Janji… Mengapa tak kau tepati?

sumber gambar : mylifemyproject.blogspot.com

Tidak sedikit dalam perjalanan hidup ini kita sering berinteraksi dengan sebuah kata sepakat yang sering kita sebut sebagai “Janji”. Dengan janji, hati kita akan merasa tenang karena dengan janji tersebut akan lahir sebuah kepastian dan jauh dari perasaan ketidakjelasan. Proses janji bukanlah sesuatu yang mudah, karena apabila seseorang telah berjanji, berarti dia telah mempunyai kewajiban untuk menepati janji tersebut.

Tapi kadang permasalah muncul ialah janji yang telah ditetapkan tak kunjung dapat di tepati, dan inilah yang kemudian menjadi sumber luapan emosi dalam diri kita. Seperti misalnya, janji untuk bertemu, janji untuk memberikan sesuatu, janji melaksanakan sesuatu, dsb.. Ketika dalam kenyataannya janji itu tidak sesuai dengan kesepakatan maka harus kita akui perasaan ini akan sedikit terluka, tetapi kita tidak boleh hanya terpaku pada pikiran-pikiran negatif. Janji-janji yang terlanggar tersebut mungkin akan lebih menenangkan diri kita jika kita melihatnya dari berbagai sudut pandang. Kita coba melihatnya dari sisi yang berbeda, sisi yang lebih positif tentunya. Dengan demikian, setidaknya rasa emosi yang meluap dalam diri kita dapat berkurang, sekaligus otak kita terhindar dari pikiran negatif yang macam-macam.

Pernah ada pengalaman pribadi, ketika saya dan satu teman saya ingin bertemu dosen pembimbing untuk menyerahkan final hasil penulisan illmiah (PI). Dalam kesepakatan antara saya dengan dosen pembimbing akan bertemu pukul 12 siang yang sebelumnya juga sudah ada janjian untuk bertemu dengan beliau diruangan kerja beliau, yang pasti masih dalam wilayah kampus. Seiring waktu berjalan, saya luangkan waktu untuk mengecek jam di handphone ternyata saat itu sudah menandakan pukul 1.28 tak terasa saya telah menunggu di wilayah kampus  + di depan ruangan bapak dosen pembimbing yang kurang lebih hampir 2 lamanya, karena saya tiba dikampus saat itu pukul 10.36 sedangkan teman saya sekitar jam 11an. Maka dari itu untuk melepas penat setelah sekian jam menunggu, akhirnya saya memutuskan untuk melakukan shalat zuhur terlebih dahulu dan teman saya memutuskan mencari warteg untuk makan siang, itung-itung me”refresh”kan pikiran yang sudah tidak karuan karena lama menunggu.

Dalam proses perjalanan saya menuju mesjid, saya sedikit termenung tentang janji yang telah dibuat antara saya dan teman saya itu dengan dosen pembimbing, rasanya mengapa begitu sulit sekali untuk bertemu dengan beliau. Disaat itu juga, masih dalam perjalanan ke mesjid, saya pasrah diri sekaligus berdoa kepada Allah Swt. agar hari ini juga urusan saya ini diberikan kelancaran sehingga saya bisa bertemu dengan dosen pembimbing untuk menyerahkan hasil final penulisan ilmiah(yang telah direvisi). Seusainya dari menjalankan shalat secara tidak sengaja saya coba mengecek-ngecek hp saya, dan ternyata ada 1 pesan masuk. Pesan itu rupanya dari teman saya yang juga dari tadi ikut menunggu pak dosen. Ia mengatakan bahwa bapak dosen telah menunggu diruangannya, dan saya pun disuruh untuk bergegas ke ruangannya. Tanpa menunggu lama, saya pun langsung beranjak dari mesjid untuk menemui pak dosen.

Singkat cerita setelah saya dan teman saya itu bertemu dengan pak dosen untuk menyerahkan hasil final PI, akhirnya setelah diperiksa beberapa menit, alhamdulillah saat itu juga bapak dosen memberikan surat persetujuaan atas penulisan ilmiah kami, dan pak dosen pun menyarankan untuk mendaftar sidang PI secepatnya.

Setelah keluarnya dari ruang bapak dosen, teman saya sesama satu dosen pembimbing berbicara kepada saya bahwa ketika dia memutuskan ingin mencari warteg guna makan siang, dan saya memutuskan untuk melaksanakan shalat, tiba-tiba teman saya itu bertemu (berpapasan) dengan pak dosen di areal depan kampus, yang pada ujungnya teman saya itu harus menunda hajatnya untuk makan siang, karena pak dosenpun mengajak untuk segera menuju ke ruang kerjanya.

Subhanallah, menarik bukan..🙂 Dari peristiwa tersebut betapa kita bisa memetik hikmah yang begitu mendalam, yakni bahwa ketika kita mampu berfikir positif terhadap sesuatu yang mengecewakan (dalam hal ini berkaitan dengan “janji”), adalah mesti bagi kita untuk mencoba bersabar sambil kita memasrahkan diri kepada Tuhan Semesta Alam, Allah Swt. agar dapat diberikan solusi terbaik bagi kehidupan/urusan kita. Mungkin barang kali jika saya berfikir negatif, emosi, dan mengambil jalan pintas dengan memutuskan untuk pulang, ya.. jelas saya tak akan mendapat persetujuaan atas hasil penulisan ilmiah saya pada hari itu juga dan saya pun tak dapat mendaftar sidang PI sesegera mungkin. Semoga dengan adanya pengalaman ini, bisa kita jadikan bahan pelajaran untuk mengarungi episode-episode kehidupan selanjutnya. Aamiin.

Citayam
By: Septian Prima R

Categories: catatan lepas septian, catatan perjalanan hidup, catatan tentang 'perasaan ' | Tags: , , | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “Janji… Mengapa tak kau tepati?

  1. Hi,
    good, keep on writing young man,
    salam kenal
    hendrik lim

silakan tuliskan komentar pada kolom dibawah ini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: