sejenak berpuisi

Luapan Kerinduan

Kemarilah kau, kesini berbincang dan bercengkrama dengan ku

Engkau manusia-manusia yang pernah baik dengan ku

Aku teramat berasa berhutang tentang kebaikan-kebaikan yang pernah terukir

Taukah kau jika ku sedang merindukanmu

Ketika ku tengah seorang diri di sini

Merenungi rentetan perjalanan hidup yang sudah terlewatkan

Kelak kita ini akan berpisah untuk sementara

Namun untuk waktu yang cukup lama

Untuk kemudian kita ini akan dihidupkan kembali di alam yang berbeda

Alam yang mana keberuntungan kita disana itu

Sangatlah tergantung dengan amalan kita semasa hidup di DUNIA ini

Dunia yang fana, penuh dengan tipuan..

Yang apabila kita lengah sedikit,

Sungguh kita akan terpuruk, terjerumus..

Oh.. Betapa menyesalnya kita jikalau demikian

Semoga kita selalu dalam naungan Rahmat, karunia serta Taufiq Hidayah-Nya

Aamiin Ya Rabbal’Aalamiin

* citayam – pukul 23:10 wib, ‘kamis malam ketika adik-adik ku sudah tertidur nyenyak’  12 – 04 – 2012



Tentang Dunia yang Pernah ku Singgahi

Suasana dipagi hari yang memancarkan kedamaian,
Membawa pandangan menembus langit biru tanpa halangan awan,
Patutlah manusia itu bersyukur atas anugerah yang Tuhan berikan,
Kehadirat Rabbnya yang senantiasa menunjukkan jalan kebenaran,
Jalan yang akan menjadi bekal bagi kehidupan dimasa depan,
Manusia sebagai makhluk yang cenderung lupa atas dosa-dosa yang pernah dilakukan,
Entah mengapa ingatannya hanya terfokus pada semunya fatamorgana keindahan,
Untuk kemudian ada yang terpelosok kedalam lubang penyesalan,
Tapi inilah dunia yang pernah ku singgahi kawan,
Kadang saat-saat seperti itu pernah pula kita rasakan,
Kini marilah kita berkumpul bercengkrama sejenak kawan,
Menanti…
Sambil sedikit berbincang berfikir bagaimana memperbaiki hidup yang telah kita lewatkan,
Agar tiada lagi penyesalan disaat amalan kita sampai pada waktunya untuk diperhitungkan.

Septian Prima Rusbariandi

Citayam, 4 JUNI 2010

(ditulis setelah sejenak bermain dengan adik ku yang ke-3 (Sayyid Aqil Siraj) )

🙂

Berharap Karunia-Nya

Orang itu seperti buta

Bukan buta matanya

Melainkan sebaliknya

Ialah hatinya yang buta

Kegelapan menemani hatinya

Ilmu pun menjauh darinya

Sampai kemudian hatinya bingung

Lalu tersesat…

Karena  tak tau arah dan tujuan

 

Setelah sadar  ia telah tersesat

Serta bosan dengan dengan rutinitas kesesatannya

Kini barulah ia berharap cahaya terang

Guna mengarungi jalannya yang buram

Rindu rasanya ia berkumpul bercerita

Membaur bersama hati yang sehat

Hati yang senantiasa disirami rahmat-Nya

Selalu dalam naungan taufiq dan hidayah-Nya

 

Hingga tiba saatnya hati itu bisa tersenyum kembali

Merasakan kedamaian kehadiran ilmu yang barokah

Ia pun Tunduk dan bersyukur  mengakui  karunia

Akan segala limpahan nikmat dan karunia-Nya

Dan sungguh tak seorang pun, tak satu pun zat

Dalam kerajaan semesta alam raya ini

Yang mampu menandingi kebesaran-Nya

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

by : Septian Prima Rusbariandi

🙂

Antara Doa dan Perjuangan


Ku lantunkan segala isi hati
Tak tertulis, tak jua bertepi
Merintih sekejap dalam kehiningan sujud
Menentramkan jiwa ini, bak tentramnya telaga Kautsar

Urat berselimut mesra dalam darah
Berpadu, merenggang mengangkat tangan
Mata hati berbicara lirih
Menghanturkan rintihan doa melintasi pintu-pintu Sidratul Muntaha

Qolbu ini buta untuk bisa mengetahui
Apa-apa rahasia ilahi yang tersembunyi
Hanya keimanan mampu menguatkan
Keyakinanku tentang keberadaan Sang Khaliq

Keringat berteman kulit
Tersenyum mereka menatap kerasnya hidup
Mengiringi derasnya arus kehidupan
Tak peduli kemarin, sekarang ataupun nanti

Debu sebagai saksi tanpa saksi
Yang melekat pada raga ini
Semakin memompakan kobaran semangat
Hidup mengabdi, bagi Agama, bagimu Negeri

Wahai Ibu yang senantiasa mengajari ku berjalan
Wahai Ayah yang senantiasa mengajari ku bersikap
Tak letih ku mengharap ridho mu
Karena ridho mu, ridho Allah SWT Swt. jua

Cukuplah baginda Nabi Muhammad saw,
Sebagai suri tauladan bagi sekalian anak Adam
Begitu pula sinar hidayah Al-Quran dan Al-Hadist,
Moga selalu menerangi buramnya jalan umat manusia

Biarkan aku berjalan berjuang dalam kegelapan bulan
Mengerutkan alis, menajamkan tatapan mata
Berpetualang tak berjejak menelaah kebesaran Tuhan
Demi menggenggam pelajaran dikemudian zaman

Gentarku hanya ada dalam mimpi
Berpegang Doa, ku telusuri hidup ini
Betapa sungguh, suatu ajal tak ada arti
Jika hidup tanpa hiasan Perjuangan hakiki

Dan….
Kesempurnaan Perjuangan ini terasa begitu sepi
Jikalau Doa….,
Terlalu lama untuk tidak menghampiri….

Citayam, 17 september 2009
Septian Prima Rusbariandi

Luka Qolbu Ku

Sedih… mengapa begitu jauh diri ini
Sampai rasanya malaikat pun enggan mendampingi
Tak rela hati ini terkoyak
Tiada tega tercabiknya ruang keyakinan ini

Terheran jiwa ini menatap tangan yang begitu gemetar
Terbawa bisikan merayu mengajak kejahiliahan
Kealpaan bersujud dalam keheningan malam
Merelakan qolbu terhanyut tipudaya dunia

Merunduk batin ku mengakui segala dosa lampau
Merenungi beribu kesalahan, beribu kehilafan
Malu bersandar takut mengintai setiap waktu
Akan kematian yang mungkin tinggal menunggu

Lucu Rasanya, mengeluh hanya karena terlalu letih
Di tengah medan perjuangan itu
Wahai hati kecil...
Sadarlah! kita baru mengarungi seperempat jalan

Ingat ku akan kutipan mendalam sebuah buku,
Buah hasil karya Imam Al-Ghazali yang berbunyi,
“Mengeluh kepada sesama manusia adalah kehinaan”

Ridhoilah perjalanan hidup hamba ini
Agar hidup dan mati ku semata hanya karena-Mu Ya Rabb

Citayam, 7 november 2009
Septian Prima Rusbariandi

Dia

di pantai bersuarakan deru ombak,
mimik ini tersenyum kecil,
senyum yang mungkin berbeda,
dari senyum-senyum lainnya,
yang mungkin belum pernah ada sebelumnya,
menatap pesona kebesaran alam ini,
terdiam bergandeng senyum diri ini,
melihat bocah kecil yang bermain-main,
tanpa teman...
tapi masih dapat terhibur,
oleh ombak-ombak kecil,
yang seolah ingin bergurau,
menghampiri mata kaki bocah itu.

jarum waktu terus berputar,
mencermati tawa kecil bocah itu,
mengingatkan diri ini,
akan kenangan masa lampau,

kini nasi telah  menjadi bubur,
semakin mengeruhkan masalah, jika harus disesali,
berbicara tentang dia…
anggap saja itu sebuah pelajaran,
sebuah pembelajaran kecil…
yang Sang Khaliq berikan kepada diri ini.
walau memang sesungguhnya harus disadari,
bahwa itu merupakan salah satu bentuk dosa,
yang berawal dari ketidaktahuan,
akan bagaimana seharusnya bersikap.

melawan apa yang disebut keterbatasan,
mengagumi segala apa yang kita lihat,
kita dengar, atau mungkin kita rasakan,
menyeburkan diri ke telaga tantangan,
rasanya ialah lebih nyaman,
ketimbang harus lari terbirit,
lari dari medan tantangan itu,
terjun bebas ku terasa lebih lepas,
jika memilih berjibaku dengan segala kesempatan,
kesempatan yang mungkin tak akan pernah datang lagi.

Citayam, 16 november 2009

Septian Prima Rusbariandi

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: