Hati Yang Tenang

Hati Yang Tenang

    Bismillahirrahmaanirrahiim,
Ingin aku tuliskan, sesuatu yang terbenak dalam pikiran ini. Ketika diri ini sedang terduduk dalam sebuah ruangan berukuran +- 3 x 4 m, aku mendengar suara hentakan salam yang begitu lantang di iringi suara pintu depan rumah yang terbuka, aku memang tidak sempat melihatnya, tetapi aku kenal betul siapa pemilik suara salam itu. Ialah adikku yang ke-2, Sultan Shadiq namanya yang baru saja pulang sedari sekolah, sekolah Madrasah Ibtidaiah.

    Masih dalam posisiku yang semula, selang beberapa saat kemudian setelah itu, aku mendengar adikku Sultan kembali mengeluarkan suaranya. Kali ini ku dengar ia melantunkan sebuah syair, syair yang sebelumnya mungkin telah diajarkan di sekolahnya. Serentak aku pun tersenyum kecil sambil coba menghayati pesan apa yang bisa ku petik dari syair itu, dan beginilah bunyi syairnya:

Hidup senang bukan banyak uang..

Hidup senang hati yang tenang..

Hati yang tenang..

Hati yang tenang..

Hati yang tenang !

Imannya Menang..

    Bagaimana kita tidak tersentuh mendengar syair yang sederhana namun penuh makna itu, syair yang mungkin menjadi syair idaman bagi para masyarakat kelas bawah dengan quality iman yang begitu kuat. Memang jumlah uang yang mereka miliki tidaklah seberapa, tapi tidak untuk yang ada dan terasa pada hatinya kawan. Hati mereka sangatlah luas, lapang lagi penuh ketenangan. Hidup dengan kesederhanaan sudah lebih dari cukup bagi mereka. Tak ada ambisi-ambisi dan bahkan tak sedikitpun terbesit target kesenangan duniawi yang akan menyibukkan hati dan pikirannya. Dikarenakan imannya yang menang itu, hatinya merasakan ketenangan.

    Mungkin seperti itulah bentuk limpahan rahmat dan rezeki yang Allah swt. berikan kepada kepada mereka. Ibadah senantiasa mereka jalani, kesehatan serta segelintir uang yang didapat dengan cara yang halal telah cukup baginya untuk bersyukur akan nikmat-Nya. Setetespun mereka tidak terbudaki oleh uang atau kekayaan materiil lainnya. Oh.. sungguh kawan, jika memang mereka demikian adanya, alangkah indahnya cara mereka hidup seperti itu.

**

    Kalau cuba kita perhatikan di kehidupan modern seperti sekarang ini, betapa banyak oknum kalangan masyarakat menengah sampai ke atas, mulai dari kaum muda sampai kaum dewasa, yang begitu bangga (angkuhnya) dengan segenap harta yang ada pada dirinya, tanpa mereka ‘mau’ mengakui alangkah resah dan gersangnya hati mereka. Limpahan harta menyelimuti & menemani hari-hari dalam hidupnya, tapi itu tak bisa menjadi jaminan hatinya untuk menjadi tenang.

    Mereka-mereka dengan tumpukan harta yang dimilikinya itu, sudah cukup merasa aman dalam kehidupannya, menganggap bahwa Tuhan sudah dan telah berpihak penuh (memuliakannya) di kehidupan duniawi ini. Sungguh jika mereka begitu, mereka telah tersalah sangka dengan apa yang tersirat dalam pikirannya itu.

    Dan akan menjadi lebih bahaya lagi ketika orang dari kalangan kelas bawah, kesempitan harta yang melekat padanya justru diperparah dengan keadaan hati yang tidak kunjung tenang. Suara hatinya selalu mengeluh, kurang mampu bersabar terhadap keadaan serta bersyukur atas nikmat yang masih ia miliki yang sebenarnya sangatlah mahal, mereka yang demikian itu beranggapan bahwa Tuhan tidak lagi berpihak kepadanya (tidak lagi memuliakannya). Tipe orang yang kedua ini sama ruginya dengan orang yang pertama tadi, atau mungkin lebih rugi dari tipe orang yang pertama karena sudah miskin ditambah lagi sempit hatinya, ia merasa hidupnya penuh dengan kemalangan. Sangat disayangkan kawan.

    Padahal jika kita simak dengan penuh perhatian, dengan penuh seksama, Allah swt. telah berfirman di dalam kitab suci-Nya Al-Quran, surah Al-Fajr ayat 15 dan 16:

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. (Al-Fajr, 15)

“Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka Dia berkata: “Tuhanku menghinakanku” [1575]. (Al-Fajr, 16)

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, “ (Al-Fajr, 17)

“dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin,(Al-Fajr, 18)

“dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil),
(Al-Fajr, 19)

“dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.
(Al-Fajr, 20)

[1575] Maksudnya: ialah Allah menyalahkan orang-orang yang mengatakan bahwa kekayaan itu adalah suatu kemuliaan dan kemiskinan adalah suatu kehinaan seperti yang tersebut pada ayat 15 dan 16. tetapi sebenarnya kekayaan dan kemiskinan adalah ujian Tuhan bagi hamba-hamba-Nya.

**

    Nah kawan ku sekalian, bagaimana setelah kita membaca dan menyimak firman Tuhan ini ?, bahwa ternyata kawan, harta yang ada pada diri seorang manusia, tak lain merupakan ujian begitupun halnya kesempitan harta yang ditetapkan pada diri seseorang, itu juga merupakan ujian. Jadi mengapa sampai saat ini kita masih mengeluh, mengapa kita masih saja tersalah sangka tentang maksud hakiki yang sebenarnya dalam hidup ini.

    Tugas kita ialah tetap berikhtiar dan menyerahkan akhirnya sepenuhnya hanya kepada-Nya. Selama tetap berusaha, berdoa dan bertawal kepada-Nya biarlah segala ketetapan-Nya kita hadapi dengan penuh ikhlas mengharap ridho dan rahmat-Nya. Tuhan Maha Baik kawan, Tuhan lebih tahu mana yang terbaik buat kita. Tidak sepantasnya pula kita berburuk sangka terhadap-Nya. Dan harus kita yakini bahwa tuhan tidak sedikitpun menganiaya hamba-hambanya, selama hambanya itu tidak melampaui batas.

    Bukankah ketika ujian itu telah terlewati dengan baik, maka telah siap menunggu pahala atau balasan terbaik dari sisi-Nya ? Hidup adalah anugerah, Hidup adalah karunia dan Hidup adalah tantangan. Mari kawan kita renungkan bersama..

“Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari cobaan yang memayahkan, kesengsaraan yang menderitakan, takdir yang buruk dan cacian musuh.” (HR. Bukhari)

Semoga kita sebagai umat muslim senantiasa dalam perlindungan, hidayah, dan rahmat Allah swt.. Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.

Wallahu a’lam bishowab

Septian Prima Rusbariandi

Citayam, 29 januari 2012

*siang hari pertengahan antara waktu zuhur & ashar

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim,

dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin,

dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil),

dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.

Categories: islam | Tags: , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

silakan tuliskan komentar pada kolom dibawah ini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: