catatan lepas septian

tulisan tentang pandangan pribadi penulis

Mulianya Cinta Seorang Ibu

Dalam dinginnya malam, kau masih setia merangkulku..

Mengelus-ngelus rambutku dengan kelembutan kasih..

Nyaringnya tangisanku kala itu, justru membuatmu tersenyum..

Kau tiada kenal letih mengurusiku yang masih kecil belia..

Di alam dunia ini, kau bagaikan malaikat, tak tergantikan..

Tetap menjaga, melindungiku walau dalam sepahit-pahitnya keadaan..

Kau tiada duanya dalam semesta ini..duhai Ibuku..yang teramat baiknya..

Semoga kesejahteraan selalu menyertaimu.. Aamiin..”

 

Kita sadari begitu mulianya cinta kasih seorang Ibu kepada anaknya, beliau yang tiada sedikitpun mengharapkan balas jasa anaknya, padahal jika anaknya tersebut membalas kebaikan seorang Ibu walau dengan kebaikan seluas lautanpun, tetap tak akan mampu menebus kebaikan jasa mulia seorang Ibu. Semoga kita bisa memberikan sesuatu yang maksimal kepada Ibu kita, kedua orang tua kita, agar beliau senang dengan apa yang kita perjuangkan, agar beliau ridho kita menjadi anaknya yang bisa diandalkan. Aamiin.

Spr_23 (Citayam, 25 Des 2012)

Categories: catatan lepas septian | Tag: , | 2 Komentar

Tetesan Embun Pagi Yang Menebarkan Kedamaian

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Alhamdulillah, Segala Puji Bagi ALLAH SWT, Tuhan seru sekalian alam. Karena limpahan Karunia dan Rahmat-Nya, sampai kini kita masih mampu bernapas, beraktivitas dalam perjalanan hidup di dunia ini.

Ketika kita melihat kebeningan tetesan-tetesan embun pagi yang menetes dari dedaunan hijau turun mengalir ke arah yang lebih rendah. Sungguh jika kita perhatikan, alangkah betapa bahagianya seorang jiwa manusia yang hatinya mampu bening, bersih seperti beningnya embun yang menetes di pagi hari.

Ada kalanya kita mesti belajar banyak dari alam, karena tanpa kita sadari, betapa banyak pembelajaran yang sebenarnya dapat kita peroleh dari kejadian-kejadian yang ada pada alam ini, seperti halnya embun pagi yang dia begitu bersinar, murni lagi bersih jauh dari kotoran-kotoran yang mungkin bakal menodainya.

Semoga, dari sekian banyak pembelajaran yang kita lihat dari fenomena alam itu, sekiranya kita mampu mengambil manfaat sebagai petunjuk sekaligus bekal perjalanan kita di dunia ini.

Selamat Pagi

citayam, 16-04-2012

Categories: catatan lepas septian | Tag: | Tinggalkan komentar

Janji… Mengapa tak kau tepati?

sumber gambar : mylifemyproject.blogspot.com

Tidak sedikit dalam perjalanan hidup ini kita sering berinteraksi dengan sebuah kata sepakat yang sering kita sebut sebagai “Janji”. Dengan janji, hati kita akan merasa tenang karena dengan janji tersebut akan lahir sebuah kepastian dan jauh dari perasaan ketidakjelasan. Proses janji bukanlah sesuatu yang mudah, karena apabila seseorang telah berjanji, berarti dia telah mempunyai kewajiban untuk menepati janji tersebut.

Tapi kadang permasalah muncul ialah janji yang telah ditetapkan tak kunjung dapat di tepati, dan inilah yang kemudian menjadi sumber luapan emosi dalam diri kita. Seperti misalnya, janji untuk bertemu, janji untuk memberikan sesuatu, janji melaksanakan sesuatu, dsb.. Ketika dalam kenyataannya janji itu tidak sesuai dengan kesepakatan maka harus kita akui perasaan ini akan sedikit terluka, tetapi kita tidak boleh hanya terpaku pada pikiran-pikiran negatif. Janji-janji yang terlanggar tersebut mungkin akan lebih menenangkan diri kita jika kita melihatnya dari berbagai sudut pandang. Kita coba melihatnya dari sisi yang berbeda, sisi yang lebih positif tentunya. Dengan demikian, setidaknya rasa emosi yang meluap dalam diri kita dapat berkurang, sekaligus otak kita terhindar dari pikiran negatif yang macam-macam.

Pernah ada pengalaman pribadi, ketika saya dan satu teman saya ingin bertemu dosen pembimbing untuk menyerahkan final hasil penulisan illmiah (PI). Dalam kesepakatan antara saya dengan dosen pembimbing akan bertemu pukul 12 siang yang sebelumnya juga sudah ada janjian untuk bertemu dengan beliau diruangan kerja beliau, yang pasti masih dalam wilayah kampus. Seiring waktu berjalan, saya luangkan waktu untuk mengecek jam di handphone Baca lebih lanjut

Categories: catatan lepas septian, catatan perjalanan hidup, catatan tentang 'perasaan ' | Tag: , , | 2 Komentar

Cinta Tak Selamanya

pantai kuta - bali

“Indahnya alam semesta
Hingga terasa di hati
Yang hidup akan punah
Yang mula ada akhirnya

Oh indah ciptaanNya
Yang ada sementara
Semuanya akan sirna
Yang kekal hanyalah Allah Swt “

Petikan lirik syair raihan “Tak Selamanya” diatas betapa memanglah benar adanya, bahwa kita semua yang merasakan hidup, kelak ada saatnya untuk tiada (sementara). Teramat indah ciptaan-Nya dalam alam semesta ini membuktikan kebesaranNya bahwa tak ada satu pun zat yang mampu menandingi. Saya jadi teringat dengan salah satu hadits Nabi Muhammad, yang kurang lebih berbunyi, “Seseorang akan senantiasa bersama dengan siapa yang dicintainya”.

Menarik bukan, dari untaian hadits tersebut :-), yang seolah mengajak otak kita berfikir sekaligus bertanya-tanya, bagaimana jika sesuatu yang kita cintai akan punah, yang mana kepunahannya itu tidak kita ketahui kapan datangnya. Betapa kita mencintai orang-orang yang kita cintai, namun harus kita sadari orang tersebut kelak suatu saat akan meninggalkan kita, dan juga Baca lebih lanjut

Categories: catatan lepas septian, islam | Tag: , , | Tinggalkan komentar

IBU

Wahai Ibu, sungguh begitu besar curahan jasa, pengorbanan, perhatian yang engkau berikan pada diri ini. Semua itu engkau berikan dengan penuh rasa keikhlasan yang tulus lagi mulia. Dan jika ku cari ke seluruh penjuru pelosok bumi untuk menemukan orang yang sama sepertimu, sungguh aku tak akan mampu menemukannya, karena kau tiadalah duanya di bumi maupun dilangit  ini. Berhari-hari ku menghabiskan waktu hidupku bersamamu, semenjak masih dalam kandungan sampai kini ku telah dewasa namun tetap kau adalah sosok tak tergantikan oleh siapapun dalam catatan sejarah hidupku.

Engkaulah manusia paling berpengaruh dalam hidupku ini, hingga aku mampu menemukan keberanian hakiki dalam mengarungi hidup ini. Jika ku tuliskan segala kebaikanmu terhadapku, mungkin tinta sebanyak satu danau pun tidaklah cukup untuk menuliskan kebaikanmu itu. Sungguh ini juga merupakan nikmat dan karunia Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.Karena atas kehendak-Nya lah semua ini terjadi.

Categories: catatan lepas septian | Tag: , | Tinggalkan komentar

Ber-UKM ria

Istilah UKM menjadi sebuah cita-cita tersediri bagi masyarakat Indonesia akhir-akhir ini, mengapa demikian ? Perlu kita ingat dimasa-masa dimana perekonomian tengah dilanda krisis ekonomi, ada satu bidang yang dapat dikatakan tidak mudah goyah (terpengaruh) terhadap dampak dari krisis ekonomi global tersebut, dan bidang tersebut tak lain dan tak bukan ialah UKM (Usaha Kecil Menengah).

Pemerintah pun sedang gencar-gencarnya memberikan perhatian khusus kepada bidang UKM ini. Tak tanggung-tanggung , Pemerintah berani mengeluarkan anggaran yang cukup besar agar bisa memberikan pinjaman kepada masyarakat guna kelangsungan UKM ini. Namun patut disayangkan ialah sosialisasi akan adanya pinjaman pemerintah terhadap bantuan UKM ini masih terasa kurang. Padahal banyak sekali masyarakat kita yang sangat membutuhkan modal usaha untuk menjalankan bisnisnya.

UKM ini disebut-sebut sebagai upaya rasional untuk menanggulangi pengangguran yang ada di Indonesia. Karena UKM memberikan kebebasan yang seluas-luasnya (tetap mengacu pada norma yang berlaku) kepada masyarakat untuk meng-ekspresikan usaha yang ingin ditekuninya. Kebijakan Pemerintah dalam menggalakkan pinjaman bagi pendirian UKM ini sebenarnya sangat dinantikan olah masyarakat banyak. Karena secara tidak langsung kebijakan seperti ini mampu memancing daya kreatifitas masyarakat dalam melakukan usaha atau bisnis demi memenuhi kebutuhan ekonomi segenap masyarakat Indonesia. Baca lebih lanjut

Categories: catatan lepas septian, catatan tentang opini pribadi | Tag: , | Tinggalkan komentar

Bicara Tentang Sebuah Penulisan Ilmiah

Perjalanan bertahap guna menyelesaikan penulisan ilmiah kian terasa ketika seorang mahasiswa telah bertemu pada suatu titik kejenuhan, tak terkecuali saya. Perasaan jenuh tersebut mamang bisa saja muncul tanpa kita duga dan tanpa kita rencanakan sebelumnya, biasanya hal seperti itu muncul dikarenakan bahan bakar motivasi sesorang terhadap apa yang digelutinya mulai mengalami penurunan.

Penulisan ilmiah (PI) yang saya lakukan berkisar tentang penerapan/ aplikasi metode EOQ (economic order quantity) terhadap sebuah pabrik yang menyediakan bahan baku sebagai bahan yang dapat diolah/ diproses lebih lanjut pada suatu siklus produksi untuk kemudian diubah menjadi barang jadi. Metode EOQ ini sebenarnya merupakan bagian dari berbagai metode yang terdapat dalam manajemen persediaan atau inventory management, walaupun harus saya akui bahwa Metode EOQ ini dapat dikatakan sebagai metode tertua dalam bidang inventory management.

Membahas dan mencoba menerapkan metode EOQ dalam kehidupan nyata memang terasa agak sulit pada awalnya, yang kemudian jika perasaan sulit tersebut tak kunjung hilang, maka perasaan tersebut dengan sendirinya akan berubah menjadi perasaan jenuh. Tetapi setelah saya coba pahami secara perlahan dibarengi dengan sepercik kepastian, perlahan rasa motivasi yang kian menipis seperti seolah terisi kembali. Dalam artian, ketika ilmu dasar terhadap suatu penelitian yang akan kita lakukan telah mampu untuk kita kuasai, ketika itu pulalah rasa semangat hadir dalam jiwa dan pikiran kita, dan itulah yang saat ini coba saya rasakan. 😀

Mempelajari sebuah bidang yang terbilang langka, yaitu inventory management menjadi keunikan tersendiri karena dari situlah timbul rasa keingintahuan kita terhadap apa yang kita sebut sebagai manajemen persediaan. Nah…, berbicara perihal manajemen persediaan, sekiranya kita perlu juga untuk mengenal apa itu arti atau definisi dari persediaan. Persediaan memiliki definisi sebagai berikut :

Menurut Sofjan Assauri (1998:169), menyatakan bahwa :

“Persediaan adalah suatu aktiva meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode usaha yang normal,atau persediaan barang-barang yang masih dalam pengerjaan atau proses produksi, ataupun persediaan bahan baku yang menunggu penggunaannya dalam suatu proses produksi”. Baca lebih lanjut

Categories: catatan lepas septian | Tag: , | Tinggalkan komentar

Seputar Penulisan Ilmiah

Seputar Penulisan Ilmiah

Dalam rangka mencapai gelar stara sarjana muda untuk jenjang S1, ada kegiatan unik yang mesti ditempuh, yakni kegiatan berupa Penulisan Ilmiah atau yang biasa disebut dengan PI. Dikatakan unik karena bobot PI ini hanya dinilai dengan 2 sks, namun kebanyakan dari mahasiswa seolah merasa tersibukkan oleh aktivitas ini. Awal maret merupakan langkah pertama dalam merangcang PI tersebut. Mulai dari proses menentukan tema yang pas (benar-benar sesuai dengan keinginan hati mahasiswa), memilih objek yang memadai, memikirkan alat analisis yang kira-kira cocok dengan tema sampai kepada berinteraksi dengan dosen pembimbing :).

Serba-serbi langkah awal ini menjadi keunikan tersendiri karena memang di tahap inilah seorang mahasiswa dituntut untuk mengambil keputusan penting tentang penelitian yang akan digeluti kedepannya. Saya sendiri sebagai mahasiswa jurusan ekonomi manajemen pada awalnya sempat bimbang diantara dua pilihan, yaitu apakah memilih tema yang berhubungan dengan distribusi atau tema mengenai persediaan, ditengah kebimbangan tersebut, saya mencoba untuk menelaah secara mendalam dan penuh kesadaran akan keputusan apa yang sekiranya akan saya ambil.

Dan pada akhirnya saya memutuskan untuk mengambil tema yang berkaitan dengan “persediaan”, mungkin bagi sebagian mahasiswa tema ini agak sedikit kurang familiar, jika dibandingkan tema-tema lainnya, seperti mengenai perilaku konsumen, promosi, investasi, studi kelayakan bisnis, dsb. Namun, justru disitulah letak menariknya penelitian yang akan saya lakukan, kadang perbedaan membuat kita menjadi merasa tersisihkan, tapi juga terkadang perbedaan membuat kita menjadi lebih memahami proses kehidupan, karena dengan perbedaan kita akan belajar untuk mengenal diri kita sendiri (mengapa kita berbeda) dan juga mencoba untuk menumbuhkan Baca lebih lanjut

Categories: catatan lepas septian, catatan tentang 'perasaan ' | Tag: , | 2 Komentar

Diambang Perbatasan Jalan

Mereka mengarungi sisa waktunya penuh kesabaran

Berbarengan kesadaran tentang tujuan perjalanan

Difokuskannya segenap hati dan pikiran

Hanya untuk menggapai apa yang ia cita-citakan

Cita-cita mulia yang tak satupun manusia mengetahuinya

Tak sedikitpun terselip rasa takut yang menghantuinya

Karena dia pun yakin Tuhan kan meridhoi perjuangannya itu

Perjuangan untuk merealisasikan sebuah kebenaran…

Categories: catatan lepas septian | Tinggalkan komentar

Hidup Untuk Mati

dia merasakan kebingungan yang teramat sangat
ketika urat keberaniannya telah lama hilang
hidupnya pun terasa sepi sunyi tak berarti
bagai batu yang tertutup dalam tempurung kura-kura
dia seolah tak mampu bergerak,
hanya mengikuti kemana gerak angin melambai
padahal…
Tuhan begitu cinta kepada dirinya
dia masih diberikan kesempatan hidup ke dunia
semua sistem tubuhnya berjalan dengan baik
akal yang Tuhan anugrahkan masih berfungsi seutuhnya
namun dia masih saja terpenjara oleh pikirannya sendiri
dia belum juga menyadari bahwa hidup adalah anugerah
yang tiada terkira nilainya dihadapan para makhluk yang telah mati
entah apa yang ditunggunya
bagaimana mungkin dia mengatakan jika dia berambisi
tetapi sungguh sedikit aksi yang dilakukan
sungguh pada hakikatnya mereka yang hidup mengalami pergerakan
bumi berputar pada garis edarnya
angin yang selalu melambai walau tak terlihat
butiran air dilautan luas yang selalu mengalir berpindah tempat
tumbuhan, pepohonan, menjalankan sistem kehidupan dalam tubuhnya
bagitupun detak jantung manusia yang tak pernah berhenti
semua mereka yang hidup tak ada yang benar-benar terdiam
sesungguhnya mereka bergerak, bahkan mereka bertasbih
dengan cara yang tidak kita ketahui
oleh karenanya, wahai kau jiwa yang hidup
bergeraklah…
majulah, walau harus secara perlahan
manusia-manusia diluar sana begitu membara menyikapi kehidupan
mereka seolah hidup untuk mati
bukan hidup untuk menunggu mati
maka, apakah kita masih memilih untuk terdiam?

Categories: catatan lepas septian, catatan tentang 'perasaan ' | Tag: , , | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.