catatan sikap yang seharusnya

Bisikan Kebaikan

Jangan begitu.., jika terlalu terjelembab dalam pahitnya masa lalu

Jangan begitu.., jika selalu menganggap bumi hanya seluas tempurung kura-kura

Jangan begitu.., jika noda-noda kehidupan malah dengan sengaja ditumpukkan

Jangan begitu.., jika kesempatan emas yang nampak di depan mata musti terbuang percuma

Janganlah begitu.., duhai hati kecil yang malang..

Mari kita belajar bersama, tentang bagaimana mestinya kita arungi kehidupan ini.. 🙂

(spr_citayam, 21-11-2012)

Categories: catatan sikap yang seharusnya | Tinggalkan komentar

Lumpur Hati

Sekian lama hati tiada tersentuh oleh cahaya

Begitu gelap hampa menyeruak dalam kekosongan

Nafsu menyelusup hina memperbudak jiwa

Oh.. alangkah menyesalnya…

Ketika hati terlalu lama terbungkus lumpuran-lumpuran hitam

 

spr_23 (Citayam, 21 nov 2012)

Categories: catatan sikap yang seharusnya | Tinggalkan komentar

Dendam (Negatif) yang Melahirkan Sebuah Kekalahan

Dendam (Negatif) yang Melahirkan Sebuah Kekalahan

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai bangsa lain walau seburuk apapun keburukan yang pernah dilakukan negara tersebut. Justru akan menjadi sangat rendah rasanya kita ketika kita justru menghina, melakukan provokasi, melecehkan bangsa tersebut, padahal mungkin boleh jadi mereka-mereka yang dihina itu tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan  keburukan yang dibuat oleh (oknum) bangsa tersebut. Benar-benar saya merasakan kegemuruhan suasana stadion utama Gelora Bung Karno, saat timnas U-23 Indonesia melawan timnas U-23 malaysia dalam acara Seagames ke-26 pada tanggal 17 nov 2011 kemarin. Antusiasme pendukung dari semua lapisan masyarakat yang begitu kental terasa, membaur bersatu padu hanya untuk memberikan dukungan penuh terhadap timnas U-23 Indonesia.

Dapat dikatakan pertandingan pada malam itu merupakan pertandingan historikal karena merupakan pertandingan akan menjadi pertandingan bersejarah yang sangat di tunggu-tunggu oleh sebagian besar pendukung timnas Indonesia. Pertandingan antar kedua negara tetangga, yang selalu akan bertemu pada saat event-event penting dalam sebuah kompetisi antar negara, khususnya dalam cakupan wilayah Asia Tenggara. Ketika sesaat kick-off pertandingan akan dimulai, satu persatu bangku-bangku di seluruh penjuru stadion mulai terisi. Warna merah seolah membanjiri tempat duduk stadion. Lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang dilantunkan semakin menambah suasana semangat menggelora untuk memberikan dukungan kepada tim kebanggaan. Dan ketika bunyi peluit dinyaringkan tanda dimulainya pertandingan, gelora semangat itu semakin menjadi-jadi, stadion GBK riuh hiruk pikuk begitu ramai dan tak henti-hentinya Baca lebih lanjut

Categories: catatan sikap yang seharusnya, catatan tentang opini pribadi | Tag: , | 1 Komentar

Ini Kisah Pemimpin yang Peduli Nasib Rakyatnya

Bermula ketika saya membaca buku berjudul “kecerdasan ruhaniah”, sempat saya membaca mengenai empati seorang pemimpin yang begitu besar kepada rakyatnya, beliau adalah Umar Ibnul Khaththab r.a. Diceritakan dalam buku tersebut bahwa sang kahalifah Umar tampak menggigil karena tidak memakan gandum dan minyak samin hampir satu bulan lamanya. Ada seseorang yang bertanya kepadanya, “Wahai Amirul Mukminin, betapa seorang Amir seperti engkau terliat sangat lesu, wajahmu pucat dan hanya makan roti kering. Engkau kelihatannya sedang menyiksa diri. Padahal, dengan kekuasaanmu, engkau hanya tinggal meminta kepada kas negara (baitul mal).” Umar menjawab, “Bagaimana mungkin aku menjadi pemimpin rakyat bila tidak merasakan derita yang mereka rasakan?” *

Sungguh ini merupakan cerita yang dapat menginspirasikan kita semua sebagai jiwa manusia. Sangat berbanding terbalik bagi kebanyakan pemimpin-pemimpin negara di dunia sekarang ini, ada seorang pemimpin yang dengan penuh keikhlasan turut merasakan apa yang diderita oleh rakyatnya. Sosok pemimpin seperti inilah yang semestinya di contoh oleh pemimpin-pemimpin zaman sekarang. Khalifah Umar yang notabene juga belajar banyak dari baginda Nabi Muhammad SAW, memberikan contoh yang sebenarnya patut ditiru oleh generasi-generasi penerusnya. Kita pun sesungguhnya merasa sangat heran, justu mayoritas pemimpin sekarang ini lebih cenderung tampil dengan segala kekuasaannya, padahal kita sadari bersama kekuasaannya itu hanyalah bersifat sementara, bahwa sejatinya ada amanah besar yang melekat di punggung para pemimpin-pemimpin tersebut untuk sekiranya dapat melayani rakyatnya sebaik mungkin, bukan malah menghiraukan rakyatnya yang sedang dilanda berbagai polemik. Semoga dikemudian hari di kolong langit ini, muncul Umar-umar baru yang mampu meneladani sifat empati yang begitu tinggi kepada rakyatnya, berakhak mulia yang mampu melayani umat muslim khususnya. Amin.

* (K.H Toto Tasmara, Kecerdasan Ruhaniah, hal 35)

Categories: catatan sikap yang seharusnya, tokoh | Tag: | Tinggalkan komentar

Budaya mencontek

Oleh : Wahyu Jatmiko
Ketua Umum Kesatuan Pelajar Muslim Depok –KPMD-

“Sesungguhnya islam terlihat karena umatnya, umatnya terlihat karena pemudanya, pemudanya terlihat karena kebaikan akhlak dan aqidahnya”

Mungkin air mata mengalir mewarnai kekecewaan para pendahulu kita bila melihat keadaan para pemuda pada hari ini. Begitu besar harapan mereka terhadap kita, namun begitu mudahnya kita berbelok dari jalan lurus yang telah Allah SWT gariskan. Sungguh islam terlihat karena pemudanya, dan pemudanya akan terlihat karena akhlaknya. Ketika Aqidah, sikap, perilaku yang ditampilkan oleh para pemuda islam baik, maka akan baiklah islam. Namun sebaliknya, bila pemudanya tidak baik maka kehancuran dekat dengan agama yang diridhoi Allah ini. Betapa sedihnya kita menyaksikan kini, pemuda yang seharusnya menjadi sosok sentral dalam perjuangan islam justru terjerat oleh perhiasan – perhiasan dunia yang menipu. Sering mengorbankan akhiratnya yang begitu indah, untuk mendapatkan keindahan dunia yang fana dan menipu. Tidak sadarkah kita izzah (kemuliaan) islam berada dipundak kita. Baca lebih lanjut

Categories: catatan sikap yang seharusnya | Tag: | 2 Komentar

Blog di WordPress.com.