Sebuah Pembelajaran (dari sebuah hambatan bertemu Ular Hitam)

Sebuah Pembelajaran (dari sebuah hambatan bertemu Ular Hitam)

Pagi itu jam menunjukkan +- pukul 4:40 pagi, aku terbangun kawan masih dalam keadaan mata yang mengantuk dan di iringi dengan kondisi badan yang kurang terasa bertenaga. Aku segera mengambil gelas, untuk meminum beberapa teguk air putih. Dan lantunan suara azan subuh kala itu seolah menggertakkan langkah kaki ku untuk segera bergegas menuju mushola untuk melakukan sholat subuh berjamaah. Ku paksakan untuk mengambil air wudhu sedari rumah, untuk kemudian barulah aku berangkat menuju mushola yang letaknya lebih rendah yakni di bawah pemukiman tempat tinggal ku berada.

Untuk menuju ke mushola aku harus menyusuri gang yang ada di samping rumah ku, suasana pagi itu cukup terang, karena hampir di pinggiran gang sudah terpenuhi dengan rumah-rumah baru yang dihuni oleh oleh orang-orang pendatang, kecuali ketika akan mendekati mushola, jalan gangnya berupa gundakan, dan di pinggir gangnya pun sebagian terisi dengan rumah-rumah warga, sebagian pinggirnya lagi masih merupakan perkebunan singkong yang bentuk datarannya miring dan cukup luas.

Biasanya suasana pagi itu cukup tenang lagi sejuk, tak ada halangan berarti bagi ku untuk menuju mushola, walau keadaannya agak gelap dan lengang, seperti tak ada kehidupan. Tak jarang pula di pagi subuh itu aku temukan para bapak-bapak atau pemuda yang sangat awal bergegas untuk berangkat mencari nafkah kehidupan. Dan pagi waktu subuh itu aku mengalami kejadian yang tidak seperti biasanya kawan, perjalanan di sepanjang gang mushola aku lewati dengan suasana nyaman lagi tenang, namun belum sampai aku menginjakkan kaki di mushola, sekitar berjarak -+ 3 meter aku melihat ‘tepat’ di depan pintu mushola ada seekor Ular Hitam yang sedang berkelat-kelit.

Awalnya aku lihat ular itu naik dari pinggir ubin (lantai) tempat para jamaah menempatkan sandalnya, sampai kemudian ular itu menjalar ke ubin dekat pintu mushola, aku lihat ular itu seperti kebingungan, ular itu berkelat-kelit di tempat, besarnya sebesar jari kelingking orang dewasa, geraknya lincah dan panjangnya sekitar 30-40cm dan jujur saja hal itu sempat membuat ku panik, “Astagfirullah..” ucap ku. Saat itu diri ku bingung harus berbuat apa, apakah harus membunuh ular itu langsung, atau berteriak, namun jika aku berteriak aku lihat di dalam mushola para jamaah sedang solat sunah sebelum (qobliah) subuh dengan khusuk, aku khawatir jika aku gegabah akan mengganggu kekhusuaan sholat para jamaah mushola kala itu.

Masih dalam jarak sekitar 3 meter, aku khawatir lama-lama ku perhatikan ular itu seperti ingin menghampiri ku, akhirnya aku memutuskan untuk bergerak mundur beberapa langkah, dengan tetap terus mencoba berdoa, berzikir, sambil menunggu para jamaah subuh yang mungkin akan berdatangan.. Dan perlahan ular hitam itu mulai bergerak merangsek keluar dari ubin tepat di depan pintu mushola, ku perhatikan ular itu menjalar, menelusup ke dalam tumpukan dedauan yang ada di halaman mushola, ‘seolah ular itu memberi ku jalan untuk masuk ke dalam mushola’, tanpa ambil pusing, karena dia tidak mengganggu ku, aku pun langsung saja berjalan dengan penuh kehati-hatian menuju mushola, dan Alhamdulillah.., nyatanya Allah Swt. masih melindungi ku, mengizinkan aku untuk sholat subuh berjamaah, akhirnya aku pun dapat masuk ke mushola serta melaksanakan sholat subuh dengan aman.

Sesaat setelah aku masuk ke dalam mushola, datangkah dua orang bapak-bapak yang juga baru tiba di mushola, ku perhatikan mereka masuk dengan keadaan tenang, artinya kedua bapak tersebut tidak menemui hal yang sama dengan yang aku alami sebelumnya.

Seusainya sholat berjamaah, dan ketika ingin memutuskan pulang ke rumah, aku pulang seorang diri melewati halaman mushola tempat ular hitam tadi bersembunyi. Aku memang tidak sempat menceritakan peristiwa yang ku alami sebelumnya kepada para jamaah sekalian karena aku hendak pulang lebih awal, sedangkan jamaah lain masih khusuk melaksanakan zikir seusainya sholat subuh. Sebelum melangkahkan kaki untuk menuju pulang, terlintas di pikiran ku akan bertemu lagi dengan ular hitam tadi, namun aku mencoba berprasangka baik, aku yakin Allah Swt. akan senantiasa melindungi hamba-hambanya yang berada di atas kebenaran, sekiranya kalau pun aku harus tergigit ular karena Allah Swt. menghendaki demikian, maka aku hanya bisa pasrah, aku tak lebih dari hambanya yang ingin hidup menjalani hidup ini lebih baik, aku hanya mampu memasrahkan sepenuhnya kepada-Nya.

    Dengan memanjatkan doa untuk meminta perlindungan kepada Allah Swt. Aku pun mencoba pulang ke rumah dengan tetap tenang, sambil berzikir dalam perjalanan agar terlindung dari hal-hal yang tidak di inginkan. Sungguh tak biasanya aku berjalan pulang sedari mushola dengan perasaan was-was seperti saat itu, dengan tetap memasrahkan diri sambil terus mencoba yakin dengan perlindungan Allah Swt.


    Alhamdulillah.. Walhasil.., akhirnya aku pun dapat melangkahkan kaki pulang ke rumah dengan aman, tanpa halangan yang berarti.

    Dari kejadian ini banyak pembelajaran yang bisa aku petik, terkhusus bagi diri ku pribadi untuk lebih berintrospeksi diri. Aku paham, bahwa tidak selamanya kita menjalani kehidupan ini dengan mulus, dan lancar-lancar saja, seperti halnya ketika seorang bocah kecil yang sudah terampil bermain ice skating. Pada kenyataannya, kelak suatu ketika akan ada hambatan-hambatan yang kita temui tanpa kita duga sebelumnya, entah itu dari manusia, binatang, fenomena alam, atau mungkin makhluk gaib sekalipun.

Oleh karena, pembelajaran yang sangat penting untuk kita petik dari hal ini ialah kita sebagai hamba Allah Swt. adalah sepantasnya, dan semestinya selalu memohon perlindungan (berdoa) kepada-Nya bila kita ingin bergegas keluar rumah untuk melakukan perjalanan apapun, agar kelak kita terlindungi dari segala marabahaya yang mungkin bakal menimpa kita. Karena sungguh memang Allah SWT adalah penguasa (Raja) langit dan bumi beserta isinya, hanya kepada-Nya lah kita memohon perlindungan, memohon ampun atas kesalahan-kesalahan kita, dan memasrahkan diri hanya kepada-Nya. Akhir kata, semoga kisah nyata yang saya tuliskan ini adalah dapat memberikan pembelajaran positif bagi kita semua, terkhusus bagi saya pribadi. Ya Allah, perbaikilah segala amalan kami, ampunilah kami dan Aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan makhluk-makhluk ciptaan-Mu. Aamiin..

Salam..

Septian Prima Rusbariandi

Citayam, 14&16 Juni 2012

Iklan
Categories: catatan perjalanan hidup | 3 Komentar

Navigasi pos

3 thoughts on “Sebuah Pembelajaran (dari sebuah hambatan bertemu Ular Hitam)

  1. Hem… Ternyata itu hikmah kita selalu memohon kepada Allah akan perlindungan… Karena ada banyak hal yang kita tidak dapat kita perkirakan untuk mengatasinya… 🙂

    • terima kasih mba vina tas kunjungannya ke blog ini..

      semoga kita senantiasa mampu mengambil pelajaran dari kisah nyata tersebut.:)

  2. boedi

    mang kita mau aktfts jgn lupa bc basmallah.allah swt psti melindungi amiin.

silakan tuliskan komentar pada kolom dibawah ini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: