catatan perjalanan hidup

tulisan tentang cerita singkat perjalanan hidup septian

Olahraga, Semangat dan Kebersamaan

Malam itu nampak tidak seperti biasanya, ada sesuatu yang beda terasa. Ya.. saat itu teman-temanku yang datang untuk ikut bermain olahraga futsal semalam lebih banyak dari biasanya. Wajah-wajah ceria yang terlihat, ditambah dengan suasana malam yang cerah terang menderang membuat semangat kebersamaan malam itu menjadi begitu menggelora. Benar sahabatku, kadang berkumpul dengan banyak teman dapat memberikan energi baru, bisa jadi… energi yang dipancarkan oleh orang-orang yang memiliki aura ceria, rupanya juga bisa terserap juga kepada kita, hingga kita pun turut ikut merasa ceria.

Setelah jam menunjukkan sekitar pukul 9 malam, permainan futsal pun segera dimulai. Ada semangat di situ, ada kebersamaan, ada misi untuk saling bekerjasama, ada target yang ingin dicapai. Semua melebur dalam sebuah olahraga sederhana malam itu. Raut wajah teman-teman saat itu tidak terlalu serius, justru lebih sering bercanda, dan sebentar-sebentar tertawa karena ketengilan dalam merebut bola atau mungkin kesalahan sederhana dalam mengeksekusi sebuah tendangan ke gawang. Sesekali muncul apresiasi tepuk tangan, yang ditujukan kepada salah seorang teman yang memang begitu lihai memperlihatkan gaya bermain futsalnya.

Ya.. malam itu lebih banyak bercandanya ketimbang serius benar-benar bermain. Tapi dalam kelucuan itu.., masih juga terselip rasa ingin mengejar target, mencetak gol, membuat benteng pertahanan yang solid, mempertahankan kerjasama serta berusaha memainkan bola agar terlihat lebih indah.. Mungkin itulah seni dalam olahraga yang satu ini.

Alhamdulillah, semua teman-teman merasa senang dengan permainan futsal malam itu, dengan kehadiran anggota yang lebih banyak, gemuruh candaan dan gelora semangat juga menjadi lebih banyak, lebih terasa dalam sebuah ikatan kebersamaan.

Kadang kita sadari bahwa hidup ini begitu menyimpan keindahan yang bisa sangat mempesona jika kita memandang dari sudut yang berbeda, bahwa keindahan hidup tidak serta merta harus dinilai dari segi uang, diluar sana masih banyak sumber-sumber keindahan dan kebahagiaan yang tidak melulu membutuhkan uang yang melimpah ruah, dan kebersamaan… menjadi salah satunya… J Semoga kita bisa ambil pelajaran dari hal-hal kecil semacam ini.

Spr_23 (citayam, 27 nov 2012)

Iklan
Categories: catatan perjalanan hidup | Tinggalkan komentar

Senyuman Tulus

          Dalam alam semesta yang teramat luas ini, begitu banyak kita temukan beraneka ragam perasaaan yang dialami oleh tiap-tiap makhluk yang hidup. Mulai dari perasaan bahagia, riang gembira, senang, ceria, tenang dan damai, serta perasaan sejenisnya yang senantiasa menerangi hati-hati kecil, dan juga alam pikiran mereka. Tetapi di sisi lain ada juga yang merasa sebaliknya, mereka ada pula yang merasa sedang dilanda perasaan bersedih, tertekan, bingung, galau, resah, panik dan perasaan-perasaan sejenis lainnya.

    Jika kita sedikit berfikir sederhana, bahwa memang begitulah rentetan cerita kehidupan di kolong langit ini. Bak sebuah roda yang selalu berputar selaras, seirama dan sejalan dengan berputarnya waktu. Ada saat-saat di mana tiap jiwa yang hidup, sedang berada di bawah, dan juga ada pula saat-saat sedang berada di atas. Begitulah sahabatku, semua itu datang silih berganti, menutup lembaran lama dengan lembaran baru dengan indahnya.. 🙂

    Sebuah syair yang begitu memukau yang saya kutip dari buku berjudul laa tahzan karya penulis Dr. Aidh Al-Qarni , bunyinya sebagai berikut:

    “Kuingat Engkau saat alam begitu gelap gulita,

     dan wajah zaman berlumuran debu hitam

     Kusebut nama-Mu dengan lantang di saat fajar menjelang,

     Dan fajar pun merekah seraya menebar SENYUMAN indah”


        Sebuah senyuman tulus ikhlas yang bersumber dari hati yang terdalam, hati yang terselimuti oleh mutiara-mutiara keimanan, memancarkan sejuknya cahaya rahmat, Oh… alangkah mempesonanya sahabatku, rupa hati yang begitu menakjubkan itu. Semoga kita bisa mengambil pembelajaran dari berbagai perasaan yang kita lalui dalam hidup ini. Aamiin. 🙂

 

spr_23 (Citayam, 15 nov 2012)

Categories: catatan perjalanan hidup | Tinggalkan komentar

Keindahan Alam Semesta

Bismillahirrahmanirrahim,

Alhamdulillah, pagi hari ini aku masih diberikan kesehatan untuk menulis, di minggu pagi yang terasa sangat cerah ini kawan, walau matahari belum sepenuhnya muncul dari ufuk timur, namun aku mendengar sesekali bunyi kicauan burung-burung terdengar terasa sangat merdu, membawa semangat pagi dalam ketentraman.

Kita perhatikan sampai saat ini telah begitu banyak karunia yang Allah Swt. berikan kepada kita. Kita lihat ke atas, nampak begitu luasnya langit biru nan indah. Kita lihat langit malam, nampak cahaya bintang-bintang yang saling berkilauan. Kita tengok pegunungan ia masih tegar berdiri kokoh dalam posisinya. Kita membayangkan lautan, masih seperti sedia kala tentram dengan desiran ombak-ombak yang menghiasinya. Kita lihat alam sekitar, masih sangat bersahabat dengan kita, tumbuhan menghijau dan pun sama halnya dengan hewan-hewan yang menjalani hidup sebagaimana mestinya, serta fenomena-fenomena lainnya yang sebenarnya masih sangat banyak untuk kita temukan di kolong langit ini.

Namun, tentunya sangat kita sadari pula, bahwa kelak akan terjadi “anomali” atau kebalikan dari berbagai fenomena yang kita alami sekarang, entah kapan kita pun tidak mengetahuinya. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari setiap fenomena yang terjadi, bahwa bukti kebesaran Allah Swt. yang jika kita coba merenunginya, sungguh.. sebenarnya begitu teramat melimpah ruah di alam semesta ini. Amiin.. Allahu Akbar.

Depok , 29 sep 2012

Sumber gambar: pkstan.blogspot.com

Categories: catatan perjalanan hidup | Tag: | 2 Komentar

Memori Tentang Kemerdekaan Republik Indonesia

Kembali.. kita rasakan peringatan hut RI kali ini yakni yang ke-67 jatuh di Bulan Suci Ramadhan, bersamaan dengan bulan di mana RI memproklamirkan kemerdekaannya kala itu (tahun 1945).. yang juga jatuh di Bulan Suci Ramadhan.

Lebih kurang 67 tahun yang lalu, para Founding Father bangsa ini memploklamirkan kemerdekaan bangsa ini, bangsa yang telah terjajah begitu lama, hampir 3 1/2  abad lamanya. Dan  hari ini, Alhamdulillah kita bisa menghirup udara kemerdekaan, bersama saling mencoba hidup bertoleransi, tinggal dalam sebuah kesatuan di bumi pertiwi, yang kata orang menyimpan banyak tradisi, budaya dan kekayaan alam yang melimpah ruah.

Kita pikir sejenak, bahwa perjuangan para pahlawan-pahlawan kemerdekaan telah membawa arah hidup kita menjadi lebih baik. Tetapi sadarkah kita, di balik pengorbanan para pejuang-pejuang itu, ada hal yang lebih tinggi, ada hal yang lebih sakral, yakni bahwa terwujudnya kemerdekaan republik ini tentunya ialah atas izin ALLAH SWT, atas restu-NYA, atas karunia-NYA sehingga rakyat Indonesia kini telah bisa merasakan terlepas dari belenggu penjajahan yang tidak beradab itu.
Oleh karenanya kawan, bukan sebuah kebetulan jika para Fouding Father kita yang dalam Pembukaan UUD 1945 menyusun kalimat,  “Atas Rahmat ALLAH Yang Maha Kuasa” Coba perhatikan sekali lagi kalimat itu, alangkah indahnya susunan kalimat itu kawan. Kalimat itu seolah mewakili ungkapan rasa syukur rakyat Indonesia kehadirat ALLAH SWT.  Tentunya pula kita yakini bahwa kalimat itu sengaja disusun oleh para pendiri bangsa ini dalam kondisi kesadaran akal dan pikiran yang benar-benar terjaga.

Kita yakini kawan, bahwa karena atas Rahmat-NYA lah serta dengan diberengi dengan perjuangan tak kenal menyerah para pahlawan-pahlawan bangsa ditambah dengan doa yang tulus dari para rakyat-rakyat Indonesia yang telah sekian lama terzolimi akhirnya Republik ini bisa mencapai KEMERDEKAANnya. Dan kita lihat kawan, jika memang kemerdekaan bangsa ini ialah merupakan Rahmat-NYA, maka kita perhatikan sejarah membutikan bahwa Rahmat-NYA itu jatuh  tepat di salah satu bulan yang di sucikan, bulan penuh keberkahan, yaitu bulan suci Ramadhan.

Barulah kemudian setelah kalimat itu lalu disambung lagi oleh kalimat  “dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini KEMERDEKAANnya”. Jadi jika disusun secara utuh dengan kalimat yang sebelumnya, maka bunyinya akan seperti ini:

Atas Rahmat ALLAH Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Sebuah memori akan kemerdekaan bangsa ini yang jika kita perhatikan secara mendalam, sungguh begitu banyak mengandung hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik, juga sebagai wacana pembelajaran para generasi generasi bangsa yang akan datang.

Semoga kata “merdeka” yang melekat atas bangsa ini, tidaklah sekedar kata merdeka yang terdengar di telinga begitu saja, tanpa ada realisasi yang nyata akan hakikat kemerdekaan yang sesungguhnya.

Aamiin.

Salam, Septian Prima R.

Citayam, 17 Agustus 2012

Sumber gambar :

Categories: catatan perjalanan hidup | Tag: , | Tinggalkan komentar

Sebuah Pembelajaran (dari sebuah hambatan bertemu Ular Hitam)

Sebuah Pembelajaran (dari sebuah hambatan bertemu Ular Hitam)

Pagi itu jam menunjukkan +- pukul 4:40 pagi, aku terbangun kawan masih dalam keadaan mata yang mengantuk dan di iringi dengan kondisi badan yang kurang terasa bertenaga. Aku segera mengambil gelas, untuk meminum beberapa teguk air putih. Dan lantunan suara azan subuh kala itu seolah menggertakkan langkah kaki ku untuk segera bergegas menuju mushola untuk melakukan sholat subuh berjamaah. Ku paksakan untuk mengambil air wudhu sedari rumah, untuk kemudian barulah aku berangkat menuju mushola yang letaknya lebih rendah yakni di bawah pemukiman tempat tinggal ku berada.

Untuk menuju ke mushola aku harus menyusuri gang yang ada di samping rumah ku, suasana pagi itu cukup terang, karena hampir di pinggiran gang sudah terpenuhi dengan rumah-rumah baru yang dihuni oleh oleh orang-orang pendatang, kecuali ketika akan mendekati mushola, jalan gangnya berupa gundakan, dan di pinggir gangnya pun sebagian terisi dengan rumah-rumah warga, sebagian pinggirnya lagi masih merupakan perkebunan singkong yang bentuk datarannya miring dan cukup luas.

Biasanya suasana pagi itu cukup tenang lagi sejuk, tak ada halangan berarti bagi ku untuk menuju mushola, walau keadaannya agak gelap dan lengang, seperti tak ada kehidupan. Tak jarang pula di pagi subuh itu aku temukan para bapak-bapak atau pemuda yang sangat awal bergegas untuk berangkat mencari nafkah kehidupan. Dan pagi waktu subuh itu aku mengalami kejadian yang tidak seperti biasanya kawan, perjalanan di sepanjang gang mushola aku lewati dengan suasana nyaman lagi tenang, namun belum sampai aku menginjakkan kaki di mushola, sekitar berjarak -+ 3 meter aku melihat ‘tepat’ di depan pintu mushola ada seekor Ular Hitam yang sedang berkelat-kelit.

Awalnya aku lihat ular itu naik dari pinggir ubin (lantai) tempat para jamaah menempatkan sandalnya, sampai kemudian ular itu menjalar ke ubin dekat pintu mushola, aku lihat ular itu seperti kebingungan, ular itu berkelat-kelit di tempat, besarnya sebesar jari kelingking orang dewasa, geraknya lincah dan panjangnya sekitar 30-40cm dan jujur saja hal itu sempat membuat ku panik, “Astagfirullah..” ucap ku. Saat itu diri ku bingung harus berbuat apa, apakah harus membunuh ular itu langsung, atau berteriak, namun jika aku berteriak aku lihat di dalam mushola para jamaah sedang solat sunah sebelum (qobliah) subuh dengan khusuk, aku khawatir jika aku gegabah akan mengganggu kekhusuaan sholat para jamaah mushola kala itu.

Masih dalam jarak sekitar 3 meter, aku khawatir lama-lama ku perhatikan ular itu seperti ingin menghampiri ku, akhirnya aku memutuskan untuk bergerak mundur beberapa langkah, dengan tetap terus mencoba berdoa, berzikir, sambil menunggu para jamaah subuh yang mungkin akan berdatangan.. Dan perlahan ular hitam itu mulai bergerak merangsek keluar dari ubin tepat di depan pintu mushola, ku perhatikan ular itu menjalar, menelusup ke dalam tumpukan dedauan yang ada di halaman mushola, ‘seolah ular itu memberi ku jalan untuk masuk ke dalam mushola’, tanpa ambil pusing, karena dia tidak mengganggu ku, aku pun langsung saja berjalan dengan penuh kehati-hatian menuju mushola, dan Alhamdulillah.., nyatanya Allah Swt. masih melindungi ku, mengizinkan aku untuk sholat subuh berjamaah, akhirnya aku pun dapat masuk ke mushola serta melaksanakan sholat subuh dengan aman.

Sesaat setelah aku masuk ke dalam mushola, datangkah dua orang bapak-bapak yang juga baru tiba di mushola, ku perhatikan mereka masuk dengan keadaan tenang, artinya kedua bapak tersebut tidak menemui hal yang sama dengan yang aku alami sebelumnya.

Seusainya sholat berjamaah, dan ketika ingin memutuskan pulang ke rumah, aku pulang seorang diri melewati halaman mushola tempat ular hitam tadi bersembunyi. Aku memang tidak sempat menceritakan peristiwa yang ku alami sebelumnya kepada para jamaah sekalian karena aku hendak pulang lebih awal, sedangkan jamaah lain masih khusuk melaksanakan zikir seusainya sholat subuh. Sebelum melangkahkan kaki untuk menuju pulang, terlintas di pikiran ku akan bertemu lagi dengan ular hitam tadi, namun aku mencoba berprasangka baik, aku yakin Allah Swt. akan senantiasa melindungi hamba-hambanya yang berada di atas kebenaran, sekiranya kalau pun aku harus tergigit ular karena Allah Swt. menghendaki demikian, maka aku hanya bisa pasrah, aku tak lebih dari hambanya yang ingin hidup menjalani hidup ini lebih baik, aku hanya mampu memasrahkan sepenuhnya kepada-Nya.

    Dengan memanjatkan doa untuk meminta perlindungan kepada Allah Swt. Aku pun mencoba pulang ke rumah dengan tetap tenang, sambil berzikir dalam perjalanan agar terlindung dari hal-hal yang tidak di inginkan. Sungguh tak biasanya aku berjalan pulang sedari mushola dengan perasaan was-was seperti saat itu, dengan tetap memasrahkan diri sambil terus mencoba yakin dengan perlindungan Allah Swt.


    Alhamdulillah.. Walhasil.., akhirnya aku pun dapat melangkahkan kaki pulang ke rumah dengan aman, tanpa halangan yang berarti.

    Dari kejadian ini banyak pembelajaran yang bisa aku petik, terkhusus bagi diri ku pribadi untuk lebih berintrospeksi diri. Aku paham, bahwa tidak selamanya kita menjalani kehidupan ini dengan mulus, dan lancar-lancar saja, seperti halnya ketika seorang bocah kecil yang sudah terampil bermain ice skating. Pada kenyataannya, kelak suatu ketika akan ada hambatan-hambatan yang kita temui tanpa kita duga sebelumnya, entah itu dari manusia, binatang, fenomena alam, atau mungkin makhluk gaib sekalipun.

Oleh karena, pembelajaran yang sangat penting untuk kita petik dari hal ini ialah kita sebagai hamba Allah Swt. adalah sepantasnya, dan semestinya selalu memohon perlindungan (berdoa) kepada-Nya bila kita ingin bergegas keluar rumah untuk melakukan perjalanan apapun, agar kelak kita terlindungi dari segala marabahaya yang mungkin bakal menimpa kita. Karena sungguh memang Allah SWT adalah penguasa (Raja) langit dan bumi beserta isinya, hanya kepada-Nya lah kita memohon perlindungan, memohon ampun atas kesalahan-kesalahan kita, dan memasrahkan diri hanya kepada-Nya. Akhir kata, semoga kisah nyata yang saya tuliskan ini adalah dapat memberikan pembelajaran positif bagi kita semua, terkhusus bagi saya pribadi. Ya Allah, perbaikilah segala amalan kami, ampunilah kami dan Aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan makhluk-makhluk ciptaan-Mu. Aamiin..

Salam..

Septian Prima Rusbariandi

Citayam, 14&16 Juni 2012

Categories: catatan perjalanan hidup | 3 Komentar

Rehat Sejenak

Pagi itu masih di sekitar taman sederhana di areal kampus, aku lihat tetesan air jatuh berirama membasahi bebatuan, entah kawan.. air itu berasal dari mana, tapi satu hal yang pasti keberadaan tetesan air pagi itu yang juga bersamaan dengan sinar matahari pagi dalam pendengaran yang hening begitu mensejukkan suasana perasaan ini di pagi itu. 🙂

Sungguh beruntung bila kita cermati ada orang-orang yang jiwanya merasa tentram, tenang tiada diterpa kegalauan sedikitpun. Mengapa kita sebut beruntung? Karena di zaman modern seperti sekarang ini, betapa banyak orang-orang yang hartanya berimpah ruah, kesehatannya begitu fit, suasana alam sekitar yang sangat mempesona namun hal itu tidak kunjung bisa membuat jiwanya tenang. Begitulah kawan, kita sadari secara mendalam bahwa ketenangan jiwa tidak seratus persen dapat diraih oleh hal-hal keduniawian. Kita pahami atau tidak, ada unsur selain keduniawian yang menjadi obat ampuh lagi mujarab untuk mengobati hati yang teramat gelisah, melenyapkan perasaan duka yang tiada bermanfaat. Dan salah satu unsur atau obat tersebut ialah mendekatkan diri kepada Tuhan semesta alam, yakni Allah SWT dan disertai dengan keridhoan atas segala ketetapan-Nya.

 Itulah mungkin hakikat dari kebahagiaan hidup, bagaimana ketika kita sebagai manusia yang lemah ini mencoba untuk menyakini bahwa ketetapan Tuhan sudah sangat adil terhadap diri kita, jika itu yang kita yakini, masihkah ada alasan bagi seseorang untuk bersedih yang tak berdasar. Atau bahkan sebenarnya, justru karena kasih sayang-NYA lah kita masih mendapatkan kesempatan hidup, karena jika kita menuntut keadilan-NYA, kita khawatir akan dosa-dosa kita yang mungkin semestinya dibalas dengan balasan yang  sangat setimpal, sungguh kita berlindung kepada Allah SWT dari hal-hal buruk yang kadang melanda alam pikiran kita itu.  Wallahu a’lam.

Selebihnya kita ini hanya manusia biasa, terlebih saya yang masih berada dalam proses belajar, apa yang saya alami dan yang  juga saya pelajari semoga bisa bahan pembelajaran bagi kita semua, dan hanya kepada Allah SWT kita memohon ampun atas segala kesalahan dan kehilafan yang kita perbuat. Aamiin..

Kelapa dua – Depok, 29 mei 2012

source picture:

Categories: catatan perjalanan hidup | Tag: , | 2 Komentar

Perjalanan Sederhana Yang Mencerahkan Pikiran

source picture by http://www.krl.co.id


Siang itu Alhamdulillah kereta commuterline tujuan st. Manggarai cukup lengang, sedikit penumpang yang berada di dalamnya, saya pun berkesempatan untuk duduk bersama teman sambil menikmati perjalanan. Tujuan kami berpergian kala itu tak lain ialah sedikit mengurangi rasa penat sepulangnya dari kampus, saat itu setelah usai dari menunaikan shalat zuhur di mesjid kampus yang berlokasi di Depok maka bergegas berangkatlah kami. dari st. pondok cina.

Sebenarnya tujuan kami ialah ke st. Jakarta Kota, namun karena kereta commuterline yang kami tumpangi ingin mengarah ke wilayah Tanah Abang, maka kami pun harus transit alias pindah kereta di st. Manggarai beralih ke kereta tujuan Jakarta Kota.

Alhamdulillah banyak cerita menarik yang sebenarnya dapat saya ceritakan, mulai dari menikmati hidangan bakwan di pinggir peron st. Jakarta Kota. Sampai kemudian Baca lebih lanjut

Categories: catatan perjalanan hidup | Tag: | Tinggalkan komentar

Janji… Mengapa tak kau tepati?

sumber gambar : mylifemyproject.blogspot.com

Tidak sedikit dalam perjalanan hidup ini kita sering berinteraksi dengan sebuah kata sepakat yang sering kita sebut sebagai “Janji”. Dengan janji, hati kita akan merasa tenang karena dengan janji tersebut akan lahir sebuah kepastian dan jauh dari perasaan ketidakjelasan. Proses janji bukanlah sesuatu yang mudah, karena apabila seseorang telah berjanji, berarti dia telah mempunyai kewajiban untuk menepati janji tersebut.

Tapi kadang permasalah muncul ialah janji yang telah ditetapkan tak kunjung dapat di tepati, dan inilah yang kemudian menjadi sumber luapan emosi dalam diri kita. Seperti misalnya, janji untuk bertemu, janji untuk memberikan sesuatu, janji melaksanakan sesuatu, dsb.. Ketika dalam kenyataannya janji itu tidak sesuai dengan kesepakatan maka harus kita akui perasaan ini akan sedikit terluka, tetapi kita tidak boleh hanya terpaku pada pikiran-pikiran negatif. Janji-janji yang terlanggar tersebut mungkin akan lebih menenangkan diri kita jika kita melihatnya dari berbagai sudut pandang. Kita coba melihatnya dari sisi yang berbeda, sisi yang lebih positif tentunya. Dengan demikian, setidaknya rasa emosi yang meluap dalam diri kita dapat berkurang, sekaligus otak kita terhindar dari pikiran negatif yang macam-macam.

Pernah ada pengalaman pribadi, ketika saya dan satu teman saya ingin bertemu dosen pembimbing untuk menyerahkan final hasil penulisan illmiah (PI). Dalam kesepakatan antara saya dengan dosen pembimbing akan bertemu pukul 12 siang yang sebelumnya juga sudah ada janjian untuk bertemu dengan beliau diruangan kerja beliau, yang pasti masih dalam wilayah kampus. Seiring waktu berjalan, saya luangkan waktu untuk mengecek jam di handphone Baca lebih lanjut

Categories: catatan lepas septian, catatan perjalanan hidup, catatan tentang 'perasaan ' | Tag: , , | 2 Komentar

Bersepeda di Sepanjang Kota Jakarta (1)

Minggu pagi saat itu terasa berbeda dari hari minggu biasanya. Dengan sebuah sepeda gunung ukuran dewasa saya berangkat dari rumah sebelum subuh guna mengikuti acara funbike gowes bareng yang diadakan kompas, 26 juni 2011. Sengaja saya berangkat sebelum subuh bahkan sebelum shalat subuh karena saya ingin mengejar kereta ekonomi tujuan jakarta yang pertama.

Saat itu sebelum saya menuju stasiun, saya menyempatkan menjemput saudara saya, fuji namanya, agar kita berangkat pergi ke Jakarta secara bersamaan, namun saat itu dia tidak ikut acara gowes bareng melainkan untuk pergi kerja. Dan alhadulillah suasa kereta ekonomi pagi saat itu tidaklah tertalu penuh, sehingga saya bisa memasukkan sepeda dengan cukup mudah.

Berangkat dari stasiun citayam skitar pukul 4.50 tujuan perhentian saya ialah di stasiun cawang, dan telah menjadi niat saya sedari awal jika sampai stasiun cawang masih terbilang gelap, maka saya akan mencari mushola untuk menunaikan shalat subuh, dan ternyata benar, saya tiba di cawang sekitar pukul 5.35 , saya pikir masih ada cukup waktu untuk sejenak menunaikan shalat shubuh.

Setelah usai shalat, saya bergegas melanjutkan perjalanan, mengingat tempat “start” acara gowes bareng ialah bertempat di depan halaman POLDA-jl.gatot subroto. Begitu saya keluar dari wilayah st. cawang. Dengan suasana pagi yang sangat segar, dengan cahaya fajar menyingsing, terlihat cukup banyak para pesepeda yang lalu lalang, yang nampaknya mereka menuju tempat start yakni polda untuk mengikuti acara gowes bareng.

Dan saya pun tanpa menuggu lama, turut beriringan mengikuti sepeda2 lainnya menyisiri jalan Jend. Gatot Subroto. Wow.., sungguh asyiknya bersepeda dipagi hari, terlebih ketika matahari belum menampakkan cahayanya, sambil melihat lampu gedung-gedng tinggi di kota jakarta. Subhanallah. bersambung…

Categories: catatan perjalanan hidup | Tag: , | Tinggalkan komentar

Ketika Hati Telah Menjadi Gersang

Menapaki kehidupan memang selalu ditemani dengan berbagai perasaan, kadang senang dan kadang pula merasa sedih. Karena memang sudah tabiat kehidupan manusia untuk merasakan semuanya itu didunia, susah atau senang, atau diibaratkan tak bedanya warna kotak papan catur, hitam atau putih, tinggal kita yang ingin memilihnya, mau berada dijalur yang putih atau sebaliknya merelakan kehidupan dijalur yang hitam kelam.

Dalam diri manusia terdapat bagian yang mempunyai peranan yang sangat penting yang akan memberi arah kepada manusia tersebut untuk sekiranya bagaimana bersikap, ia adalah “Hati”. Bicara hati memang tak akan ada habis-habisnya, dan baginda Nabi Muhammad Saw pun pernah bersabda mengenai hati, ” ….Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati “.(Riwayat Bukhori dan Muslim) , bahkan dalam karya Al-imam Ibnu Qoyyim, dikatakan bahwa hati itu diumpamakan seperti bumi, jika dia tak pernah disirami atau dihujani dengan rahmat Allah SWT, ia akan cenderung mengering yang lama kelamaan akan menjadi gersang, ketika bumi itu sudah menjadi gersang yang tidak pernah mendapatkan air maka lambat laun jelas akan mengering daun-daunnya, layu dahannya, dan menjadi kering ranting-rantingnya. Akhirnya nilai dari pepohonan tersebut hanya untuk ditebangi dan cukuplah untuk djadikan kayu bakar yang kemudian menghasilkan nyala api yang begitu membara, jika kita kaitkan dalam realita kehidupan manusia, nyatanya memang benar nantinya hati yang gersang itu berdampak pada semakin membaranya nyala Nafsu dan Syahwat dan ujung-ujungnya manusia tersebut semakin diperbudak oleh nafsu dunia.

Dikatakan pula bahwa “shalat” menjadi salah satu sebab turunnya hujanan rahmat Allah SWT, dalam shalat jiwa  manusia akan menghadapkan muka hatinya hanya kepada Rabbnya, dengan melupakan sejenak urusan duniawi dan sebagai sarana istirahat atas segenap aktivitas dunia. Shalat  merupakan komunikasi langsung antara seoang hamba dengan Tuhannya sekaligus perjumpaan seseorang hamba dengan kekasihnya (Allah Swt.) paling tidak lima kali dalam sehari, yaitu shalat lima waktu. Dengan shalat jiwa manusia dapat mengadukan segala permasalahan, mengeluh, memohon ampun, memohon perlindungan, dan memohon semua hajat yang kita miliki. Dan Allah pasti akan mendengarkan dan menjawab segala keluh kesah hamba-Nya. Karenanya dengan shalat pula mata menjadi sejuk, hati menjadi lega, dan jiwa mendapatkan rasa aman, dan tentam. Shalat menjadi bukan lagi sebagai kewajiban yang dibebankan bagi kita namun menjadi kebutuhan diri kita yang senantiasa harus dipenuhi.

Untuk itu adalah sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk terus berusaha untuk mendapatkan hujanan rahmat Allah SWT salah satunya dengan shalat , agar hati ini senantiasa sejuk, damai, menemukan ketentraman batin dan mampu memberikan arah ke jalan yang lurus, dan tercegah untuk memperturutkan Nafsu dan Syahwat yang mungkin membawa pada kehinaan dan kebinasaan.*

Wallahu a’lam

*pustaka Fahima, Rahasia Shalat-menyingkap makna dibalik gerakan.

Categories: catatan perjalanan hidup | Tag: , , | 2 Komentar

Blog di WordPress.com.