk masyarakat Indonesia yang benar-benar berTuhan alias sepenuhnya mengabdi kepada Tuhan yang Maha Esa, sungguh-sungguh menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Apabila hal tersebut telah diwujudkan, maka adalah mudah bagi masyarakat untuk merealisasikan sila ke-2 dan begitulah seterusnya.

Dengan demikian, sebelum kita mengaktualisasikan sila ke-5 maka mari kita benahi terlebih dahulu mulai dari sila ke-1, dan ketika segenap masyarakat Indonesia telah mampu secara bertahap melaksanakan sila demi sila, maka pancasila sebagai dasar negara akan mampu menjadi karakter bangsa Indonesia yang unggul dan sangat disegani diantara bangsa-bangsa lain di dunia.

salam,
Citayam, 04 june 2011
Septian Prima Rusbariandi

Iklan
Categories: catatan tentang opini pribadi | Tag: , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

silakan tuliskan komentar pada kolom dibawah ini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: